Home / Berita Terkini / Wirausaha, Bentuk Peluang Ekonomi atau Pilihan Kerja Terbatas?
Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mewakili Indonesia dalam konsorsium GEM untuk melakukan survei dan monitoring kewirausahaan di Indonesia sejak 2013

Wirausaha, Bentuk Peluang Ekonomi atau Pilihan Kerja Terbatas?

Jakarta: Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada laporannya tahun 2017/2018 menyebutkan bahwa secara global tingkat kewirausahaan cenderung stabil atau meningkat, dan orang cenderung melakukan bisnis yang dimotivasi karena adanya peluang usaha, namun terjadi penurunan persepsi mengenai penciptaan lapangan pekerjaan di semua level perkembangan ekonomi.

GEM sendiri merupakan konsorsium yang melakukan survei tahunan untuk melihat aktivitas, perilaku dan aspirasi kewirausahaan setiap negara, dan menggunakan alat ukur yang sama secara global.

Sponsor GEM secara global adalah Babson College, Universidad Del Desarrollo, Universiti Tun Abdul Razak, dan Korea Entrepreneurship Foundation. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mewakili Indonesia dalam konsorsium GEM untuk melakukan survei dan monitoring kewirausahaan di Indonesia sejak 2013.

Saat ini, Ketua GEM Indonesia dijabat oleh Dr Gandhi Pawitan, dan Dr Catharina B Nawangpalupi selaku Data Manager. Keduanya adalah peneliti di Centre of Excellence SME Development, LPPM UNPAR.

Sebanyak 54 negara berpartisipasi dalam survei GEM 2017/18 yang mencakup 67,8 persen populasi dunia dan 86 persen dari GDP dunia. Secara keseluruhan, berdasarkan laporan GEM 2017/2018, terjadi penurunan akan harapan wirausaha untuk menciptakan lapangan kerja, terutama di negara-negara dengan tingkat perkembangan ekonomi terendah, atau faktor driven economies. Dibandingkan tahun 2016, secara global, 43 persen tidak berencana menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan dalam waktu lima tahun.

Dalam laporannya di tahun 2017/2018, negara dengan tingkat perkembangan ekonomi yang lebih tinggi (berdasarkan Global Competitiveness Index) memiliki kecenderungan tingkat kewirausahaan berbasis peluang yang lebih tinggi dan memiliki tingkat inovasi yang juga lebih tinggi.

Secara regional, Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) memiliki rasio tertinggi untuk perbandingan antara wirausaha yang berbasis pada pencarian peluang yang lebih baik (opportunity-driven) dengan wirausaha yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi (necessity-driven). Rasio Amerika Utara adalah 5,2 (perbandingan opportunity driven dan necessity driven), sementara rasio terendah adalah untuk region Afrika, dengan nilai 1,5.

Masih berdasarkan laporan GEM 2017/2018, terjadi penurunan akan harapan wirausaha untuk menciptakan lapangan kerja, terutama di negara-negara dengan tingkat perkembangan ekonomi terendah, atau faktor driven economies. Dibandingkan tahun 2016, secara global, 43 persen tidak berencana menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan dalam waktu 5 tahun.

Pada 2017, wirausaha yang tidak berencana menambah jumlah tenaga kerja meningkat menjadi 64 persen. Perubahan ini mengindikasikan kecenderungan para wirausaha untuk mengoperasikan usahanya sendiri, atau memilih usaha kecil dengan mengandalkan jejaring, mitra dan faktor lain seperti pemanfaatan teknologi.

Bagaimana Kondisi di Indonesia?

Berbeda dengan pola global di mana tingkat partisipasi dalam berwirausaha meningkat, jumlah wirausaha baru di Indonesia malah menurun. Jika pada 2016 ada 14 persen wirausaha pemula, tahun 2017 jumlahnya menurun drastis, menjadi 7,5 persen.

Kecenderungan penurunan ini diikuti dengan meningkatnya jumlah wirausaha yang berhenti menjalankan usahanya, dari 3 persen tahun 2016 menjadi 4 persen pada 2017. Hal ini berarti pada 2017, ada 4 dari 100 orang dewasa di Indonesia yang berhenti menjalankan usahanya.

Jika kecenderungan global dalam aktivitas kewirausahaan berbeda dengan kondisi di Indonesia, maka kecenderungan untuk tumbuh tidak terlalu buruk, di mana 7,8persen dari wirausaha pemula memiliki keinginan untuk memperoleh pasar internasional. Hal ini meningkat dari hanya 1 persen pada 2016. Hal ini mungkin diakibatkan meningkatnya platform toko online di Indonesia yang mampu menjaring konsumen luar negeri.

Jenis wirausaha di Indonesia juga masih didominasi oleh mereka yang mencari peluang yang lebih baik. Meskipun tidak setinggi rasio di Amerika Utara, rasio antara wirausaha yang berbasis pada peluang dan berbasis kebutuhan adalah 3. Artinya, 75 persen wirausaha pemula memilih melakukan usaha karena melihat adanya peluang yang lebih baik.

Direktur Eksekutif GEM, Mike Herrington, menyatakan bahwa kewirausahaan tetap menjadi salah satu kunci untuk menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di seluruh dunia. “Menurunnya harapan wirausaha dalam menciptakan lapangan pekerjaan merupakan sinyal bagi pemerintah untuk menganalisis kebijakan dan program mereka yang terkait dengan pembentukan ekosistem kewirausahaan,” kata Mike.

Pentingnya Pilar Ekosistem Kewirausahaan

Dari sudut pandang pembuatan kebijakan, laporan GEM menunjukkan pentingnya penerapan kebijakan, proses, peraturan, pelatihan dan pendidikan yang ditujukan secara khusus untuk mendukung para wirausaha untuk terus meningkatkan aspirasinya yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Hasil survei GEM pada 2017 menunjukkan perbaikan yang menggembirakan dalam lima pilar yang menopang ekosistem kewirausahaan, yaitu akses terhadap keuangan, kebijakan pemerintah, transfer hasil riset dan teknologi, dinamika pasar internal, dan pendidikan kewirausahaan untuk usia sekolah dasar dan menengah.

Pilar ekosistem kewirausahaan sering menjadi pantauan pemerintah untuk evaluasi kebijakannya. Berdasarkan data GEM yang telah dikumpulkan selama 19 tahun, ada banyak temuan yang menunjukkan bahwa kondisi kebijakan dan pilar kewirausahaan lainnya perlu untuk mengembangkan kewirausahaan dan inovasi.

Oleh karena itu, kewirausahaan bukan saja tugas wirausahawan atau perorangan, tapi juga melibatkan berbagai pihak, yaitu pemerintah sebagai pembuat kebijakan, lembaga pendidikan dan pelatihan serta masyarakat sipil dan pemangku kepentingan lainnya. Dukungan ini diperlukan untuk memberi kekuatan dan menghasilkan perubahan bagi ekonomi yang lebih baik dan keberlanjutan usaha.

Secara keseluruhan, Amerika Utara memiliki kondisi kerangka kewirausahaan yang paling kondusif, dan Afrika memiliki kinerja kurang dalam ke-12 pilar kewirausahaan.

Untuk mendapatkan Laporan Global GEM 2017/2018 selengkapnya silakan kunjungi http://www.gemconsortium.org/report. Laporan GEM Indonesia juga bisa diperoleh dari tautan tersebut.
(ROS)

 

Sumber: metrotvnews.com