Home / Berita Terkini / Bhakti Ganva 2016, Kontribusi Mahasiswa untuk Pembangunan Kesehatan
Bhakti Ganva 2016, Kontribusi Mahasiswa untuk Pembangunan Kesehatan

Bhakti Ganva 2016, Kontribusi Mahasiswa untuk Pembangunan Kesehatan

Visi dan misi Indonesia Sehat 2025 merupakan suatu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) di bidang kesehatan yang telah digulirkan oleh pemerintah sejak 2005 silam. Dalam Indonesia Sehat 2025, masyarakat nantinya diharapkan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan memperoleh jaminan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang bermutu tidak hanya soal kemudahan akses atau jangkauan, melainkan juga harus didukung oleh infrastruktur kesehatan yang memadai.

Pembangunan infrastruktur penunjang kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan Posyandu menjadi bagian dari usaha untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2025. Pembangunan infrastruktur kesehatan yang memadai secara merata hingga ke pelosok negeri menjadi bagian dari kunci terbukanya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Pemerintah tentunya tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai Indonesia Sehat 2025. Perlu adanya dukungan aktif serta kontribusi positif dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah untuk melakukan pembangunan di sektor kesehatan menjadi celah bagi masyarakat untuk membantu mengisi ruang-ruang kosong tersebut.

Selain permasalahan dana, peningkatan kualitas kesehatan bukan hanya soal bagaimana program-program yang dibuat oleh pemerintah dapat menjangkau seluruh kalangan masyarakat secara merata, tetapi juga harus dibantu dengan usaha bersama untuk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri masyarakat itu sendiri. Hal ini karena, tanpa kesadaran, masyarakat hanya akan melihat program-program tersebut tanpa merasakan dampak nyatanya.

Pada tahun ini, Bhakti Ganva, sebuah program tahunan yang diadakan oleh Divisi Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil (HMPSTS) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur (HMPSArs) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berhasil membangun sebuah posyandu di Desa Bojongkoneng, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Awal pembangunan yang diresmikan pada 2 April 2016 oleh Wakil Rektor Bidang Modal Insani dan Kemahasiswaan Unpar, Dr. Paulus Sukapto, Ir., M.B.A. telah selesai dikerjakan.

Rabu (17/8), bangunan Posyandu Rengganis ‘15 diresmikan. Didasari keprihatinan atas kondisi dan pembangunan infrastruktur kesehatan yang belum merata di seluruh Indonesia, program ini diadakan dengan berlandaskan pada pengamalan makna sesanti Unpar, yakni “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti”, yang mengandung arti “Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat”.

Kegiatan pembangunan yang berlangsung selama 5 bulan ini menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk mencoba mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya selama duduk di bangku kuliah. Mahasiswa dilibatkan secara sukarela untuk membantu pelaksanaan program ini, sehingga mahasiswa juga secara tidak langsung belajar untuk peduli, melihat keadaan lingkungan sekitarnya, menemukan celah permasalahan yang ada, serta membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Mahasiswa bersama warga setempat mencari celah permasalahan yang ada dan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pengamalan nilai gotong royong yang menjadi nilai luhur bangsa Indonesia tergambar nyata dalam kegiatan ini. Warga setempat dilibatkan untuk membangun posyandu tersebut bersama-sama dengan mahasiswa. Interaksi yang terjalin antara warga setempat dengan para mahasiswa juga melahirkan dialog terbuka yang bermanfaat pada pendalaman pengetahuan mahasiswa terkait permasalahan yang ada di lingkungan tersebut.

Harapannya, program ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan kalangan akademis untuk dapat menelurkan karya-karya yang berdampak bagi masyarakat secara umum, serta belajar untuk peduli pada kondisi kehidupan lingkungan sekitarnya. Pembangunan Posyandu Rengganis’15  hanyalah contoh kecil dari bagaimana sebuah karya tidak hanya harus memiliki fungsi dan nilai estetika yang baik, tetapi juga dampak serta manfaat positif bagi orang banyak, yang berkontribusi pada pembangunan bangsa. Masyarakat setempat juga diharapkan dapat lebih menyadari pentingnya kesehatan dengan semakin dekatnya akses kesehatan di lingkungan mereka.

Hingga saat ini, masih banyak daerah lainnya di pelosok negeri yang membutuhkan bantuan karya nyata bermanfaat. Daerah-daerah tersebut belum dapat menikmati fasilitas infrastruktur yang memadai, khususnya di bidang kesehatan. Bhakti Ganva menjadi contoh nyata bagaimana pengabdian dan bantuan sederhana yang tepat sasaran dapat menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan bersama.

 

Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 23 Agustus 2016)