Home / Berita Terkini / Alumni Fisika Unpar Berbagi Pengalaman Kuliah Fisika di Luar Negeri dengan Beasiswa

Alumni Fisika Unpar Berbagi Pengalaman Kuliah Fisika di Luar Negeri dengan Beasiswa

Jurusan Fisika Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar) kembali menggelar Seri Webinar berjudul “Pengalaman Kuliah Fisika di Luar Negeri dengan Beasiswa” pada Kamis (30/07/2020). Kegiatan ini mengundang dua alumnus program studi Fisika Unpar yaitu Yoshinta E Setyawati (Mahasiswi Albert Einstein Institute Hannover Jerman) dan Meutia Wulansatiti (Mahasiswi Florida State University) sebagai pembicara. 

Pada webinar ini Yoshinta dan Meutia berbagi pengalaman mengenai perkuliahan Fisika di luar negeri dengan beasiswa serta hal-hal apa yang perlu dipersiapkan agar dapat memperoleh beasiswa tersebut.

Mengapa masuk ke Fisika Unpar?

Sejak sekolah Yoshinta memang menyukai Fisika dan memiliki rasa ingin tahu mengenainya. Ia memilih Fisika Unpar karena silabus yang dianggapnya bagus dan terdiri dari pengajar yang kredibel. Menjadi suatu tantangan baru bagi Yoshinta ketika memutuskan untuk ke Bandung karena bukan merupakan kota sehari-harinya. Namun Ia belajar untuk menjadi independen ketika hidup sendiri di kota yang baru.

Sama seperti Yoshinta, Meutia juga merasa fisika sangat menarik, terutama fisika modern. Ia juga hobi untuk menonton film dan video terkait Fisika. Fisika Unpar dipilihnya karena latar belakang orangtua yang berprofesi sebagai dosen di Unpar dan sejak kecil sudah berdomisili di Bandung. 

S2 di Luar Negeri

Pada awalnya Yoshinta mengira studi di Belanda erat kaitannya dengan keindahan alamnya, banyak spot foto menarik, dan terasa seperti liburan setiap harinya. Namun pada kenyataannya Ia merasakan culture shock yang beragam seperti setiap hari termasuk weekend jarang keluar dari rumah/ kamar karena banyak yang harus dipelajari, bepergian kemana-mana harus dengan sepeda, dan restoran yang jauh dari akomodasi Yoshinta. Ketika sudah lewat jam makan malam, maka restoran akan tutup. Selain itu iklim 4 musim yang membuat harus beradaptasi dari Indonesia beriklim 2 musim. 

Kurikulum Fisika di Radboud Belanda terdiri dari 2 tahun. Tahun pertama terdapat 2 semester (4 kuartal) dan full courses (60 ECTS). Tahun kedua sudah tidak ada kuliah lagi, melainkan full research, penulisan tesis, dan defense

Lain cerita dengan Meutia yang berada di Florida, Amerika. Ketika Ia pertama kali menginjakkan kaki di Florida, cuacanya begitu panas dan udaranya lembab. Tinggal di Florida menurut Meutia lumayan membuatnya nyaman karena masyarakat setempat sangat friendly, namun sama seperti Yoshinta, kebanyakan restoran di Amerika tutup setelah jam makan yaitu pukul 7 malam.

Di Florida State University 2 tahun pertama difokuskan untuk full courses. Terdapat Qualifying Exam untuk mendapatkan gelar Ph.d ketika lulus, namun jika tidak lulus ujian tersebut tetap akan lulus dengan gelar Master.

Beasiswa

Meutia bercerita, graduate school di bidang fundamental science di Amerika mayoritas akan mendapatkan bantuan/funding dari Assistantship Associate. Assistantship terdiri dari 2 jenis yaitu Teaching Assistant (TA) dan Research Assistant (RA). Jika mengambil program TA maka kita harus bekerja, tetap melakukan penelitian, tetapi akan mendapatkan gaji. Gaji tersebutlah yang dipakai untuk membayar sekolah dan masih sangat cukup untuk kebutuhan pribadi. RA hanya melakukan riset dan akan digaji oleh advisor karena telah membantu penelitiannya. Besar kecilnya gaji tergantung dari funding yang didapat oleh advisor terkait.

Di awal perjalanan S2 Yoshinta mendapatkan beasiswa dari LPDP. LPDP mengcover tuition fee dan biaya hidup selama berkuliah. Kelebihan dari beasiswa LPDP terorganisir, kompetitor diri sendiri (tidak ada kuota), networking, siapa saja dapat mendaftar, ada kegiatan awardee di setiap area, kerjasama dengan universitas, allowance fee tepat waktu, dan ada ikatan alumni. Namun ada beberapa kekurangan dari LPDP seperti syarat administrasi yang banyak, laporan progress kuliah setiap 3 bulan, pembiayaan sesuai maksimal durasi setelah studi, harus kembali ke Indonesia setelah lulus, dan dilarang untuk part time di negara studi.

Yoshinta berpesan, “Bandingkan terlebih dulu kelebihan dan kekurangan arah hidup setelah lulus S1 karena perjalanan hidup sangat panjang kedepannya. Memilih lanjut studi ataupun langsung bekerja adalah pilihan masing-masing“. “Graduate school memang tidak mudah. Tidak cukup hanya tertarik dengan bidangnya, namun harus ada pengorbanan dan kerja keras agar dapat melaluinya. Bayangkan gambaran besar diri kita setelah lulus ingin menjadi apa.” tutup Meutia. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)