Home / Berita Terkini / Viral Secara Bijak Lewat Media Sosial

Viral Secara Bijak Lewat Media Sosial

Media Sosial sudah menjadi suatu bentuk teknologi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di Indonesia. Dengan teknologi yang relatif baru ini, setiap orang semakin mudah mengakses informasi dan berkomunikasi. Kini, media sosial telah menjadi sebuah tren global, terutama dengan berkembangnya gawai (gadget) pintar yang terkoneksi dengan internet.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), pengguna internet saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya merupakan pengguna aktif media sosial.

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, tidak salah bila penyebaran informasi lewat media sosial menjadi semakin marak dewasa ini. Keberadaan netizen, sebagai penyebar berita dan informasi menggunakan berbagai bentuk media sosial, sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak menjadi tema yang diangkat dalam talkshow “Bincang Kita Hari Ini”, dengan tajuk “Going Viral Through Social Media”, yang diselenggarakan Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (LKM Unpar), melalui Direktorat Jenderal Kajian dan Aksi Strategis. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 Maret 2017 di Aula D3 Manajemen Unpar, Bandung.

Acara ini menghadirkan berbagai pembicara yang berpengalaman dalam bidang pengelolaan media sosial, yaitu Yayan Brilyana selaku Kepala Humas Pemerintah Kota Bandung, Ciptadi Syachrani selaku pendiri InfoBDG, Donna Visca, dan Nabila Gardena sebagai social media influencer.

Manfaat dan Dampak

Ciptadi menganalogikan media sosial sebagai corong, yang menghubungkan satu individu dengan individu lain. Media sosial tidak lain adalah penyalur informasi, sehingga informasi dapat disebarluaskan. Siapa pun dapat menggunakan media sosial secara bebas dan tidak terbatas, bergantung pada niat yang dimiliki. Hal inilah yang membuat media sosial dapat menjadi sesuatu yang positif, maupun menjadi destruktif.

Sementara itu, Yayan menuturkan hilangnya budaya berbincang atau mengobrol di kalangan masyarakat Indonesia, yang disebabkan oleh penggunaan media sosial. Menurut Yayan, penggunaan media sosial tentu ada sisi positifnya. Namun, seyogianya kita tetap menggunakan komunikasi verbal secara langsung untuk membangun dan mengembangkan karakter bangsa.

Dalam pandangan Donna dan Nabila, media sosial memberikan kemudahan bagi kita untuk berkomunikasi, menyebarkan informasi, memperluas jaringan pertemanan, berbagi ilmu dan inspirasi, dan sebagainya. Jika kiriman dari seseorang disukai oleh banyak orang, ia akan memeroleh banyak pengikut (follower), bahkan bisa menghasilkan uang dari media sosial.

Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial bisa berakibat destruktif, contohnya lewat penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoaks (hoax), menyulitkan sosialisasi dengan orang sekitar, kejahatan dunia maya (cyber crime), bahkan pornografi. Materi yang masuk ke media sosial akan sulit dihilangkan karena setiap pengguna dapat dengan mudah membagikannya tanpa memerlukan izin. Oleh karena itu, Nabila menganjurkan agar pengguna media sosial menyaring materi yang akan disebarkan secara bijak dengan memilah apa yang layak dan tidak layak dikonsumsi publik.

Dilansir Kompas.com (20/2), pada pertengahan Februari lalu, pemerintah Kota Bandung bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mendeklarasikan “Bandung Hantam Hoax” sebagai bentuk nyata menghadang informasi palsu atau bohong yang berpotensi merusak perdamaian dan tatanan sosial di Indonesia.

Perkembangan media sosial masa kini membawa berbagai dampak positif bagi masyarakat. Namun, manfaat yang ditawarkan sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakan media sosial tersebut. Tidak ada salahnya bagi kita untuk membagikan hal-hal tertentu, dengan harapan agar apa yang kita bagikan disukai oleh banyak orang dan menjadi viral. Namun, patut diperhitungkan bahwa apa yang kita bagikan akan dilihat dan dinilai oleh masyarakat. Dengan berbagi informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat, kita membuktikan diri sebagai pengguna media sosial yang bijak dan bertanggungjawab.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 21 Maret 2017)