Home / Berita Terkini / Hikmah COVID-19 (I) : Inspirasi Slavoj Žižek dan Yuval Noah Harari

Hikmah COVID-19 (I) : Inspirasi Slavoj Žižek dan Yuval Noah Harari

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) bekerja sama dengan UNPAR Plus menyelenggarakan Webinar  Extension Course Filsafat (ECF) bertajuk “Covid-19: A Philosophical Reflection” pada Jumat (15/5/2020). Untuk pertama kalinya, kegiatan rutin  ECF yang lazimnya dilakukan tatap muka diselenggarakan secara online. Diskusi pembuka ini dipandu oleh Dr. Y. Slamet Purwadi dengan mengundang narasumber Guru Besar Fakultas Filsafat Unpar Prof. Dr. Ir. I. Bambang Sugiharto.

Webinar ini bertujuan untuk memberikan arahan bagaimana kita harus bereaksi dan merespon semua kejadian yang sedang terjadi di masa pandemi COVID-19. Bambang menuturkan bahwa situasi ini merupakan momen yang penting untuk manusia secara global dan baik untuk direnungkan signifikansi dari situasi ini kedepannya. Kegiatan ini akan membahas pandemi dari perspektif Yuval Noah Harari dan Slavoj Žižek.

The World After Coronavirus

Yuval Noah Harari dalam tulisannya yang berjudul “The World After Coronavirus” berfokus kepada bukan hanya bagaimana mengatasi ancaman virus hari ini, melainkan dunia macam apa yang ingin kita bentuk dan tinggali sesudahnya.

Pertimbangan yang dapat dikutip setidaknya ada tiga. Pertama, banyak tindakan darurat dan tanpa pertimbangan matang (yang kini kita maklumi) bisa dimanipulasi menjadi aturan tetap di masa depan. Kedua, lebih memilih pemberdayaan warga dibanding pengawasan-totaliter dengan catatan-catatan tertentu. Terakhir, lebih memilih solidaritas global dibanding isolasi nasional dalam artian antar negara saling bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Pandemic

“Pandemic” adalah buku yang ditulis oleh Slavoj Žižek. Slavoj berfokus pada fakta bahwa dalam krisis COVID-19 ini bangsa manusia ternyata panik dan tidak siap untuk mengatasinya bersama. Hal ini menunjukkan kita membutuhkan perubahan radikal dalam sikap mental dasar maupun kinerja sistemik global – membutuhkan ke-’normal’-an baru (norma dan komitmen nilai baru).

Banyak persoalan yang dibahas dalam karyanya. Pertama, sikap berjarak/WFH menyadarkan pada paradoks bahwa justru dengan berjarak maka manusia makin tersadar akan pentingnya orang lain. Kedua, pola lama perlu dibongkar sebab kita menghadapi banyak paradoks. Ketiga, kebaikan dari kondisi ini adalah manusia sama-sama terinfeksi oleh kesadaran bahwa perlunya perubahan radikal dan global. Slavoj berpesan melalui karyanya bahwa dalam situasi ini diperlukan sikap solidaritas dan koordinasi global, bukan barbarisme brutal serta primitif.

Prof. Bambang menuturkan “Situasi krisis ini bagus untuk menguji tingkat keadaban bangsa manusia yang faktanya secara umum masih di level survival paling rendah. Terutama bila krisis ini dipolitisasi. Dengan demikian krisis ini adalah peluang bersama untuk naik ke level kesadaran-nilai lebih tinggi yaitu kemampuan kerjasama global dalam kreativitas yang saling peduli.” Bersama Žižek, beliau berharap agar melalui krisis COVID-19 semua manusia “terinfeksi” oleh kebutuhan untuk naik ke level kesadaran lebih luas dan lebih universal. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)