Home / Berita Utama / Belajar Jadi Pebisnis Muda
Pebisnis Muda

Belajar Jadi Pebisnis Muda

Johannes B. Widi terpilih untuk mengikuti International Convention of Future Business Leaders (ICFBL) di Manila oleh Program Studi Magister Administrasi Bisnis (PS MAB) Sekolah Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Bersama dengan Marcella Marlene, ia bertolak ke ibukota Filipina pada awal Agustus lalu. Pebisnis Muda

ICFBL berlangsung intensif selama tiga hari dan diisi oleh berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan ketajaman bisnis, mendorong pengembangan kolaboratif, dan memperluas perspektif untuk dapat memecahkan masalah dengan lebih baik, seperti konsultasi bisnis interkultural, simulasi bisnis, tur perusahaan, konferensi yang mengundang pebisnis top, tur ke Gawad Kalinga, dan pertukaran budaya.

Para pebisnis top di Filipina yang diundang sebagai pembicara dalam konferensi itu antara lain Country Head Google Philippines Kenneth Lingan, President & Managing Director 3M Philippines, Inc. Ariel Lacsamana, CEO SEO Hacker Sean Si, dan lainnya. Kepada Tim Publikasi, Johannes B. Widi, yang akrab disapa Widi, menyebutkan, ICFBL mengundang CEO, bukan hanya sekadar human resources atau hubungan masyarakat sehingga peserta mendapatkan pengalaman first-hand.

Bangun Networking di ICFBL

Ia ingat perkataan salah satu dosen penguji skripsinya yang juga mengajar di kampus Pascasarjana, Dr. Agus Gunawan. Bila ingin menjadi pemain besar namun baru saja menjadi sarjana, bagai ikan teri melawan ikan hiu, ujar sang dosen kepada Widi. Ikan teri dilepas bersama-sama, datang ke Jakarta, dan berhadapan dengan ikan-ikan hiu, lanjut Dr. Agus. Ia menasihati Widi untuk menetap di Bandung supaya dapat meningkatkan ilmu, pengalaman, magang, dan networking dengan para pebisnis kuat. Meskipun di Bandung banyak ikan hiu, namun minimal tidak sebanyak di ibukota, tambah Dr. Agus.

Maka, Widi pun mengambil kesempatan untuk melakukan networking di ICFBL. Bagi Widi, pengalaman ICFBL yang tidak terlupakan adalah ketika gala dinner. Ia dan Marcella duduk di samping seorang pemilik konsultan bisnis terpercaya di Filipina Xavier & Associates (X&A), yakni Xavier Alpasa.

“Dia impress banget dengan delegasi Indonesia. Setelah gala dinner, ia mengajak kita keliling-keliling Manila sampai jam tiga subuh. Sudah diajak makan, puas banget!” seru Widi sambil tersenyum lebar.

Selain networking, pengalaman dari ICFBL yang mengesankan bagi Widi adalah tur ke Gawad Kalinga. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota Manila sekitar 1.5 jam. Meskipun letaknya jauh dari berbagai akses dan berada di wilayah pedesaan, tetapi Gawad Kalinga mampu menjangkau bisnis-bisnis internasional. Widi menyebutkan, penduduk di desa itu berhasil menjual mainan yang dipajang di Toys R Us. Bahkan, sayuran-sayuran yang ditanam pun dipesan oleh hotel-hotel berbintang di Filipina, lanjutnya.

Biasanya, warga desa di Filipina hanya mampu berbahasa Tagalog atau menggunakan dialek lokal. Lain halnya di Gawad Kalinga. Kemampuan berbahasa Inggris penduduknya bak di kota metropolitan. Seringkali, mahasiswa asing bersekolah di desa itu, seperti Perancis. Pendiri Gawad Kalinga pun, lanjut Widi, berhasil menyekolahkan orang-orang di sana ke kampus-kampus ternama dunia, seperti Oxford dan Harvard.

Business Case Competition

Mengikuti ICFBL, bagi Widi, merupakan pengalaman yang mungkin saja tidak bisa ia dapatkan bila memasuki sekolah bisnis lain. Terutama, ketika ia berhasil masuk final dalam business case competition di ICFBL. Meskipun ia tidak keluar sebagai pemenang, namun kini ia memahami perbedaan pola pemecahan masalah tiap-tiap negara dalam menangani isu bisnis.

Kasus diberikan pukul delapan malam setelah konvensi yang berlangsung seharian penuh. Waktu penyelesaian kasus pun hanya satu malam dan dikumpulkan pada keesokan paginya. Kasus yang dibahas, lanjut Widi, adalah corporate social responsibilty (CSR) Starbucks. Dalam kompetisi itu, Widi mengerjakannya secara berkelompok dengan sembilan orang lainnya dari berbagai negara. Masing-masing kelompok berperan sebagai konsultan yang harus memberikan solusi kepada Starbucks mengenai kasus yang bersangkutan.

“Sepanjang hari (keesokan paginya), kita (para peserta) ikut konvensi yang mendatangkan pembicara dari Google, 3M, ada macam-macam, report kita dibaca sama pembicaranya juga, selain dengan dosen di Filipina. Jadi, hasil yang kami kerjakan, terbukti lah bisa dipertanggungjawabkan. Enggak cuma sekadar omongan belaka karena yang menilainya dosen dan praktisi,” ujarnya berapi-api.

Sebagai manusia yang hidup pada sebuah kampung global (global village), memahami cara berinteraksi dengan orang lain yang memiliki perbedaan latar belakang menjadi krusial. Pengalaman mengikuti kegiatan berskala internasional memiliki nilai tambahnya sendiri karena bisa mendapatkan keahlian interkultural, mengasah kemampuan people-to-people diplomacy, dan memahami keberagaman pola pikir.