Home / Alumni / Wisuda, Awal Masuki Dunia Baru

Wisuda, Awal Masuki Dunia Baru

Wisuda, menjadi sebuah momen perayaan syukur bagi para calon wisudawan untuk secara khidmat disemati gelar sebagai lulusan, baik jenjang diploma, sarjana, magister, dan doktor. Wisuda juga menjadi momen bahagia bagi para orang tua, kerabat, sanak saudara, kawan, serta keluarga besar sebuah sivitas akademika.

Sidang skripsi, tesis, dan disertasi menjadi momen pamungkas yang harus dilalui mahasiswa untuk secara resmi meraih gelar akademik. Berbagai tantangan yang berhasil dilalui, menjadi warna tersendiri ketika seorang mahasiswa lulus dalam sidang tersebut.

Tentu saja, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pencarian ilmu kehidupan. Momen wisuda menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia baru, yakni membagikan ilmu dan pengalaman mereka untuk membaktikan diri kepada masyarakat.

Upacara Wisuda II Unpar (2017-2018)

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) kembali melantik lulusannya dalam Upacara Wisuda II tahun akademik 2017-2018. Sebanyak 1,352 wisudawan mengikuti proses pelantikan di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Sabtu (15/9/2018).

Sidang terbuka ini dipimpin oleh Senat Unpar, dan dihadiri pula oleh perwakilan Yayasan Unpar, IKA Unpar, segenap sivitas akademika Unpar, para tamu undangan, orang tua wisudawan, kerabat serta kawan para lulusan.

Secara rinci, pada wisuda kali ini, terdapat 325 lulusan Fakultas Ekonomi, 175 lulusan Fakultas Hukum, 293 lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 252 lulusan Fakultas Teknik, 26 lulusan Fakultas Filsafat, 224 lulusan Fakultas Teknologi Industri, serta 57 lulusan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains. Adapun para lulusan terbagi ke dalam jenjang diploma, sarjana, magister, dan doktor.

Upacara Wisuda dimulai dengan prosesi pembukaan oleh Lingkung Seni Tradisional (Listra) Unpar, yang mengiringi masuknya Senat Akademik, beserta perwakilan dari Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar. Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar juga turut membawakan sejumlah lagu selama acara berlangsung.

Dalam kata sambutannya, Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D mengatakan bahwa peristiwa wisuda ini tidak sekadar menambah jumlah alumni Unpar menjadi 60,958 yang merupakan akumulasi dari 63 tahun usia Unpar. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pertanggungjawaban Unpar kepada para mahasiswa, keluarga, masyarakat, dan pemerintah bahwa Unpar melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai lembaga pendidikan tinggi dengan sangat baik.

“Semoga segala yang baik yang selama ini telah dicapai dapat ditingkatkan. Semoga para wisudawan maju dan terus berkembang. Dan semoga segala kehendak baik, komitmen, dan dedikasi untuk memajukan Unpar dan memajukan bangsa dan negara mendapatkan pahala dan berkat dari Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Pengasih,” ungkap Mangadar.

Janji wisuda

Pada kesempatan tersebut, Janji wisuda disampaikan oleh Mathilda Dwi Lestari, lulusan HI Unpar yang juga merupakan salah satu tim pendaki The Women of Indonesia Seven Summits Mahitala Unpar (WISSEMU).

Muhammad Arifin Dobson, lulusan Fisika Unpar berkesempatan untuk menyampaikan pidato Pamit Wisuda. Arifin yang pernah mewakili Unpar dalam ajang penghargaan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2017, mengajak alumni Unpar untuk bersama menghadap ke masa depan, sebuah kanvas kosong yang baru.

“Saya berharap kita juga tidak lupa untuk menambahkan pengabdian pada masyarakat, membangun bangsa, dan impian untuk menjadi orang yang bermanfaat pada daftar apa yang harus dikerjakan di masa yang akan datang,” ungkap Arifin yang pernah mengemban tugas sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Unpar 2017-2018.

“Hidup Unpar! Hidup Bangsa Indonesia!” serunya menutup pidato.

Makna busana wisuda Unpar

Warna dasar hitam dari busana para wisudawan Unpar merujuk pada warna busana khas yang digunakan baik oleh kalangan ningrat maupun rakyat jelata dalam lingkup masyarakat Sunda. Warna toska menjadi penghias busana hitam para wisudawan tingkat diploma dan sarjana, di samping tambahan warna perak (magister) dan emas (doktor) untuk tingkat pascasarjana.

Adapun medali berbentuk tetes air menampilkan logo Unpar dengan hiasan tetumbuhan berlatar belakang warna toska. Medali itu mengingatkan para wisudawan akan Spiritualitas dan Nilai-nilai Dasar Unpar (Sindu).

Pengalungan medali dari kepala hingga bergantung di dada juga menegaskan perlambangan bahwa Unpar telah memberikan tidak hanya bekal intelektual, tetapi juga spiritual. Semoga para wisudawan dapat meninggalkan Unpar dan berkarya di mana pun dan tetap menyimpan di dalam hati segala kenangan dan pengalaman berharga di Unpar.

Wisuda tidak hanya menjadi momen akhir dari kehidupan perkuliahan bagi mahasiswa Unpar. Pelantikan ini menandai dimulainya tugas dan tanggung jawab setiap lulusan Unpar untuk mengabdi bagi masyarakat. Karya pengabdian bagi bangsa dan negara menjadi perwujudan Sesanti Unpar, “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” dalam diri setiap alumnus Unpar.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 25 September 2018)