Home / Alumni / Dian Indah Carolina dan Cerita tentang WISSEMU

Dian Indah Carolina dan Cerita tentang WISSEMU

“Sebelumnya aku emang masuk dalam tim pendaki WISSEMU. Tapi di gunung keempat harus berakhir. Jadinya aku ngebantu mereka sebagai Tim Support, sampai akhirnya mereka selesai mencapai tujuh puncak dunia,” ungkap Dian Indah Carolina yang ditemui tim Publikasi Unpar pada Selasa (10/7).

Dian Indah Carolina, yang akrab disapa Caro merupakan anggota Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar). Sejak menjadi bagian dari tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition (Wissemu), Caro telah mengikuti ekspedisi sejak pendakian perdana mencapai puncak Carstensz Pyramid, Indonesia, pada 2014 silam.

Ketertarikan Caro akan kegiatan alam bermula dari aktivitas camping dan naik gunung Papandayan dan Ciremai ketika lulus SMA. Saat itu, ia pertama kali mencoba camping dan naik gunung. Hal itu membuatnya ketagihan sehingga terus berlanjut ketika masuk kuliah, ia tertarik mendaftar menjadi anggota Mahitala. Di Mahitala, sebut Caro, “Ada banyak kegiatannya, kayak rafting, caving, climbing, dan lainnya.”

Hubungan Internasional menjadi pilihan studinya ketika berkuliah di Unpar. Hal ini pun yang menjadi semangatnya. “Aku ngambil jurusan HI pun karena aku ingin over board. Pengen keluar dari zona nyaman. Seneng gitu. Apalagi kegiatan alam,” ceritanya antuasias.

Mencapai 3.5 puncak gunung dunia

“Cerita-ceritanya beda-beda ya tiap gunung,” kata Caro. Pendakian perdana mendaki Gunung Carstensz, ada banyak tim yang membantu termasuk tim dari PT Freeport yang menawarkan bantuan.

“Kita beregu ada 10 orang. Itu pertama kalinya aku naik gunung yang tinggi banget di Indonesia,” ungkapnya, “Di situ keseruannya. Pertama kali nyobain (pendakian) di gunung tinggi. Keindahan alamnya bagus banget.”

Sebagai salah satu 7 summits, Caro menjelaskan bahwa Cartstensz merupakan salah satu destani pendakian yang paling mahal dari segi pembiayaan. Hal ini bisa dikatakan karena pengelolaan yang masih minim dan lokasi tersebut berada di satu lingkungan yang sama dengan PT Freeport.

Di awal pendakian tersebut, ada empat orang yang tergabung dalam tim WISSEMU. Karena beberapa kendala, Zulfikasari harus mundur dan tidak bisa mengikuti ke pendakian selanjutnya.

Caro bercerita tentang pengalaman perjalanannya pertama kali melewati 4,000 mdpl,  membuatnya merasakan penyakit ketinggian (AMS). “Rasanya pusing banget. Ooh ini rasanya penyakit ketinggian. Itu yang harus dihadapi,” ujarnya mengenang perjalanan pendakian perdana.

Puncak Aconcagua adalah gunung keempat yang berhasil diraih tim tersebut (Dee Dee dan Hilda). Di tengah perjalanan, Caro terpaksa harus turun karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinan untuk melanjutkan pendakian. Sebelumnya, mereka sudah mencapai puncak Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia (Oseania), Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania (Afrika), dan Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia (Eropa).

Ketika harus berhenti di Aconcagua

Bagi Caro, Gunung Aconcagua yang paling berkesan walaupun dia memiliki konsekuensi tidak bisa menyelesaikan puncak gunung lainnya.

Masih ada tanda tanya pada saat itu. Ia mengungkapkan, “Makanan kita (para pendaki) sama. Semua orang minum banyak.” Ternyata, cerita Caro, ia mengalami penyakit ketinggian yang biasanya menyerang para pendaki di atas gunung, yaitu Acute Mountain Sickness (AMS). Daya tahan tubuh pendaki yang mengalami penyakit tersebut menjadi tidak teratur terhadap perbedaan ketinggian dan kecepatan pendakian.

“Awalnya pusing, mual, mulai ga nafsu makan. Mereka (Dee Dee dan Hilda)  lanjut naik dan aku turun lagi ke camp dibantu tim dan porter,” ujarnya yang mengalami kondisi badan yang kian turun saat sampai di camp.

Kata Caro, Aconcagua itu termasuk destinasi pendakian dengan tenaga dan fasilitas medis yang mumpuni. Ketika ia sampai di camp, hari berikutnya ia dijemput helikopter dan dibawa ke rumah sakit di kota terdekat di Argentina. Saat itu, Dubes Indonesia untuk Argentina Bapak Sinaga membantu dalam penanganan di RS tersebut.

“Bangun-bangun di ruang ICU. Tapi ternyata aku sudah melewati 2 hari. Ternyata, ada pembuluh darah yang pecah di otak,” terangnya.

Tentu saja, keputusan untuk turun gunung saat pendakian di Aconcagua membuatnya sedih. “Sedih dan menyesal ya ada. Di Acon waktu disuruh turun, aku langsung mikir, ga bisa lanjut (gunung lainnya). Aku ga mau juga jadi burden,” ungkap Caro.

Tim Support Wissemu

Sejak ia tidak aktif sebagai tim pendaki Wissemu, Caro menjadi Tim Support bagi Dee Dee dan Hilda. Mulai dari Gunung Denali hingga pendakian terakhir di puncak Everest.

Perannya sebagai Tim Support Wissemu, yakni sebagai Humas terkait urusan media.  “Aku yang megang report mereka. Humas mereka. Dan segala hal yang berhubungan dengan media,” jelas Caro.

Ia mengungkapkan, “Waktu sampe ke puncak Everest, pengen nangis. Aku juga pernah ngerasain jadi tim pendaki. Dan di Tim Support-nya juga sama susahnya seperti tim pendaki.” Tim Support harus menyiapkan berbagai kebutuhan pendaki supaya perjalanan aman juga nyaman. Tim Support juga yang mengurus perihal teknis latian, sponsor, hingga kerja sama dengan pihak media.

Kuliah dan aktivitas keseharian

Selama berkuliah di HI Unpar, Caro sempat tertarik untuk mengikuti organisasi internal himpunan: klub bahasa Inggris (IREC) dan komunitas yang berbincang tentang masalah internasional (KSMPMI). Ia menyadari jika pada waktu itu, ia harus memilih untuk fokus di satu kegiatan, dan ia memilih Mahitala.

“Sebenernya banyak kegiatan HI yang belum aku lakuin semua,” ungkapnya penuh tawa. Sejak Februari lalu, ia telah menyelesaikan studinya di Unpar dan resmi menjadi alumnus HI Unpar.

Bekal selama menjadi anggota aktif Mahitala ada banyak sekali. Hal inilah yang membuatnya kini memiliki perhatian dan ketertarikan terhadap isu lingkungan. Di masa depan, ia ingin sekali bekerja di bidang tersebut. Menggabungkan peranan di sektor pemerintah dan lingkungan.

“Aku ingin kerja di bidang lingkungan. Misalnya di bidang pemerintahan atau NGO. Atau antara pemerintahan dan lingkungan disatukan,” katanya antusias.

Saat ini, sambil menunggu masa bekerja, Caro masih membantu urusan Wissemu sebagai Tim Support.

Caro: “Sejak kecil aku suka hal baru dan tantangan”

“Dari kecil aku emang suka ikut wushu, ikut renang. Suka sama kegiatan olahraga dan les berbagai kegiatan di luar kelas (mata pelajaran sekolah),” ungkapnya. Sejak kecil, Caro sudah menyukai kegiatan outdoor.

Perempuan asli Bandung ini sekarang sedang sibuk aktivitas laut, seperti diving dan free diving. “Free diving itu seru, ga pake alat dan langsung turun. (Kegiatan) ini mengandalkan paru-paru,” terang Caro.

“Mungkin ke depan surfing,” ujarnya penuh tawa.

Sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara, ia mengungkapkan, kemungkinan ketertarikannya ini karena sang ayah dan ibu. “Ayah sama mama suka naek gunung. Suka cerita, dulu suka ke Gunung Bromo,” katanya. Berbeda dengan kedua kakaknya, yang kurang begitu menyukai kegiatan outdoor.

Ia mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya, selama ia bisa menyeimbangkan waktu dengan kuliah. Bahkan ketika pertama kali ia terjun sebagai pendaki WISSEMU. Namun, tidak dapat dipungkiri, kejadian di Aconcagua membuat kedua orang tuanya menjadi lebih khawatir terhadapnya.

Untuk teman-teman Unparian, Caro berpesan, “Gunakan fasilitas (Unpar) yang ada sebaik mungkin. Artinya, misalnya ikut serta dalam acara-acara (kampus).”

“Jangan sia-sia kan waktu hanya untuk di kelas. Waktu kuliah itu untuk meng-eksplor dan berkarya,” pungkasnya.