Dosen UNPAR Paparkan Permasalahan Pilihan Politik Antargenerasi

UNPAR.AC.ID, Bandung – Secara konseptual, pilihan politik merupakan preferensi, action, dan pemrosesan informasi seorang individu untuk mengambil keputusan politik. Meskipun masyarakat seringkali bahwa lembaga politik memainkan peran utama dalam membuat kebijakan publik, nyatanya individu dalam kapasitas masing-masing juga mampu memberikan influence terhadap lembaga politik. Kacamata kajian pendekatan perilaku menekankan bahwa pilihan politik berbasis pada individu politik. 

Hal tersebut dikemukakan oleh dosen Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Kristian Widya Wicaksono, Ph.D. dalam rangkaian acara Extension Course of Culture and Religion 2022 (ECCR) yang ke-6. Webinar dengan sub-tema “Problem Pilihan Politik Antargenerasi” tersebut diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Senin (31/10/2022) lalu. 

ECCR 2022 sendiri merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh FF UNPAR yang membahas masalah generasi atau yang lebih dikenal dengan generation gap dalam 8 topik. Rangkaian webinar bertajuk “Kesenjangan Antargenerasi : Tantangan dan Peluang” ini berusaha mencoba mencari jawaban agar kesenjangan antar generasi ini bisa menjadi medan dialog dan ajang kerja sama produktif. 

Mengutip penjelasan Surbakti pada tahun 2013, Kristian pun mengungkap faktor yang mempengaruhi individu aktor politik, antara lain:

  • Lingkungan sosial politik tidak langsung (demokrasi, totaliterisme, dan lain-lain).
  • Lingkungan sosial politik langsung (saran orang lain, lingkungan pergaulan).
  • Struktur kepribadian dalam basis fungsional yakni kepentingan, adaptasi, serta eksternalisasi dan pertahanan diri. 
  • Situasi lingkungan politik langsung saat melaksanakan aktivitas politik. 

“Dalam konteks kepentingan, seorang individu menilai suatu peristiwa politik berdasarkan apakah dia menaruh minat atau tidak terhadap fenomena politik tersebut. Jika ada, itulah yang menjadi dasar pilihan politiknya,” tuturnya. 

Lebih lanjut, Kristian mengutip riset terdahulu milik Campbell pada tahun 1917 dan Kinder pada tahun 2006, antara lain:

  • Orang dari segala usia menanggapi masalah dan peristiwa politik dalam rujukan sosialisasi awal, keadaan sosial, dan kondisi ekonomi langsung. (Campbell 1917)
  • Kelompok usia dapat dimobilisasi untuk mendukung aksi sosial tertentu yang mereka lihat untuk kepentingan mereka sendiri tetapi usia tidak menjadi dasar dari gerakan politik besar. (Campbell 1917)
  • Politik dimulai semenjak masa kanak-kanak, dan orang tua memang mempengaruhi keturunan, tetapi perubahan terjadi sepanjang rentang kehidupan. (Kinder 2006)
  • Bertambahnya usia seseorang tidak menjadi penentu bahwa mereka akan semakin konservatif di dalam pilihan politik mereka. Bertambahnya usia umumnya tidak disertai oleh kecenderungan gerakan ke arah politik tertentu baik dalam hal ekonomi, kebijakan luar negeri maupun pilihan politik. (Kinder 2006)

Menurut Kristian, riset tahun 1971 tersebut membuktikan bahwa Campbell tidak merasakan gap politik antar generasi. Penyebab utama masyarakat bisa dimobilisasi adalah adanya ‘sentuhan’ yang mungkin menggelitik mereka dan memberikan reaksi  dalam membuat pilihan politik. Di sisi lain, riset tahun 2006 milik Kinder tidak melihat adanya pengaruh pertambahan usia terhadap pilihan politik. 

“Saya mengambil kesimpulan bahwa sampai di bagian riset terdahulu ini, tidak ada hal spesifik yang kaitannya tentang gap pilihan antar generasi. Bahkan tidak ada hal yang sangat berpengaruh,” ucapnya. 

Tak sampai di situ, Kristian kembali menemukan jurnal berjudul “A Political Outlier: the Distinct Politics of the Millennial Generation” yang terbit pada tahun 2018 silam. Dalam jurnal tersebut, disebutkan bahwa generasi milenial Amerika telah mengembangkan kecenderungan politik berbeda secara signifikan di spektrum ideologi sebelah kiri generasi yang lebih tua. Beberapa alasannya ialah keragaman pilihan gaya hidup generasi milenial, tingkat pendidikan yang lebih tinggi, perspektif global tentang politik, dan kurangnya religiusitas. 

“Ekspresi gaya hidup sebenarnya yang  membuat pilihan politik antargenerasi ini mulai berbeda,” tuturnya.

Sementara itu, Kristian mengutip tulisan milik Fitriyah dan Hendrarti pada tahun 2020 yang menyatakan bahwa generasi milenial Indonesia menjadi apatis/tidak aktif terhadap politik dengan alasan sebagai berikut :

  • Tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap politisi.
  • Kecewa terhadap penyelenggaraan pemerintahan. 
  • Buruknya citra partai politik.
  • Banyaknya kasus korupsi politisi yang tidak tuntas pengusutannya. 

Lebih lanjut, tulisan Mujiran pada tahun 2018 juga mengungkap bahwa generasi milenial cenderung berubah-ubah dalam memberikan hak politiknya. Mereka cenderung lebih rasional, menyukai perubahan dan anti-kemapanan. Maka dari itu, mereka cenderung menyalurkan hak politik kepada partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda. 

“Terdapat perbedaan antara hasil riset tentang kesenjangan pilihan politik antar generasi pada tahun 1970an hingga 2000an,” tuturnya. (KTH-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Selami Seni dan Komunitas dalam Kuliah Umum Estetika UNPAR

Selami Seni dan Komunitas dalam Kuliah Umum Estetika UNPAR

UNPAR.AC.ID, Bandung – Di tengah perkembangan abad ke-21 yang membawa perubahan cepat dan mendasar, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) menggelar Kuliah Umum Estetika bertajuk “Seni, Komunitas, dan Penghayatan Pengetahuan” pada Kamis (13/06/2024). Acara ini...

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Nov 3, 2022

X