Home / Alumni / WISSEMU Menuju Puncak Dunia
puncak

WISSEMU Menuju Puncak Dunia

Pada Selasa (27/3), lapangan parkir rektorat dipenuhi oleh barisan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (UKM Mahitala) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Dalam upacara sederhana, Unpar melepas dua pendaki perempuan yang tergabung dalam The Women of Indonesia’s Seven Summit Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), yaitu Fransiska Dimitri Inkiriwang (Dee Dee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda), dalam ekspedisi menuju Everest, puncak tertinggi di dunia. Selain dihadiri oleh anggota Mahitala, upacara dihadiri pula oleh perwakilan Bank Rakyat Indonesia (BRI) selaku sponsor ekspedisi, perwakilan dari Wanadri dan kelompok mahasiswa pencinta alam dari berbagai universitas di Kota Bandung, serta sejumlah anggota Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar.

Bertindak selaku pembina upacara, Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D secara simbolis melepas tim WISSEMU dengan menyerahkan sang saka Merah Putih serta bendera Unpar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendampingi kedua anggota WISSEMU. Ia merangkum harapan seluruh sivitas akademika Unpar juga masyarakat Indonesia bagi tim Mahitala Unpar dalam menyelesaikan pendakian terakhir “7 Summits”.

Perjuangan penuh totalitas Dee Dee dan Hilda merupakan hal yang luar biasa, dan karenanya patut untuk diapresiasi. “Harapan, doa kita, agar kedua orang ini sungguh bisa mewujudkan cita-cita, menunjukkan sikap perjuangan, ketangguhan, dan kepribadian yang luar biasa itu,” ungkap beliau. Di luar itu, ia juga menekankan kolaborasi yang dilakukan oleh Tim WISSEMU dengan berbagai pihak, khususnya Mahitala dan Unpar, merupakan hal penting yang mampu mewujudkan keberhasilan mereka, yang akan mengangkat martabat perempuan dan Bangsa Indonesia.

Upacara diakhiri dengan doa bersama serta pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur. Tujuh tumpeng yang melambangkan tujuh puncak dunia kemudian menjadi sajian santap siang bersama. Sebelum berangkat menuju Nepal, Tim Wissemu akan melakukan konferensi pers di Istana Negara, Jakarta. Keduanya akan berangkat menuju Kathmandu, Nepal pada Kamis (29/3) malam.

Bersiap menghadapi Everest

Ditemui Tim Publikasi seusai upacara, baik Dee Dee maupun Hilda mengungkapkan berbagai harapannya akan ekspedisi ini. Berbicara mengenai latihan, WISSEMU tidak main-main mempersiapkan diri menghadapi Everest. Tidak tanggung-tanggung, bagi mereka latihan menghadapi puncak ke-7 ini adalah enam gunung yang sebelumnya telah mereka taklukkan selama empat tahun terakhir.

“Strateginya adalah gunung yang satu adalah latihan untuk gunung selanjutnya,” terang Dee Dee. Hal ini salah satunya disebabkan karena karakteristik gunung di Indonesia sangat berbeda dengan tujuh puncak yang hampir semuanya tertutup oleh es dan salju. Teknik yang telah dikuasai dalam pendakian di enam puncak dunia menjadi modal penting bagi ekspedisi terakhir ini. “Di Everest ini semua teknik yang kita pelajari, semua pengalaman itu diuji,” kata Dee Dee.

Tentu saja, Everest mengundang perhatian dan kekhawatiran dari kerabat serta orang-orang terdekat. “Reaksinya beda banget,” ungkap Hilda. Bagi mereka berdua, yang terpenting adalah menenangkan diri dan mempersiapkan diri. Selain melatih fisik secara intensif sejak Oktober lalu, mereka juga telah mempersiapkan berbagai perbekalan, termasuk makanan khas Indonesia, seperti mie dan minuman instan. Bagi mereka, ini adalah salah satu pemberi rasa nyaman dan penambah semangat kala jauh dari tanah air. “Ga bisa dibohongi, memang lidah dan perutnya (adalah) lidah dan perut Indonesia,” ujar Dee Dee sambil bergurau.

Rencananya, ekspedisi ini akan berlangsung selama 57 hari. Tim WISSEMU berharap mampu mencapai puncak pada 14 Mei, serta kembali ke Indonesia di awal Juni. Pendakian ini akan melalui jalur pendakian utara, yang diawali di Lhasa, Tibet. Jalur ini diperkirakan akan cukup padat mengingat ekspedisi dilakukan di musim pendakian Everest tahun 2018.

Dee Dee berharap agar kegiatan ini mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia. “Ini perjuangan satu bangsa,” tuturnya. Di sisi lain, Hilda ingin agar ekspedisi WISSEMU dapat menjadi inspirasi bagi kaum muda khususnya perempuan Indonesia. Pencapaian ini diharapkan mampu mendorong berbagai pencapaian yang lebih besar.“Semoga ada yang lebih dari kita,” ujarnya.