Home / Alumni / Generasi Muda Parahyangan Dukung Pemberantasan Korupsi

Generasi Muda Parahyangan Dukung Pemberantasan Korupsi

Jumat (9/2), Aula Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar) dipadati oleh muda-mudi Parahyangan. Mereka berkumpul untuk menunjukkan kepedulian dan dukungan mereka akan pencegahan dan pemberantasan korupsi dalam acara Seminar Nasional Pencegahan Korupsi untuk Generasi Muda. Acara ini terselenggara atas kerja sama antara Tim Rekam Sidang KPK Unpar dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH).  

Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Aktif Generasi Muda dalam Pemberantasan Korupsi” ini mengundang empat orang pembicara yang memiliki kompetensi dan aktif dalam melawan korupsi, yaitu Saut Situmorang (Wakil Ketua KPK), Rama Fabianus Sebastian Heatubun, Pr.,Drs.,SLL (Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora Unpar), Agustinus Pohan (Dosen FH Unpar) serta Lalola Easter Kaban (Peneliti Indonesian Corruption Watch dan alumnus FH Unpar). Acara dimoderasi oleh dosen senior FH Unpar, Ismadi Santoso Bekti.

Pemaparan dan diskusi tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa dari FH Unpar, namun juga siswa-siswi dari SMA di Kota Bandung, seperti SMA Santa Maria, SMA BPK Penabur, dan SMA Trimulia. Acara yang berlangsung selama tiga jam ini diikuti dengan antusias oleh hadirin.

Membuka pemaparan siang itu, Saut Situmorang menjelaskan bahwa pemuda, khususnya mahasiswa, dapat berperan aktif dalam mencegah dan memberantas korupsi. “Peran aktif tidak bicara yang tinggi-tinggi,” lanjutnya, dimulai dengan menumbuhkan integritas dan egalitarian, yang kemudian disebarkan kepada orang lain. “Ketika kita sudah egaliter, kita harus tunjukkan (sikap) egaliter kita sama orang lain!” tegasnya.

Rama Fabi Kepala LPH Unpar, memaparkan pandangannya berdasarkan studi kasus korupsi di Italia pada era 90-an. Italia yang identik dengan ‘kiblat’ bagi Umat Katolik menjadi negara yang dirusak oleh korupsi. “Rusak itu ditandai oleh ‘Dark Triad’”, jelasnya, merujuk pada narcissism, Machiavellianism, dan psychopathy. Karakter ini, menurutnya, adalah hal yang harus dilawan agar mencegah munculnya sikap korup di kalangan anak muda.

Mewakili akademisi Unpar, Agustinus Pohan menyatakan bahwa korupsi adalah kejahatan, bukan hanya terkait kegiatan korupsi itu sendiri, melainkan juga menyebabkan terhambatnya kemajuan bangsa. Contohnya, proyek strategis negara yang dikorupsi tidak bisa lagi dinikmati oleh masyarkat. “Inilah ekses dari korupsi: menimbulkan kerusakan,” katanya. Sebagai masyarakat yang dirugikan, pemuda dan mahasiswa harus berani melawan korupsi.

Sebagai penutup, peneliti ICW, Laola Kaban, mengajak para pemuda untuk memahami korupsi secara menyeluruh. Selain itu, ia juga mengajak generasi muda untuk bergerak mengawal penyelenggaraan negara. “Itulah pentingnya mengapa kita harus, harus, dan harus menguasai informasi.” Ia berpendapat, dengan penguasaan informasi dan kualitas sebagai akademisi, mahasiswa memiliki kekuatan untuk menjadi agen perubahan. “Jangan merasa berada di menara gading. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan,” pesannya.

Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki andil besar dalam memerangi korupsi. Melalui kegiatan seminar, diskusi, dan kegiatan lain yang serupa, generasi muda mampu memahami buruknya perilaku korup, menumbuhkan kepedulian anti-korupsi, dan yang terpenting mampu bergerak mencegah dan memberantas korupsi.