Home / Alumni / Cahaya dan Doa Unpar Untuk Palu-Donggala

Cahaya dan Doa Unpar Untuk Palu-Donggala

Meski telah berlalu, bencana gempa dan tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah masih menyisakan duka mendalam bagi para penyintas dan masyarakat Indonesia. Proses pemulihan yang terus berlanjut perlu didukung secara berkesinambungan. Komunitas Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) pun ikut terlibat dalam memberikan bantuan yang dikoordinasikan oleh Korps gabungan sukarela (Korgala) Unpar.

Menutup masa penggalangan dana, Korgala menghadirkan aksi amal bertajuk “Cahaya untuk Palu-Donggala”. Acara ini merupakan aksi kolaborasi yang dilakukan oleh Korgala bersama dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di Unpar, antara lain Mahasiswa Parahyangan pencinta alam (Mahitala), Lingkung seni tradisional (Listra), Potret, Unpar Radio Station (URS), Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar, Media Parahyangan, serta Sastra dan teater (Sartre). Acara diselenggarakan di Student Center Teknik pada Kamis (22/11) malam.

Diawali dengan Tari Merak dari Listra Unpar, acara dilanjutkan dengan gelar wicara, pembacaan sajak, dan penampilan musik dari mahasiswa Unpar. Acara malam itu ditutup dengan doa bersama diiringi oleh cahaya lilin, mengantar doa-doa hadirin bagi para penyintas gempa dan tsunami Palu Donggala.

Berbagi cerita

Dalam kesempatan ini, Korgala mengundang relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Mahitala yang terlibat langsung dalam proses evakuasi dan pemulihan pasca-bencana di Sulawesi Tengah untuk berbagi pengalaman dan rasa simpatinya. Hadirin diajak untuk mendalami pengalaman para relawan bencana, serta meningkatkan rasa kepedulian bagi para korban yang masih terus bertahan untuk melanjutkan hidup.

Cerita tidak hanya disampaikan lewat gelar wicara semata. Berbagai foto yang diambil dari lokasi bencana juga turut dipamerkan dalam kegiatan ini. Lewat foto, hadirin dapat melihat betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu. Namun, foto-foto juga menunjukkan besarnya asa yang masih ada dalam diri pada penyintas maupun relawan penolong untuk bangkit.

Acara ini menjadi ajang mempersatukan keluarga besar Unpar untuk bersimpati bagi duka masyarakat di Sulawesi Tengah, yang tidak lain juga duka Indonesia. “Yang penting, niatnya berdoa bersama,” ujar Souphavanh Boutthavong ketua pelaksana Cahaya untuk Palu-Donggala. “Di sisi lain, kita bisa kerja sama dengan pihak lain untuk membangun kesadaran kemanusiaan dari mahasiswa Unpar,” pungkasnya.