Home / Berita Terkini / Bangun Bangsa dari Desa

Bangun Bangsa dari Desa

Oleh: Bagian Publikasi Unpar

Pembangunan yang kurang merata kerap berujung pada ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan tidak, atau kurang, menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya masyarakat di pelosok desa.

Dalam praktiknya, pemerintah telah menggalakkan bermacam upaya untuk mewujudkan masyarakat desa yang maju dan mandiri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah berharap bahwa masyarakat desa dapat sejahtera melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan.

Namun, apakah dengan diberlakukannya peraturan tersebut masyarakat desa lantas maju dan mandiri dengan sendirinya?

Peran Perguruan Tinggi

‘Pengabdian kepada Masyarakat’ sebagai pilar ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi dituangkan ke dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam hal perluasan wawasan, pengetahuan, maupun peningkatan keterampilan.

Penyelenggaraan kegiatan pengabdian masyarakat merupakan wujud dharma bakti serta bentuk kepedulian civitas akademika untuk berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat luas terlebih bagi masyarakat ekonomi lemah.

Selaras dengan sesanti Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” yang memiliki arti “Berdasarkan Ketuhanan, Menuntut Ilmu untuk dibaktikan kepada Masyarakat”, mahasiswa Unpar memiliki tanggung jawab untuk membaktikan ilmu-ilmu yang diperoleh saat perkuliahan kepada masyarakat sekitar melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

Kegiatan bakti desa menjadi salah satu opsi sebagai bentuk pengabdian masyarakat melalui pemberdayaan potensi lokal. Tidak hanya memberikan kontribusi teoritis, tetapi juga aspek praktis yang dilakukan melalui kegiatan konkret dalam membantu menciptakan kesimbangan di antara dimensi pembangunan yang berkelanjutan, seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Di sisi lain, isu pembangunan tidak hanya bicara mengenai tujuan makroekonomi, tetapi juga dimensi manusia. Artinya, proses ‘membangun’ akan melibatkan dimensi pemberdayaan masyarakat. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai obyek pasif, tetapi juga sebagai pelaku pembangunan yang siap untuk mengemukakan pendapat, menentukan pilihan hidup, dan berpartisipasi di dalam roda pemerintahan.

Pada prinsipnya, membangun masyarakat menjadi bagian dari tanggungjawab sosial dalam tridharma perguruan tinggi.

Unpar, melalui Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM Unpar) tengah menyelenggarakan program TOSAYA (TOSAYA merupakan akronim dari Ngabantos Sadaya (Bahasa Sunda) yang memiliki pengertian membantu sesama. Melalui program ini, Unpar berupaya melakukan program pengabdian kepada masyarakat secara berkesinambungan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, menjadi sasaran dari kegiatan TOSAYA 2016.

Kemandirian

Mengusung tema “Membangun Bangsa dari Desa”, TOSAYA dilatarbelakangi dengan fenomena keterbatasan warga Desa Tanimulya dalam mengolah sumber daya setempat. Melihat kondisi tersebut, LKM Unpar tergerak untuk mengadakan beberapa kegiatan dengan prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, ketika program TOSAYA telah usai, masyarakat tidak akan mengalami ketergantungan, tetapi menjadi masyarakat yang mandiri dalam mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada.

TOSAYA dilakukan dengan konsep edukatif, informatif, atraktif, interaktif, dan kondusif. Adapun beberapa kegiatan yang telah dilakukan yakni, sosialisasi, pelatihan hidroponik, penyuluhan kesehatan gizi, penyuluhan tentang wabah penyakit DBD, serta pengajaran bahasa Inggris, matematika, dan seni tari kepada anak-anak usia SD-SMP.

Melalui TOSAYA, masyarakat Desa Tanimulya memperoleh sosialisasi dan edukasi mengenai praktik pengolahan sampah, pembuatan desain serta RAB proyek-proyek desa. Adapun beberapa proyek kolaborasi yang dilakukan berupa pembangunan pos ronda; perbaikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini); kolaborasi proyek desa dalam pembuatan RAB dan desain drainase, lapangan futsal serta mushala Desa Tanimulya; penyelenggaraan klinik karir serta pemberian alat edukatif untuk membantu anak-anak dalam proses pembelajaran.

Diharapkan, kegiatan TOSAYA dapat memberikan dampak berkelanjutan, baik dari segi lingkungan, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat Desa Tanimulya.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 1 Maret 2016)