Home / Berita Terkini / Menikmati Keberagaman di Unpar

Menikmati Keberagaman di Unpar

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) telah sejak lama terkenal sebagai kampus yang pluralis. Di lingkungan ‘Indonesia Kecil’ ini, orang dari berbagai latar belakang identitas menyatu menjadi sebuah komunitas akademik. Tidak terkecuali saudara-saudari yang beragama Islam yang sehari-hari beraktivitas, baik sebagai mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan di Unpar.

Hal ini tidak lepas dari salah satu nilai dasar yang dipegang oleh Unpar yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Meski di dalam kesatuannya penuh dengan perbedaan, komunitas Unpar terus diajak untuk meningkatkan sikap saling menghargai antar sesama, di dalam dan di luar lingkungan universitas. Hal ini ditanamkan khususnya dalam aktivitas pembelajaran mahasiswa secara akademik juga dalam aktivitas pergaulan dan organisasinya.

Meski mengusung nama Katolik, Unpar sebagai institusi pendidikan selalu membuka diri kepada seluruh masyarakat. “Meskipun namanya universitas Katolik, tapi gak menutup kemungkinan untuk orang-orang non-Katolik untuk masuk Unpar,” tutur Melati Ramadhani (Hukum 2016), salah satu mahasiswi muslim di Unpar. Memang, tidak sedikit mahasiswa yang beragama selain Katolik yang menempuh jenjang pendidikan tingginya di kampus Unpar.

Saat ditanya mengapa dirinya sebagai muslim namun memilih meneruskan pendidikannya di kampus Katolik, Wina Sugiani (Adpub 2016) mengatakan bahwa dirinya melihat dari kualitas kampus Unpar secara keseluruhan, juga akreditasi jurusan yang diinginkannya, dan melihat dari kualitas lulusan-lulusan Unpar itu sendiri. Sama hal nya dengan Mario Sumiharto (HI 2016), ia memilih kampus Unpar karena lingkungan sosialnya yang heterogen dan hal tersebut bisa menjadi tantangan baru bagi dirinya yang hanya bisa didapatkan di kampus Unpar.

Ramadan Bersama Unparian

Momen penting dalam kehidupan umat muslim adalah Ramadan, karena bulan Ramadan mempunyai makna yang sangat istimewa. Dalam bulan suci ini dapat dilihat bagaimana komunitas Unpar saling menghormati saudara-saudaranya yang beragama muslim dalam menyambut bulan suci ini. ”Selama bulan puasa di Unpar lancar-lancar aja. Bahkan kadang aku juga nemenin temen-temenku yang non-muslim makan, dan mereka juga nemenin aku buka puasa, jadi ada pembelajaran saling menghargai satu sama lain juga,” ungkap Melati.

Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar Unpar (SINDU), menjadi pedoman bagi seluruh komunitas akademik Unpar dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Salah satunya adalah hidup dalam keberagaman, yang dijadikan sebagai panutan setiap pribadi komunitas Unpar. “Karena kantin di unpar hampir semua buka, tetapi ketika mereka makan atau minum di depan orang yang berpuasa (mereka) meminta izin dan meminta maaf terlebih dahulu,” tutur Wina.

Rasa saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama sangatlah penting. Dibutuhkan rasa toleransi dan rasa saling menghormati yang tinggi agar tidak pernah terjadi gesekan konflik antar umat beragama. Hal tersebut juga yang menjadi nilai yang selalu dijunjung oleh Unpar dan hal tersebut dapat dilihat di dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa Unpar.

“Di Unpar saling menghargai banget, selama aku di Unpar, dan aku juga pake kerudung, sama sekali gak ada diskriminasi dan kita sama aja semuanya walaupun beda agama. Kadang juga aku suka minta temen aku yang non-muslim untuk nemenin aku sholat bahkan kadang mereka juga yang ngingetin,” kata Melati. “Pokoknya bener-bener menghargai satu sama lain banget dan gak ngebeda-bedain walaupun kita beda agama.”

Unpar selalu mengembangkan ilmu yang nantinya akan diabdikan kepada masyarakat, sesuai dengan sesantinya yaitu “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.” Visinya didasarkan kepada perwujudan masyarakat yang humanum, penuh cinta kasih, dan selalu menjunjung tinggi keberagaman. Selama 64 tahun berdiri, Unpar telah membuktikan diri mampu menciptakan lingkungan yang pluralis bagi komunitas akademiknya yang tercermin dalam kehidupan mahasiswa-mahasiswa Unpar.