Bonus Demografi Indonesia Bakal Dorong Gerakan Local ke Tataran Global

UNPAR.AC.ID, Bandung – Generasi Y atau seseorang yang lahir dalam kurun tahun 1977-1994 tentu merasakan berbagai perubahan teknologi yang cepat. Salah satu teknologi yang berkembang dengan pesat ialah radio. Berawal dari radio, perkembangan teknologi mengubahnya menjadi walkman, discman, MP3 player hingga akhirnya menjadi media streaming. Berbagai teknologi berkembang dengan cepat hingga masa kini dan menjadi modern. Sayangnya, perubahan tersebut bukan berasal dari merek Indonesia maupun buatan anak bangsa.

Hal tersebut dikemukakan oleh Romy Loice, S.T., M.T. selaku Ketua Inkubator Bisnis dan Teknologi Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dalam rangkaian acara Campus Marketeers Club (CMC) yang diselenggarakan oleh Marketeers melalui Lembaga Pengembangan Institusi dan Inovasi (LPII) UNPAR. Acara bertajuk “Merdeka dengan Produk Anak Bangsa” tersebut diselenggarakan secara hybrid di Lecture Theater Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG UNPAR) pada Jumat (19/8/2022) lalu. Acara tersebut juga turut mengundang Pangesti Boedhiman selaku Head of Corporate Communication Kapal Api Global dan Andri Januar selaku Brand Manager Noore sebagai pembicara.

Romy menuturkan jika Bonus Demografi merupakan kondisi dimana generasi produktif usia 15-64 tahun jumlahnya lebih banyak dibandingkan generasi tidak produktif (usia 64 tahun ke atas). Puncak Bonus Demografi Indonesia sendiri disinyalir berada di tahun 2030. Maka dari itu, masa kini merupakan penentu kebenaran bonus demografi tersebut.

“Penentunya ada di kita semua. Usia kita sekarang adalah usia-usia produktif. Antara menjadi bonus demografi atau disaster demografi,” tuturnya.

Bonus Demografi tersebut mulai muncul sedikit demi sedikit. Hal tersebut dapat dilihat dari populasi Gen Z yang semakin banyak dan dapat menjadi kekuatan yang besar untuk unjuk gigi kepada dunia global mengenai produk lokal. Optimisme terhadap produk lokal pun mulai muncul.

Kendati demikian, rasa optimisme yang muncul tidak tumbuh begitu saja. Lebih lanjut, Romy menceritakan bahwa dirinya sempat memiliki rasa pesimis terhadap brand lokal. Optimisme tersebut muncul ketika dia bertemu Gen Z di dunia perkuliahan dengan berbagai inovasi. Kehadiran berbagai inovasi dari Gen Z tersebut pun merubah paradigma produk lokal di  Indonesia dari pesimis ke tahap optimis.

“Paradigma saya bergeser, brand lokal jadi bisa bersaing, brand lokal bisa menunjukkan inovasinya, dan harganya juga bisa mahal yang  dibuktikan dengan kinerjanya,” ucap Romy.

Lebih lanjut, Romy membandingkan percepatan inovasi yang terjadi di Korea berdasarkan pengalaman mahasiswinya yang melakukan pertukaran pelajar ke Korea. Menurut mahasiswi tersebut, kehidupan di Korea tergolong cepat dibandingkan Indonesia. Sehingga inovasi berjalan cepat juga.

Menurut Romy, jika dibandingkan dengan Indonesia, masyarakat Indonesia masih memiliki sifat santai. Karena, sumber daya yang sudah melimpah membuat masyarakat tidak harus melakukan usaha lebih untuk mendapatkannya.

“Sumber daya alam kita berlimpah. Jadi ya itu yang membuat kita sedikit lebih manja dibandingkan negara lain,” tuturnya.

Sebagai orang Indonesia, Romy mengatakan masyarakat seharusnya menunjukkan rasa bangga ketika menggunakan produk lokal (Local Pride). Local pride ini harus terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu dan tentu hal ini berkaitan dengan brand lokal yang harus terus berinovasi dan mulai menunjukkan keunggulan produknya. Hal tersebut merupakan tugas brand lokal agar masyarakat terus mengapresiasi, memakai, dan mencintai produk anak bangsa. 

“Sebenarnya kita punya potensi cuma mungkin kita tidak sadari. Tapi kunci utamanya kita perlu bersatu untuk mengangkat local pride supaya semakin terdengar lagi.” tutur Romy. 

Sementara itu, Andri Januar mengatakan bahwa Gen Z harus memiliki kreativitas tanpa batas, berdampak, dan mendukung produk anak bangsa. Brand Manager Noore tersebut memberikan sejumlah trik marketing yang Noore terapkan yaitu :

  1. Memperkuat identitas brand dengan terus menampilkan visual, pesan, dan pengalaman.
  2. Menceritakan bagaimana produk noore selalu mendukungmu apapun olahraganya. 
  3. Jadilah terhubung dengan audience dan konsumen melalui saluran digital. 
  4. Membangun koneksi melalui kegiatan offline.

Andri mengatakan jika produk juga harus memiliki suatu konsep dan cerita yang kuat untuk membentuk suatu branding.

“Kami menyadari bahwa sebuah produk yang bagus itu dimulai dari cerita yang bagus pula, jadi bisa sampai ke target audience,” ucap Andri. (JES/KTH-Humkoler UNPAR)

Berita Terkini

Kontak Media

Humas UNPAR

Kantor Sekretariat Rektorat (KSR), Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141 Jawa Barat

Aug 22, 2022

X