Home / Berita Terkini / Wujudkan Semangat Kartini dalam Pendidikan Tinggi

Wujudkan Semangat Kartini dalam Pendidikan Tinggi

Siapa sangka jika seorang perempuan muda dalam lingkungan Jawa yang lahir 138 tahun yang lalu akan membawa perubahan yang begitu besar bagi bangsa Indonesia di kemudian hari? Dia adalah Kartini, seorang anak kaum priyayi Jawa yang sangat mendambakan perubahan. Pemikirannya yang jauh ke depan terbukti melampaui usia, bahkan masanya sendiri.

Hal tersebut diakui oleh kalangan terpelajar masa itu, bahkan kawan-kawan seperjuangannya yang berasal dari Eropa. Salah satunya kita kenal sebagai Nyonya Abendanon, yang secara telaten mengumpulkan korespondensi sang Putri Jawa ini, serta membukukannya sehingga generasi Indonesia masa kini dapat meneruskan semangat emansipasi Kartini.

Kini, semangat Kartini mendasari pembaruan dalam kehidupan sosial Indonesia, khususnya bagaimana masyarakat memandang kedudukan perempuan. Lebih dari seabad sejak masa Kartini, masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang lebih progresif mengenai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang.

Perempuan dalam Perguruan Tinggi

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi bagi semua, semakin banyak perempuan muda meraih kesempatan untuk belajar hingga ke jenjang yang tinggi, juga membagikan ilmunya bagi peserta didik. Dalam pandangan Prof. Bernadette Waluyo, salah satu Guru Besar dan dosen senior Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), kegigihan dan ketekunan ini merupakan sesuatu yang layak diapresiasi, selama perempuan tidak melupakan keistimewaan kodratinya.

Meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi terlihat dari jumlah tenaga pengajar perempuan maupun mahasiswi di perguruan tinggi di Indonesia. Pangkalan Data Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi mencatat, saat ini ada lebih dari 115 ribu dosen perempuan, sekitar 43 persen dari jumlah keseluruhan dosen yang mengajar di berbagai instansi perguruan tinggi. Jumlah mahasiswi Indonesia di atas 2,7 juta orang dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang mendekati 2,4 juta. Tren ini terjadi secara merata, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, termasuk Unpar.

Meskipun serupa dan memiliki berbagai kesamaan, ada beberapa hal yang membuat tenaga pendidik perempuan memiliki keistimewaan. Menurut Prof. Bernadette, kepekaan yang khas dan sentuhan keibuan menyebabkan hasil pendidikan yang dilakukan oleh perempuan menyentuh seluruh ranah dalam diri peserta didik. Hal ini juga didorong oleh pendidikan yang tidak hanya berdasarkan pengetahuan teoretis, tetapi juga lewat pengalaman dan contoh nyata.

Hal tersebut memberikan dampak yang sangat kentara bagi lulusan pendidikan tinggi, seperti kemampuan beradaptasi yang baik serta pola pikir yang progresif dan berbeda.

Melawan Stigma

Meskipun tenaga pendidik perempuan mengalami peningkatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, bukan berarti masyarakat sudah menerima hal tersebut secara terbuka. Ada masyarakat yang mengaitkan perempuan pada stigma-stigma tertentu. Namun, Kepala Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unpar Sylvia Yazid Ph.D. menyatakan, stigma tersebut tidak berlaku dalam kalangan akademis.

Dengan perubahan yang terjadi, khususnya terkait peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan keluarga, stigma yang berlaku dalam masyarakat semakin tidak tepat. Namun, hal terpenting yang disampaikan olehnya adalah peran akademik menuntut proses berpikir yang terus menerus, yang tidak terkait pada jender tertentu.

Perempuan, sebagai pelaku keilmuan, sejatinya memiliki kebebasan, kemampuan, dan kekuatan untuk memilih jalan hidup: menjadi seorang akademisi, mengabdi bagi keluarga dan masyarakat, maupun melakukan keduanya secara bersamaan. Hal ini karena semua akademisi, laki-laki dan perempuan, dituntut untuk memiliki tanggung jawab dalam pengembangan ilmu serta mengabdikan diri pada masyarakat.

Karena tanggung jawab ini, yang juga dianut dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, perempuan bebas berkontribusi dalam pengembangan keilmuan dan pengembangan kehidupan secara umum.

Kartini dahulu bermimpi akan kemajuan bagi perempuan, untuk mengembangkan ilmu dan diri dalam kerangka pengetahuan yang bebas. Kini, perlahan tetapi pasti, mimpinya terwujud melalui semangat perempuan dalam mengemban ilmu, khususnya di jenjang pendidikan tinggi. Perempuan, sebagai individu yang unik, sekali lagi membuktikan semangat emansipasi, bahwa mereka siap mengemban dan mengembangkan ilmu, serta mengabdi bagi keluarga, masyarakat, dan dunia.

 

Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 26 April 2017)