Home / Berita Terkini / WISSEMU, Selangkah Menuju Puncak Ke-7
WISSEMU

WISSEMU, Selangkah Menuju Puncak Ke-7

WISSEMU berhasil menapaki puncak Denali di Alaska, Amerika Utara pada Sabtu (1/7) pukul 19.40 waktu setempat atau Minggu (2/7) pukul 10.40 WIB. Puncak keenam dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua ini berhasil didaki oleh Mathilda Dwi Lestari dan Fransiska Dimitri Inkiriwang. Pencapaian itu sekaligus menjadikan kedua mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) ini sebagai pendaki perempuan Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di Puncak Denali.

Kini, WISSEMU harus berjuang untuk mempersiapkan diri mendaki Gunung Everest (8.850 mdpl) di Pegunungan Himalaya, Nepal-Tibet, perbatasan Tiongkok pada musim pendakian tahun 2018 mendatang. Koordinator tim pendukung WISSEMU Nadya Adriane Pattiasina menyebutkan, Mathilda dan Deedee direncanakan untuk berangkat pada April 2018.

Sampai dengan tulisan ini dibuat, Mathilda dan Deedee masih berada di Amerika Serikat untuk beristirahat dan pemulihan kulit yang terbakar setelah pendakian Denali, ungkap Nadya. Tim pendukung di Bandung sedang mempersiapkan kepulangan dua srikandi Indonesia itu ke Jakarta. “Setelah itu, mempublikasikan secara gencar dan mendapatkan awareness dari Jokowi dan Menpora. Kita (tim WISSEMU) ingin mendapatkan awareness dari Jokowi karena olahraga perjalanan bebas atau mountaineering ini belum terlalu diapresiasi, juga supaya mendukung (ekspedisi ini),” tambah Nadya kepada Tim Publikasi.

Ia menjelaskan, persiapan fisik untuk pendakian Everest akan lebih berat dari porsi latihan yang sudah pernah dilakukan untuk gunung-gunung sebelumnya. Sebab, fisik dan napas orang Indonesia yang cenderung lebih kecil dapat menjadi masalah di ketinggian di atas 8 ribu meter itu. Latihan pun, lanjut Nadya, akan dilaksanakan selama delapan bulan dan akan dimulai pada Agustus mendatang.

Iklim pun berpengaruh besar terhadap kekuatan fisik. Koordinator Publikasi WISSEMU Akbar Fadhilah mengatakan, orang Indonesia terbiasa dengan iklim tropis yang cenderung panas dan lembap, sedangkan suhu di Gunung Everest sangat dingin, yaitu -20 hingga -30 derajat Celsius. Sehingga, orang Indonesia akan kesulitan untuk menyesuaikan napas di ketinggian dan suhu ekstrem yang cenderung minim oksigen. Maka, tim pendukung akan memperbanyak latihan aklimatisasi untuk Mathilda dan Deedee.

Porsi latihan WISSEMU, seperti dalam pendakian Denali, diberikan oleh agen pendakian yang digunakan oleh tim. Dari senarai itu, sulit untuk memenuhi latihan karena masalah geografis. Namun, sebelum WISSEMU, Mahitala sudah pernah melakukan ekspedisi serupa yang bernama Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) yang terdiri dari empat mahasiswa, yaitu Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans Tumakaka, Broery Andrew Sihombing, dan Janatan Ginting. Maka, tim menanyakan pengalaman ISSEMU dan mengombinasikan berbagai latihan. Misalnya, latihan menarik ban yang diibaratkan sebagai sled atau kereta luncur yang ditarik di atas salju. Selain itu, latihan menggunakan crampon (alat traksi yang menempel pada alas kaki untuk meningkatkan mobilitas di atas salju dan es pada pendakian es). Namun, karena tidak ada salju di Bandung, maka tim latihan di atas pasir di Gunung Tangkuban Perahu. Latihan lainnya adalah VO2 Max, yaitu volume maksimal oksigen yang diproses oleh tubuh ketika berkegiatan intensif yang dinyatakan dalam liter per menit atau mililiter per menit per kilogram berat badan, yang menggunakan standar ISSEMU.

Porsi latihan yang dirancang untuk Mathilda dan Deedee pun, kata Nadya, harus lebih berat daripada di lapangan supaya keduanya tidak kesusahan. Akbar menambahkan, meski latihan lebih berat, namun tidak berlebihan karena hanya akan membuat keduanya cedera.

Seperti halnya ekspedisi-ekspedisi lain, berbagai kesulitan kerap ditemui. Untuk WISSEMU sendiri, Nadya menyebutkan, tim pendukung tidak memiliki pembanding dan referensi untuk perempuan Indonesia yang sudah pernah ke Everest untuk dijadikan standar. Maka, tim menggunakan referensi ekspedisi dari luar, kendatipun perbedaan fisik dengan orang Barat.

Dalam segi logistik, tim harus memperbaharui berbagai peralatan pendakian karena tidak ingin mengambil risiko menggunakan barang yang sudah tidak aman. Selain itu, tim juga harus mengejar pendanaan untuk pendakian Everest yang bila diakumulasikan setara dengan anggaran pendakian enam gunung sebelumnya.

Untuk mendaki Gunung Everest, tim harus memesan jasa Sherpa dan menyiapkan dana tunai. Sherpa adalah kelompok etnis di Nepal yang bermukim di Pegunungan Himalaya, yang kerap berprofesi sebagai portir pada ekspedisi pendakian gunung. Selain itu, kesiapan fisik Mathilda dan Dee harus sudah mencapai 50 persen karena keterbatasan Sherpa dan jumlah pendaki yang juga dibatasi per musimnya sehingga harus memesan tempat.

Bulan April hingga Mei merupakan waktu yang banyak digunakan para pendaki untuk menapaki Puncak Everest karena, diketahui pada bulan tersebut, hembusan angin minim. Maka, WISSEMU merencanakan keberangkatan pada pertengahan April mendatang. Nadya menjelaskan, operasional di lapangan memakan waktu 59 sampai 62 hari. Satu bulan pertama, pendaki akan melakukan aklimatisasi ke gunung-gunung sekitar. Pada bulan selanjutnya, usaha mendaki Puncak Everest dimulai.

“Kalau misalnya April, biasanya pertengahan belasan April (berangkat), tergantung dari agen. (Sampai ke) puncaknya tuh biasanya Mei, di Hari Kebangkitan ya tanggal 20 Mei, targetnya sih gitu, kita ngibarin bendera,” pungkas Nadya.