Fratelli Tutti, Membangun Persaudaraan Tanpa Sekat

Pada Oratio Dies Natalis ke-66 Universitas Katolik Parahyangan yang diselenggarakan Senin (18/1/2021), Dr.theol. Leonardus Samosir OSC. mengingatkan kembali akan pentingnya membangun persaudaraan tanpa sekat. Orasi yang judulnya menyadur pada Ensiklik “Fratelli Tutti” ini menyoroti pentingnya kerja keras mencapai perdamaian sosial yang didasari kasih sebagai dasar ajaran Gereja Katolik.

Pastor Leo selaku Dekan Fakultas Filsafat Unpar mengawali orasinya dengan memaparkan “Kultur Perjumpaan”, sebagaimana diumpamakan dalam perikop Orang Samaria yang Baik Hati. Melalui kisah ini, Ia menjelaskan bagaimana perjumpaan merupakan pengakuan akan yang lain tanpa sekat, yang lebih lanjut membutuhkan kasih yang universal. Hal ini makin penting melihat perkembangan zaman kini, yang ditandai dengan berbagai hal seperti globalisasi, egoisme kolektif, mentalitas ‘sekali pakai – buang’, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang digarisbawahi oleh orator. Pertama, perlunya perhatian pada power institusional, khususnya dalam bidang politik, dalam memahami kompleksitas masalah ini. Kedua, bagaimana menanggapi relasi antara Gereja dengan “yang lain”. Selain itu, ia juga mengingatkan potensi pluralitas sebagai sumber konflik baru tanpa adanya pendekatan sosial spiritual yang tepat.

Dan terakhir, Pastor Leo mengajak hadirin merefleksikan pesatnya perkembangan teknologi masa kini berkenaan dengan martabat manusia. Meski manusia adalah creator dan co-creator dari teknologi, tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan teknologi menimbulkan potensi manusia menjadi “sampah” karena tertinggal dalam perkembangan pesat tersebut. Orator mengemukakan pentingnya etika dan nilai yang dikawal, seperti oleh Agama, dalam menentukan arah dan keikutsertaan manusia dalam kemajuan teknologi tersebut.

Catatan Bagi Unpar

Melihat perkembangan dunia saat ini, Pastor Leo memberikan dua catatan penting bagi Unpar. Unpar sebagai sebuah  “Komunitas Akademik” perlu dimaknai sebagai sebuah “communio”. Artinya, kebersamaan dalam Unpar perlu didasari oleh nilai, aturan secara spiritual dan kuat. Sehingga, visi Unpar sebagai komunitas yang melahirkan orang yang berperan pada pengembangan ilmu dan terjun dalam masyarakat dapat tercapai.

Selanjutnya, capaian Unpar dalam mewujudkan cita-cita luhur “menjadi besar dan internasional” (Go Great and Go International). Orator berharap agar Unpar tak hanya berkaca dan meniru dari dunia luar, tetapi membuat pengetahuan aplikatif serta menyumbangkan sesuatu yang glokal (global – lokal) bagi dunia.

Menutup orasi, Pastor Leo kembali kepada Ensiklik Fratelli Tutti. Relasi antar manusia sebagai kekhawatiran utama ensiklik perlu dikaji dan dijawab dalam nilai “kasih yang universal” sesuai konteks masa kini. Tentunya, fenomena dunia ini harus dipelajari bersama melalui beragam perspektif.

Tanggapan

Dr.rer.nat. Cecilia Nugraheni dan Prof. Bambang Sugiharto menanggapi Orasi “Fratelli Tutti”

Terhadap orasi ilmiah tersebut, Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS) Unpar Dr.rer.nat Cecilia Esti Nugraheni membahas bagaimana relasi antar manusia yang damai dibawa dalam konteks Komunitas Unpar. Unpar adalah Communio, dengan insan-insan yang memiliki perannya masing-masing. Kini, perlu direfleksikan sejauh apa relasi insan Unpar dalam komunitasnya, apakah sudah mampu menjadi ‘saudara’ atau hanya sebatas berkenalan. 

Keterbukaan dan kolaborasi di dalam maupun di luar Unpar, menurutnya, perlu ditingkatkan. Unpar juga perlu terlibat dalam mewujudkan relasi persaudaraan yang baik di tengah masyarakat dunia, khususnya melalui lulusan yang menghidupi nilai Sindu. Berkaitan dengan peran kreator teknologi, Dr. Cecilia menegaskan pentingnya menanamkan prinsip etis dalam diri lulusan selaku para pencipta.

Selanjutnya, Prof. Bambang Sugiharto dari Fakultas Filsafat Unpar menyoroti prinsip persaudaraan sebagai intuisi insani yang tertanam dalam diri manusia. Dengan perkembangan teknologi yang harusnya mendekatkan, manusia justru menciptakan kultur ‘tembok’ yang membatasi diri. Munculnya kontradiksi inilah yang menyebabkan persaudaraan semakin penting.

Daripada berkutat pada problematika identitas, Prof. Bambang mengajak masyarakat untuk berpikir akan kemanusiaan bersama. Yang menjadi penting adalah nilai, bukan dogma maupun aturan. Nilai kasih sebagai nilai universal perlu dijunjung tinggi dalam hal ini. Terakhir, kita harus mampu melihat perbedaan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang bersama. (DAN – Divisi Publikasi)