Geladi “Formatio” ala UNPAR

Oleh: Andreas Doweng Bolo, S.S., M.Hum. (Dosen dan Ketua Pusat Studi Pancasila UNPAR)

UNPAR.AC.ID, Bandung – Pandemi membuat manusia harus mengubah berbagai kebiasaan termasuk juga di dunia pendidikan. Pendidikan yang selama ini berlangsung di ruang-ruang kelas harus bergeser ke ruang-ruang virtual (maya). Mungkinkah aspek pengetahuan dan keutamaan nilai-nilai hidup bisa tumbuh dari ruang virtual tersebut?

Inilah yang menjadi pertanyaan sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan pada umumnya dan pendidikan tinggi pada khususnya. Pertanyaan itu juga yang coba dijawab dengan pemikiran, tindakan, dan strategi agar hakekat pendidikan tidak hilang di tengah situasi ini.

Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan (LPH UNPAR) yang berada dalam koordinasi dengan Fakultas Filsafat UNPAR dan dipercaya menangani Mata Kuliah Umum (MKU)/Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) juga tertantang dan mengatur strategi pendidikan bagi para mahasiswa kader bangsa dan negara. Bagaimana menerjemahkan visi kebertuhanan, kemanusiaan, kebangsaan dan penghormatan pada segenap alam ciptaan sebagaimana sesanti UNPAR “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” (Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat) di masa pandemi ini? 

Geladi Spirit Paidea

Di tengah situasi ini ternyata segenap sivitas akademika UNPAR tetap bergiat mengasah diri baik di bidang kognitif, afektif, psikomotorik. Hal ini bisa dilihat dari  proses pendidikan di UNPAR yang terus berjalan termasuk juga kegiatan geladi (hominisasi, humanisasi, dan divinisasi). Kegiatan geladi secara daring (online) terus berlangsung dan tetap diikuti oleh lebih kurang  4.000-4.500 mahasiswa satu semester dengan beberapa kali termin. Ternyata pandemi tak menyurut semangat “menggali pengetahuan” dan “mencari kebenaran” sebagaimana penggalan syair Mars UNPAR. 

Geladi merupakan bagian dari pendampingan yang terintegrasi dengan MKU/MKWK di UNPAR. MKU di UNPAR dikelola dengan mengikuti tiga tahap perkembangan manusia pada umumnya yaitu tahap hominisasi, humanisasi, dan divinisasi. Tahap pertama, hominisasi merupakan tahap awal pengenalan diri (learning to know) sebagai manusia (mahasiswa angkatan pertama). Pengenalan diri ini berkaitan dengan kesadaran diri sebagai makhluk berpikir (ens ratioanale), sosial (homo socius), dan berbahasa (homo symbolicum). Di UNPAR ketiga kesadaran dasar ini direfleksikan dalam mata kuliah Logika (rationale), Pendidikan Kewarganegaraan (socius), dan Bahasa Indonesia (Symbolicum). 

Tahap kedua humanisasi merupakan tahap pembatinan nilai-nilai (to be). Setelah mengikuti tahap kesadaran diri mahasiswa belajar mengendapkan nilai-nilai tersebut agar menjadi bagian integral dari dirinya. Tahapan ini di UNPAR berkaitan dengan mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Etika Dasar. 

Tahap ketiga divinisasi, pada tahap ini manusia tak hanya terbuka pada diri dan sesama tetapi juga terbuka terhadap Tuhan, Allah, Yang Transenden. Ia sejatinya adalah ke-Indah-an yang tak terpermanai. Di UNPAR pembelajaran untuk tahapan ini berkaitan dengan mata kuliah Pendidikan Agama (Fenomenogi Agama) dan Mata Kuliah Estetika. 

Tiga tahap ini menjadi basis perkembangan manusia utuh manusia yang cerdas, berbudi, dan terbuka untuk terus mencari kebenaran termasuk Kebenaran dengan K-besar. Semuanya ini sejalan dengan Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU)

Dengan mengedepankan aspek mencari dan merefleksikan kebenaran lintas disiplin ilmiah pembelajaran MKU dikelola dengan sistem menggabungkan para mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi. Harapannya agar dipupuk sikap akademik yang terbuka untuk tidak terkungkung dalam kebenaran hanya dalam satu sudut pandang ilmiah semata. 

Ini sekaligus menjadi pencerminan MKU sebagai artes liberales pendidikan yang memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah sebagaimana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Dalam khazanah Yunani Klasik pendidikan untuk orang dewasa disebut “paidea” (seni mendidik). Paidea ini unik dan istimewa tak hanya olah “otak” tetapi juga olah fisik melalui gymnastic dan olah jiwa atau kepekaan hati melalui musik. Para Sofis dan juga Plato (lebih kurang 427-348 SM) mempunyai andil besar dalam pengembangan artes liberales untuk mencapai keutamaan (arete) yang disebut Trivium (tata bahasa, retorika, dan logika) dan Quadravium (berhitung/matematika, geometri/ilmu ukur, astronomi dan musik. Werner Jaeger (1888-1961) professor filsafat Yunani dan Klasik University of Chicago mengatakan bahwa seluruh pendidikan Barat yang maju dan canggih berakar dari bangunan filsafat Yunani ini.

Pendidikan MKU UNPAR juga antara lain berangkat dari basis pemikiran paidea Yunani di atas. Sistem ini juga sebenarnya diupayakan oleh Ki Hadjar Dewantara dengan enam metode “among”. Dua diantaranya yaitu pengajaran (ruang kelas dengan penekanan pada aspek kognitif) dan pengalaman lahir, batin/pengalaman sehari-hari (B.Samho, Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi, Kanisius 2015:79). 

Geladi merupakan arena pelatihan dimana para mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan bertemu dan belajar bersama. Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa didampingi oleh dosen dan tim pendamping LPH UNPAR. Pengetahun yang telah dipelajari di ruang-ruang kelas dipadukan dengan pengalaman peserta didik di ruang publik Indonesia. Pengalaman ini yang kemudian dibincangkan dengan sesama mahasiswa  di kelompok dalam breakout rooms dan kemudian diekspresikan dalam kreativitas dengan bahasa dan konteks mahasiswa. 

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Tema-tema yang dibincangkan dalam kelompok kecil dan besar mulai dari perihal kebangsaan (nasionalisme), keragaman budaya, kontroversi sejarah bangsa, konflik agama/suku/ras, kemajuan zaman, teknologi informasi yang berkembang masif, globalisasi dan sebagainya. Tema-tema itu dipotret baik di ranah kognitif tetapi juga di medan pengalaman para peserta dididik. 

Geladi merupakan sebuah upaya kecil dalam sistem pendidikan di UNPAR untuk mengisi ruang hidup para mahasiswa. Sehingga generasi muda harapan bangsa ini selain memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas dan canggih juga memiliki kemampuan menata diri pribadi, berelasi dengan sesama, dan terbuka pada Tuhan dalam pencarian abadi umat manusia.

Berita Terkini

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

Mengendalikan A.I. di Era A.I.

UNPAR.AC.ID, Bandung - Hampir semua orang di dunia sudah familiar dengan teknologi Artificial Intelligence (A.I.) pun menggunakannya. Artificial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial adalah mesin (komputer) yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak...

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

Prodi Studi Humanitas UNPAR Terakreditasi Baik BAN PT

https://www.youtube.com/watch?v=tPoNEuVdlLc UNPAR.AC.ID, Bandung – Program Studi Studi Humanitas Universitas Katolik Parahyangan telah memenuhi peringkat akreditasi “Baik” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tertanggal 23 Januari 2024. Peringkat...

Kontak Media

Divisi Humas & Protokoler

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Mar 17, 2022

X