Home / Berita Utama / Wajah Nusantara 2017 “Dewi Citraresmi Sekarning Belapati”
Nusantara

Wajah Nusantara 2017 “Dewi Citraresmi Sekarning Belapati”

“Ketika cinta dua insan yang urung dipersatukan. Ketika pengorbanan berubah menjadi kesedihan, dan ketika ambisi untuk menguasai Nusantara menjadi malapetaka,” itulah cuplikan cerita dalam persembahan Lingkung Seni Tradisional (Listra) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) untuk Indonesia.

Tahun ini, Listra yang tergabung ke dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) Unpar kembali menggelar pertunjukan tahunan Wajah Nusantara (Wanus) 2017 pada Sabtu (9/9) di Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung. Listra menampilkan pertunjukan dalam format sendratari (seni, drama, dan tari). Pertunjukan tersebut terbagi ke dalam dua sesi yaitu siang (pukul 13:30-15:30 WIB) dan malam (pukul 19:00-21:00 WIB).

Pagelaran sendratari yang bertajuk “Dewi Citraresmi Sekarning Belapati” mengangkat kisah tentang perang Bubat dengan segala hiruk pikuknya. Kisah ini bermula pada 1297 tahun Saka atau 1357 Masehi. Alkisah, Maharaja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar dan terkuat di Nusantara pada masa itu, berniat untuk mempersunting Putri Mahkota Kerajaan Sunda Galuh, Dewi Citraresmi, atau akrab dikenal sebagai Dyah Pitaloka. Perjanjian antara keraton Majapahit dan Sunda pun dijalin.

Namun ketika tiba di Pesanggrahan Bubat, Mahapatih Majapahit Gadjah Mada dalam upayanya untuk memenuhi Sumpah Palapa menuntut Sunda Galuh untuk tunduk kepada kekuasaan Majapahit sebagai syarat persuntingan. Maharaja Lingabuanawisesa dan seluruh mantrinya kontak menolak tuntutan ini dan pertempuran pun terjadi. Seluruh rombongan Sunda terbunuh oleh pasukan Majapahit. Tradisi menyebutnya “belapati”, tindakan yang dilakukan oleh Dyah Pitaloka saat mengetahui semua rombongan dari kerajaan Sunda Galuh mati dibunuh. Pada akhirnya, Dyah Pitaloka bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negara.

Dirga Febrian Ketua Pelaksana Wanus 2017 mengatakan, ada tujuan yang ingin disampaikan dengan dipilihnya kisah tentang “Dewi Citraresmi Sekarning Belapati” yaitu agar rakyat Indonesia mengetahui bahwa Bhineka Tunggal Ika sangat penting.

“(Kami) mengajak teman-teman untuk mengapreasiasi dan menikmati suguhan pagelaran sendratari Listra Wajah Nusantara 2017,” imbuh Dirga yang juga merupakan Ketua Listra 2017-2018.

Muhammad Adrian Putra Zubir Ketua Listra periode sebelumnya (2016-2017) menyampaikan, setiap tahunnya Wajah Nusantara Listra digelar dengan tujuan untuk memberikan edukasi seni. Selain itu, katanya, momen tersebut adalah salah satu wujud mahasiswa Unpar sebagai anak-anak muda yang cinta seni dan bangga akan budaya Indonesia.

“Oleh karena itu, mari kita bergerak bersama melestarikan budaya Indonesia,” ungkapnya antusias.

Pagelaran berdurasi sekitar 90 menit tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan penonton. Sambutan hangat terlihat dari banyaknya penonton yang ingin berfoto dengan para pemeran tokoh dan penari. Adanya pagelaran tahunan ini diharapkan dapat menjadi wujud pelestarian kebudayaan tradisional nusantara serta mengingatkan generasi masa kini atas akar budaya mereka.