Home / Berita Terkini / Yessy Venisia, Atlet Renang Indonesia

Yessy Venisia, Atlet Renang Indonesia

Berawal dari menemani sang kakak yang rutin berolahraga renang untuk menyembuhkan asma, Yessy Venisia Yosaputra mulai belajar berenang sejak usia lima tahun. “Aku punya dua kakak. Satu laki-laki, satu perempuan. Kakak laki-laki, dia punya asma. Jadi, papa aku bawa dia berenang, biar sembuh”, ungkapnya.

Kepada Tim Publikasi Unpar Yessy mengatakan, saat itu ia bersama ayahnya sering menemani sang kakak ke kolam renang. “(Senang) maen air gitu. Terus, jadi sekalian belajar (renang)”, ucapnya.

Yessy yang baru-baru ini meraih medali perak dalam ajang SEA Games 2017, memiliki segudang prestasi dalam cabang olahraga renang dan acapkali mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan. Ia telah berhasil meraih lebih dari 20 medali di ajang kompetisi renang tingkat nasional maupun internasional. Yessy juga pernah membawa pulang empat medali serta predikat best swimmer di ajang  Liga Mahasiswa (Lima) Swimming 2015.

Pada Agustus 2016, Yessy mewakili Indonesia di Olimpiade Rio. Keikutsertaannya dalam kejuaraan dunia di Kazan, Rusia, di tahun sebelumnya menjadi kunci keberangkatan mahasiswi Program Studi Akuntansi Unpar angkatan 2013 tersebut ke Rio de Janeiro, Brasil. Setelah kepulangannya dari negeri Samba, Yessy mewakili provinsi Jawa Barat pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih medali emas pada nomor 200 meter gaya punggung putri.

Medali perak dalam SEA Games 2017

Hingga tahun 2017, Yessy sudah mengikuti ajang SEA Games sebanyak empat kali sejak 2011. Dalam ajang dwi tahunan tersebut, ia berhasil memboyong 6 medali yaitu 1 emas, 3 perak, dan 2 perunggu.

Menurutnya, kualifikasi untuk bisa menjadi bagian tim Indonesia dalam SEA Games tahun ini lebih sulit jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Indonesia biasanya mengirimkan hingga 25 orang atlet renangnya dalam ajang tersebut. Seleksi tahun ini diperketat.

“Kalau taun ini Indonesia cuma ngirimin 20 orang (atlet renang)”, ujarnya. Dari awal, kata Yessy, ia mengikuti seluruh rangkaian seleksi hingga ia berhasil menjadi salah satu perwakilan Indonesia pada cabang olahraga renang.

Persiapan pelatihan SEA Games tahun ini berlangsung sejak 2016 yang berlokasi di Bali. Yessy mengatakan ia dan seluruh tim berlatih dari Senin hingga Sabtu. Jadwal latihan dalam sehari dua kali, pukul enam pagi dan dua siang. “Kurang lebih sekali latian (lamanya) bisa dua hingga dua setengah jam. Jadi, seminggu itu, bisa berenang sekitar 10x”, terangnya. Selain itu, imbuhnya, ada juga latihan fisik seperti fitnes yang dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu.

Tidak hanya persiapan fisik, Yessy juga dituntut untuk mengatur pola hidupnya seperti waktu makan, tidur, dan istirahat. Baginya, ia sudah cukup memahami bagaimana mengatur pola makan, makanan apa yang boleh ia makan serta mana yang tidak dianjurkan dan harus dibatasi. Termasuk juga jam tidur. Biasanya pukul 10 malam, Yessy sudah pergi tidur.

Rasa deg-degan sebelum dan selama perlombaan sudah biasa dirasakan para atlet, tidak terkecuali dengan Yessy. “(Saat lomba), pada akhirnya kita fokus berenang. Malah yang bikin grogi itu sebelum tanding”, ungkapnya yang mengidolakan Missy Franklin, perenang berkebangsaan Amerika-Kanada.

“Kalo di SEA Games (tahun ini), target aku bisa raih medali perak,” jelasnya antusias. Ia merasa bersyukur target tersebut pada akhirnya dapat tercapai.

Antara kuliah dan latihan

Membagi waktu kuliah dan latihan untuk mempersiapkan kejuaraan renang adalah hal yang berat bagi Yessi. “Itu yang sejujurnya berat. Antara harus ngatur kuliah, sama ngatur latian”, ungkapnya. Misalnya saja ajang SEA Games yang menurutnya merupakan event besar. “SEA Games kan event besar. Jadi harus bener-bener fokus”, katanya.

Saat ini, bisa dikatakan menjadi waktu rehat sementara bagi Yessy dalam kaitannya dengan persiapan perlombaan renang. Ia mengungkapkan, kesibukannya sekarang adalah menyelesaikan kewajiban kuliahnya, dengan tetap melakukan latihan (renang) rutin di sela waktu kuliah. Di waktu senggangnya, Yessy biasanya menghabiskan waktu di rumah untuk sekadar membaca buku atau hang-out bersama teman-temannya.

Terus menggapai cita

Ketertarikannya dalam dunia olahraga renang terinspirasi pula dari kakak perempuannya yang juga merupakan seorang perenang. Perempuan kelahiran Bandung, 23 tahun silam tersebut mengungkapkan, menjadi seorang atlet renang seperti sekarang ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Sejujurnya aku ga nyangka bisa jadi atlet (renang), apalagi bisa sampe punya prestasi. Menang di SEA Games, terus ikut olimpiade juga,” ujarnya. Ia sering mengikuti perlombaan renang antarsekolah, yang membuatnya semakin termotivasi untuk terus berkarya dan berprestasi.

Semasa kecil, Yessy mengungkapkan ia ingin menjadi seorang guru. “Pernah kepikiran, apa aku setelah beres (menjadi atlet renang), jadi pelatih renang aja”, katanya tertawa.

Yessy berharap tahun depan ia bisa menjadi salah satu wakil Indonesia dalam ASEAN Games 2018. Ia mengungkapkan, jika dirinya berhasil menjadi bagian tim atlet Indonesia untuk ajang tersebut, impiannya dapat terwujud. “Dari SEA Games, olimpiadenya udah, terus ASEAN Gamesnya udah,” harapnya.

Ia meyakini perjalanan menuju keberhasilan adalah sebuah proses panjang yang harus dinikmati. “Walaupun kita gagal, kita harus usaha terus. Karena pada akhirnya kalo kita usaha, lama kelamaan kita akan sukses”, demikian jawabnya ketika ditanya tentang motto hidup.

Yessy mengajak teman-teman yang sedang menggapai cita untuk terus berfokus pada tujuan. Pada akhirnya, kesuksesan itu akan bisa dinikmati. “Jangan pernah menyerah!”, pungkasnya penuh semangat.