Home / Berita Terkini / Filsafat Kebudayaan dan “Culturepreneurship”

Filsafat Kebudayaan dan “Culturepreneurship”

Kebudayaan bisa dikatakan sebagai pencapaian terbesar manusia–sebagai bagian dari sebuah masyarakat. Berbagai rupa kebudayaan, yang tampak maupun tidak (tangible dan intangible) menjadi identitas yang khas bagi masyarakat tersebut. Tidak hanya identitas yang membedakan komunitas satu dan yang lain, tetapi juga menjadi pembeda antara kita sebagai manusia dan makhluk hidup lain.

Seiring kemajuan ilmu serta kemudahan akses informasi, orang dengan cepat mendapatkan pengetahuan akan kebudayaan masyarakat lain. Informasi ini menciptakan keinginan individu untuk merasakan dan memahami rupa kebudayaan yang beragam. Hal ini memunculkan kesempatan ekonomi dan sosial yang baik bagi masyarakat melalui kewirausahaan budaya atau culturepreneurship, industri budaya yang inovatif.

Kewirausahaan bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Jiwa wirausaha telah dikenalkan sejak dini melalui pendidikan, berlanjut hingga perguruan tinggi. Berbagai bentuk kewirausahaan telah dikenal luas, termasuk wirausaha teknologi (technopreneur) hingga wirausaha sosial (sociopreneur) dan wirausaha kreatif (creativepreneur).

Kajian filsafat

Proses terciptanya kebudayaan serta usaha-usaha melestarikannya adalah fenomena yang menarik untuk dikaji. Ilmu filsafat menjadi salah satu bidang ilmu yang memiliki kemampuan untuk mengkaji fenomena tersebut.

Filsafat dapat mengkaji dengan mendalam keadaan sosio-kultural suatu masyarakat dan melihat dengan luas dampak perubahan baik dari segi nilai individu, nilai dalam komunitas, maupun dalam lingkup yang lebih luas. Termasuk filsafat juga dapat membantu pemahaman yang baik akan pelestarian budaya, salah satunya melalui culturepreneurship.

Bagi Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar), kajian kebudayaan menjadi salah satu fokus pembelajaran utama. Konsentrasi filsafat budaya di fakultas tersebut menghasilkan komunitas akademis yang memiliki pemahaman lintas ilmu yang mendalam sehingga mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

Membedah “culturepreneurship”

Fenomena kewirausahaan budaya kini semakin kentara di Indonesia. Berbagai daerah berlomba-lomba untuk menciptakan agenda kebudayaannya sendiri-sendiri. Di sisi lain, individu-individu kreatif mengolaborasikan rupa budaya tradisional dengan tata kelola modern untuk menciptakan industri yang memiliki peluang menjanjikan. Fenomena ini menjadi hal yang diangkat dalam seminar nasional Culturepreneurship, yang diselenggarakan oleh FF Unpar pada Sabtu (3/11/2018) dan diikuti oleh mahasiswa, budayawan, serta masyarakat umum.

Seminar ini dibuka dengan paparan dari Guru Besar Fakultas Filsafat Unpar, Prof. Bambang Sugiharto mengenai pemahaman akan kebudayaan, kewirausahaan, dan hubungan di antara keduanya. Baginya, kewirausahaan budaya menjadi suatu strategi bagi masyarakat untuk mencapai suatu nilai yang lebih.

Hal tersebut diperkuat dengan paparan dua pegiat culturepreneurship, Project Director Festival Pesona Selat Lembeh Satria Yanuar Akbar dan Pendiri Jember Fashion Carnaval Dynand Fariz.

Berkaca dari pengalamannya, Satria menjelaskan bahwa masa depan kewirausahaan budaya sangat baik. Hal ini didorong oleh munculnya fenomena globalisasi serta menguatnya kesadaran serta sentimen masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Dynand, yang telah merintis JFC 15 tahun yang lalu, berpendapat bahwa setiap orang mampu berkreasi dari potensi budaya lokal dan menghasilkan suatu inovasi yang dapat mengharumkan nama bangsa.

Kajian filsafat kebudayaan menciptakan pemahaman baru tentang bagaimana individu dan kelompok menyikapi fenomena budaya yang ada dalam masyarakat. Melalui culturepreneurship, budaya lokal dapat berkembang menjadi potensi ekonomi dan sosial yang luar biasa. Unpar senantiasa berupaya untuk mengkaji dan mengembangkan inovasi kewirausahaan budaya, serta ambil bagian dalam strategi budaya Indonesia.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 13 November 2018)