Ekonomi Sosial Solidaritas Sebagai Jalur Alternatif SDGs

UNPAR.AC.ID, Bandung – Ekonomi Sosial Solidaritas (ESS) merupakan hal yang sering ada di sekitar namun seringkali kita tidak menyadari dan tidak menghargainya. Adapun bentuk dari ESS yang sering dijumpai adalah koperasi, perusahaan sosial, dan kelompok masyarakat adat. 

Hal tersebut terkemuka dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi UNPAR dengan mengusung tema “Social Solidarity Economy as an Alternative Pathway to Sustainability Development” pada Sabtu (13/5/23) lalu . Kegiatan tersebut mengundang beberapa pembicara yaitu Dr. Eri Trinurini Adhi (Yayasan Bina Swadaya), Chandra Firmatoko, dan Heira Hardiyanti. 

Eri mengatakan bahwa fakta saat ini menunjukkan ekonomi dunia didominasi oleh kapitalisme. 

“Utamanya yang sekarang menguasai dunia didominasi oleh kapitalisme, mungkin kita tidak sadar tapi faktanya seperti itu,” tuturnya. 

Dia mengatakan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi krisis multidimensi. Maka dari itu, ESS atau Ekonomi Sosial Solidaritas diperlukan sebagai suatu kunci pemulihan.

“Saat ini kita mengalami krisis perubahan iklim dengan tingkat suhu udara meningkat dimana-dimana, krisis perdamaian dengan adanya perang rusia ukraina berimbas kepada banyak negara, krisis energi, krisis pangan. ESS kunci pemulihan pada manusia dan planet di tengah krisis multidimensi,” ucap Eri.

Eri menyampaikan bahwa setidaknya terdapat 5 karakter utama ESS yaitu:

  1. Berbeda dengan ekonomi arus utama yang berorientasi pada keuntungan
  2. Organisasi yang lebih fokus pada nilai sosial dan lingkungan dari pada mencari keuntungan semata
  3. Masih ada kebingungan terminologi: social economy vs solidaritas ekonomi
  4. Menjembatani ekonomi informal ke formal
  5. Dibangun dari konstelasi kelompok akar rumput, organisasi masyarakat sipil, platform berbasis konsumen dan produsen, wirausaha sosial, koperasi dan organisasi lainnya yang mendukung ekosistem ESS, Ciri bentuknya asosiatif (kumpulan bersama)

“Kita harus membetulkan paradigma, maka dari itu ESS diyakini sebagai core dari SDG. Pada prinsipnya ESS adalah ekonomi yang bertumbuh untuk masyarakat,” ucapnya. 

Sementara itu, Chandra Firmatoko mengatakan bahwa dimensi kegiatan usaha adalah profit. Jika berbicara mengenai bisnis maka orientasi nya adalah keuntungan.  

“Dimensi dari kegiatan usaha adalah profit, people, planet atau triple bottom line, valuing ethics, dan democratically governed. Hal ini dipercaya akan membawa kesejahteraan masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Heira Hardiyanti mengatakan bahwa perkembangan SSE diawali oleh keresahan revolusi industri pertama karena penemuan mesin uap. Koperasi dinilai berkontribusi dalam pembangunan ekonomi karena semua bidang usaha dapat dilakukan oleh koperasi. 

“Koperasi berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. keberadaan CSR itu dilihat, ini menjadi salah satu resolusi SSE. Semua bidang usaha bisa dilakukan oleh koperasi seperti kredit, transportasi, makanan, perumahan, listrik, dan lain-lain,” ucapnya. (JES-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

Prestasi Gemilang UKM Badminton UNPAR di Liga Pelajar Nusantara 2024

UNPAR.AC.ID, Bandung – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton Universitas Parahyangan (UNPAR) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga kampus dengan meraih prestasi membanggakan pada Liga Pelajar Nusantara 2024, yang diselenggarakan di Bogor. Dengan...

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

Sistem Penghubung Layanan dan SSO untuk Transformasi Digital Indonesia

UNPAR.AC.ID, Bandung - Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik atau yang dikenal dengan sebutan SPBE merupakan salah satu upaya transformasi digital di Indonesia. Fokus utama dari SPBE ialah meningkatkan layanan publik agar masyarakat bisa mendapatkan kemudahan dan...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

May 16, 2023

X