Era Banjir Informasi, Harian Kompas Ajak UNPAR Kolaborasi Paparkan Hasil Riset Jamin Produk Media Tetap Bermutu

Era banjir informasi yang sejalan dengan kemajuan teknologi dinilai harus diimbangi dengan informasi yang baik, benar dan bermutu demi terciptanya kebaikan bersama. Harian Kompas pun mengajak Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) berkolaborasi menyebarluaskan ilmu pengetahuan atau hasil riset untuk pihak yang paling membutuhkan, yaitu masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam webinar Literasi Digital bertajuk “Banjir Informasi, Memilah Hoax dan Fake News,” yang berlangsung secara daring, Kamis (4/11/2021) lalu. Diskusi tersebut terselenggara atas kerjasama UNPAR, Garudafood, dan harian Kompas.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra mengatakan publik perlu hati-hati di era banjir informasi. Menurut dia, arus informasi yang sedemikian deras itu bisa menyeret kita semua ke arah yang salah.

“Lembaga-lembaga pers harus bekerja sama dengan Perguruan Tinggi (PT) untuk mengatasi fenomena ini. Informasi tanpa disadari seperti asupan makanan, kita menjadi sehat atau tidak bergantung dari asupan yang kita peroleh. Bagaimana dengan informasi? Informasi juga seperti itu. Kami ingin mengajak PT menyuarakan itu,” tutur Sutta.

Hasil survei Litbang Kompas pada November 2019 lalu, lanjut dia, menunjukkan bahwa 44% masyarakat mengaku menerima berita hoaks hampir tiap minggunya. Sementara 44% lainnya berusaha mengecek kebenaran itu dengan merujuk ke media yang dipercaya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga merilis temuan hoax terkait dengan isu pandemi Covid-19 sebanyak 1.656 selama periode 23 Januari 2020 hingga 22 Juni 2021. Menurut dia, hoaks terkait isu pandemi menjadi satu dari sekian banyak persoalan akibat era informasi yang masif, dimana pertumbuhan teknologi dan media sosial melebihi pertumbuhan populasi dunia. 

“Kita tidak tahu, seberapa banyak yang mengonsumsi artikel (hoaks) yang beredar yang terkait Covid-19,” ucapnya.

Litbang Kompas pun telah melakukan survei pada April 2021 lalu untuk mengetahui dampak apa yang dirasakan publik terkait banjir informasi saat ini. Hasilnya, 24,4% menyadari bahwa hal itu mengganggu relasi keluarga dan orang lain; 50,1% menyatakan membuat kebingungan dan ketidakpastian; dan 63,3% berpendapat bahwa banjir informasi membuat perpecahan di masyarakat.

Survei lainnya menunjukkan masih banyak publik yang belum mampu membedakan antara media arus utama dan media sosial. Sutta mengungkapkan, jika dilihat dari hasil survei, persepsi publik tentang media arus utama dengan media sosial, media arus utama dianggap jauh lebih baik (8%) ketimbang media sosial (4%). Tetapi jika dilihat lebih lanjut, menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan soal persepsi tersebut. Publik belum bisa membedakan dengan jelas mana konten yang dibuat media arus utama dan konten yang bisa dibuat oleh siapa saja di media sosial. 

“Ini memang menjadi PR (pekerjaan rumah,red) dari media arus utama. Media arus utama pun tentunya harus melakukan introspeksi untuk terus memperbaiki diri untuk memberikan informasi yang lebih baik,” ujarnya.

Dia pun berharap, harian Kompas bisa membuat konten-konten lebih baik. Hal ini tentunya bekerja sama dengan para akademisi UNPAR. Menurut dia, banyak sekali pakar di UNPAR yang bisa bersama-sama dengan Kompas untuk membuat konten informasi menjadi jauh lebih baik.

“Ada penelitian yang menyebutkan berita clickbait itu lebih cepat viral ketimbang berita yang sesungguhnya. Karena memang manusia dilahirkan senang mendengar sesuatu yang lebih memukau. Celakanya lagi, manusia juga senang membuat cerita, membesar-besarkan. Oleh karena itu, tentunya dari kalangan akademisi sudah pasti paham ada sebuah metodologi yang harus dilakukan dalam membuat konten untuk memastikan tidak terjadinya bias-bias informasi,” tuturnya.

“Saya mengharapkan  kalau boleh berkenan kami ingin bisa bekerja sama dengan UNPAR terkait dengan konten-konten yang kira-kira nanti kami ingin buat dan ada pakar dari UNPAR yang bisa membantu kami membuat konten itu jauh lebih baik,” sambungnya.

Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. pun menyambut baik kolaborasi UNPAR bersama harian Kompas demi kebaikan bersama. Menurut Rektor, Kompas merupakan media arus utama yang terpercaya. Tak sekadar menyampaikan kebenaran, namun juga menyajikan bonum commune (kebaikan bersama).

“Kami dari lembaga Perguruan Tinggi tentu sangat mengapresiasi ajakan, tawaran yang sangat penting ini. Kita tahu betul Kompas, tidak hanya sekadar kebenaran yang diungkap, tetapi juga bonum commune, kebaikan bersama. Kompas menyajikan itu dan itu pun terus dilakukan dengan transisi ke digital,” kata Rektor.

UNPAR pun demikian, lanjut Rektor, selalu berusaha hadir demi kebaikan bersama agar semakin relevan dan signifikan bagi masyarakat. Kolaborasi bersama untuk menyebarluaskan pentingnya literasi digital dinilai sejalan dengan dinamika dan kebijakan Kampus Merdeka.

“Harapan kami agar kita bisa lebih berkolaborasi ke depan dalam praktik kerja ataupun magang, penelitian, maupun juga lewat kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.

Presiden Direktur Garudafood Hardianto Atmadja pun mengungkapkan bahwa era banjir informasi tak bisa ditolak karena hal itu paralel dengan perkembangan teknologi terkini. Namun satu hal yang penting adalah kita bisa menyeleksi hal-hal positif bagi kita untuk melakukan digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Tentunya banjir informasi ini banyak hal yang positif, namun juga kadangkala membuat kebingungan, keresahan, bahkan suatu saat bisa mengganggu atau menciptakan perpecahan,” ujarnya. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)