Home / Berita Terkini / Diskusi FH Unpar & Imparsial: Argumentasi Kontra Eksekusi Hukuman Mati

Diskusi FH Unpar & Imparsial: Argumentasi Kontra Eksekusi Hukuman Mati

Penegakkan hukum yang tegas dan kuat menjadi dambaan setiap orang di negara manapun. Hukuman mati adalah salah satu pilihan tindakan yang kuat untuk memicu efek jera bagi para narapidana. Namun, tetap saja hal itu merupakan sesuatu yang kontroversial dan diperdebatkan. Meskipun efektif, namun rentan mengalami cacat dalam proses hukumnya.  Perdebatan yang terjadi seharusnya didasari oleh keilmuan dan sikap intelektual dan lebih dari sekadar sesuai moral atau tidak.

Pada Selasa (16/10), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Imparsial yang bekerja dalam bidang advokasi anti-hukuman mati beserta dengan Fakultas Hukum (FH) Unpar mengadakan diskusi bertajuk “Analisis Kasus Terpidana Mati di Indonesia dan Problematika Praktik Hukuman Mati”. Acara yang diselenggarakan di Aula FH Unpar tersebut menghadirkan beberapa pembicara dari akademisi, aktivis hingga saksi hidup dari proses hukuman mati di Indonesia. Mereka membahas secara umum tentang pandangan mereka pada praktik dan konsep hukuman mati di Indonesia.

Dimoderatori Kepala Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pengayoman Unpar Maria Ulfah, Choirul Anam dan C. Djisman Samosir yang juga tergabung dalam tim LBH Pengayoman Unpar berbicara tentang kerangka konseptual dan bagaimana hubungannya dengan kaidah moral yang berlaku. “Saya ini orang Kristen ya. Jadi menurut saya tidak bisa secara mudah kita mengambil nyawa orang. Ini karena hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Bila kita menjalankan eksekusi, maka dari sudut pandang agama, kita telah mendiskreditkan dan mengacuhkan peran Tuhan dalam hidup manusia,” ungkap Djisman memberi opininya terhadap isu tersebut.

Senada dengan C. Djisman Samosir, Evarossita Budiawan yang merupakan seorang peneliti dari Imparsial (sebuah LSM yang sudah beberapa kali menemani para terpidana hukuman mati) tidak setuju dengan pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Indonesia. “Begini, enggak ada sistem hukum yang sempurna di dunia ini. Bahkan di negara yang sangat sophisticated kayak Inggris aja masih ada kesalahan dalam proses hukum. Itu di negara yang sudah maju dan bersih banget, dan masih ada error, gimana di Indonesia yang masih banyak mafia peradilannya?,” terang Evarossita. Ia juga menceritakan pengalamannya menghadapi beberapa kecurangan dalam pengadilan, seperti pemaksaan untuk mengaku untuk mempercepat kasus oleh oknum tidak bertanggung jawab dan lainnya.

Di acara tersebut hadir pula Siti, istri dari terpidana mati Zulfiqar Ali. Beliau menceritakan bagaimana ia dengan didampingi tim dari Imparsial memperjuangkan kebebasan Zulfiqar Ali.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap hukuman mati, diskusi ini sangat diminati bukan hanya oleh mahasiswa namun juga praktisi. Beberapa anggota LBH dan fakultas hukum dari sejumlah universitas di Indonesia seperti Universitas Kristen Maranatha, Universitas Jenderal Sudirman, serta Universitas Pasundan turut hadir dalam diskusi tersebut.