Home / Berita Terkini / Dies Natalis 64 Unpar: Kepedulian Unpar bagi Bumi Parahyangan

Dies Natalis 64 Unpar: Kepedulian Unpar bagi Bumi Parahyangan

Enam puluh empat tahun sudah Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) membaktikan diri di Bumi Pasundan. Sebagai salah satu pionir perguruan tinggi di Jawa Barat, Unpar menunjukkan diri mampu menghadapi perubahan zaman untuk senantiasa menghasilkan lulusan yang berkontribusi meningkatkan kehidupan masyarakat.

Rangkaian perayaan Dies Natalis ke-64 Unpar menjadi wujud rasa syukur komunitas akademik Unpar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 17 dan 18 Januari 2019  dipusatkan di Kampus Unpar, Ciumbuleuit, Bandung. Dengan mengusung tema “The Great Unpar: Unpar Peduli,” Unpar menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang peduli akan pengembangan keilmuan dan kehidupan bangsa.

Kegiatan diawali dengan Misa Syukur yang diselenggarakan di Studio Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) pada Kamis (17/1) pagi. Misa dipersembahkan oleh Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Purwokerto yang juga alumnus Unpar Mgr. Christophorus Tri Harsono, serta Dekan Fakultas Filsafat Pst. Harimanto Suryanugraha OSC.

Siaga bencana di kepingan surga

Rangkaian acara diikuti dengan Orasio Dies Natalis 64 yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Sekretaris Yayasan Unpar Prof. Hendra Gunawan, Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D, pimpinan universitas dan fakultas, perwakilan mahasiswa, serta civitas akademika Unpar. Orasi disampaikan oleh Prof. Paulus Pramono Rahardjo dengan tema “Menyelisik Untaian Bencana di Kepingan Surga Tatar Parahyangan”.

Secara singkat, orasi ilmiah ini menyoroti langkah penting kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana khususnya di Provinsi Jawa Barat. Kepedulian akademisi melalui penelitian dan pengabdian dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan akan bencana. Hal serupa ditegaskan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Keikutsertaan kaum muda millenial dianggap penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam hal menanggapi potensi bencana yang ada.

Mempererat kekeluargaan

Dies Natalis Unpar semakin meriah dengan acara kekeluargaan yang berlangsung hingga malam hari. Acara kekeluargaan menjadi ajang mempererat silaturahmi antar karyawan. Pimpinan, tenaga kependidikan dan dosen Unpar menghadiri kegiatan yang diadakan di Lapangan Parkir Kampus Unpar ini.

Penampilan dari pegawai dan pembagian doorprize mewarnai acara kekeluargaan Dies Natalis Unpar. Selain itu, diumumkan pula pemenang dari berbagai perlombaan yang diselenggarakan selama rangkaian kegiatan Dies. Lomba-lomba tersebut diantaranya kompetisi futsal, tenis meja, bulu tangkis, funwalk, fotografi, penulisan blog, video bercerita, cerdas cermat, lomba masak, serta Unpar Got Talent. Ada pula suguhan “Unpar Fashion Week” yang diikuti oleh kepala-kepala bagian dan wakil dekan dari berbagai fakultas di Unpar mengundang gelak tawa dan sambutan meriah dari para penonton. Sebagai penutup, pegawai yang beruntung mendapatkan grand prize berupa tiga unit motor dari Unpar.

Peduli lingkungan dan budaya

Sesuai dengan tema, Unpar juga menyelenggarakan berbagai kegiatan yang berakar dari kepedulian kepada masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan kerja bakti yang diadakan oleh Biro Umum dan Teknik (BUT). Pada Jumat (18/1) pagi, karyawan BUT serta tenaga kebersihan Unpar membersihkan lingkungan di sekitar Kampus Unpar, termasuk Jalan Ciumbuleuit, Jalan Menjangan, Jalan Bukit Jarian dan Jalan Ciloa. Kegiatan bersih-bersih ini difokuskan pada pengumpulan sampah plastik dan pembersihan saluran air di kawasan tersebut.

Sebagai basis inovasi akademik, Unpar memberikan kontribusi bagi pengolahan limbah di dalam dan luar Kampus Unpar. Dalam acara “Unpar Peduli Lingkungan”, Unpar memberikan instalasi biodigester bagi masyarakat RW 1 dan RW 11 yang berdampingan dengan kampus. Dengan peralatan biodigester ini, sampah organik masyarakat dapat diolah menjadi biogas dan pupuk organik sehingga memberikan manfaat yang positif, sekaligus mendukung program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan dan Manfaatkan) yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bandung.

Sebagai penutup, diselenggarakan Pertunjukan Wayang Golek pada Jumat malam. Wayang Golek merupakan bagian dari kebudayaan Tatar Parahyangan yang patut dilestarikan. Acara pertunjukan menegaskan kembali kepedulian Unpar bagi pengembangan budaya lokal dan visi universitas untuk meningkatkan potensi lokal ke tataran global.