Home / Berita Terkini / Valuasi Bisnis Digital

Valuasi Bisnis Digital

Pada 2008, Aol Inc, online service provider yang berkantor pusat di New York mengakuisisi Bebo, sebuah social networking website yang diluncurkan tahun 2005, senilai US$ 850 juta. Koresponden teknologi BBC menyebutkan bahwa keputusan akuisisi tersebut adalah keputusan terburuk di era dotcom (BBC, 2010).

Setelah melalui perjalanan panjang, pendiri Bebo membeli kembali Bebo senilai US$ 1 juta pada tahun 2013. Hal ini merupakan indikator bahwa keberlanjutan ekonomis di bisnis digital terutama pada social networking site sulit diprediksi (Rose, 2011). Muncullah pertanyaan, bagaimana menentukan nilai (valuasi) suatu perusahaan, terutama yang berbasis digital agar investor tidak melakukan keputusan yang salah. Di Indonesia, meskipun tidak ada laporan resmi, diperkirakan valuasi GO-JEK (Amindoni, 2018) sebagai start-up bisnis terbesar di Indonesia adalah sebesar Rp. 53 triliun setelah mendapat investasi Rp. 16 triliun dari beberapa investor.

Warren Buffett, investor sekaligus philanthropist dunia mengatakan “harga (price) adalah apa yang kita bayar, sedangkan nilai (value) adalah apa yang kita terima”. Jika suatu pasar modal efisien sempurna, maka harga akan langsung menyesuaikan dengan setiap informasi yang tersedia, namun, tentu saja hal ini jauh dari kenyataan, karena harga saham saat ini, bisa berada jauh di atas atau di bawah nilai perusahaan karena berbagai alasan, yang belum tentu sepenuhnya logis (Hagstorm, 2005). Investor akan membeli saham perusahaan saat merasa harga yang dibayarkan untuk investasi tersebut ada di bawah nilai perusahaan tersebut. Oleh karena itu, menentukan nilai perusahaan (valuasi perusahaan) merupakan langkah pertama bagi seorang investor untuk mengambil keputusan.

Valuasi perusahaan pada dasarnya dilaksanakan dengan menggunakan serangkaian analisis atas angka-angka laporan keuangan dengan menggunakan template tertentu. Namun, valuasi perusahaan menjadi tidak sesederhana lagi, berubah menjadi seni ketika perusahaan, industri, keadaan ekonomi dan teknologi informasi yang memengaruhinya berubah (Damodaran, 2010). Dua orang yang berbeda, sangat mungkin menghasilkan penilaian yang berbeda dengan data keuangan yang sama.

Tulisan ini membahas valuasi perusahaan baru (start-up companies), terutama yang bergerak pada bisnis digital. Mengapa bisnis digital? Karena bisnis digital saat ini merupakan bisnis yang tidak terduga dan kompleks.

Valuasi bisnis untuk bisnis digital adalah menentukan fair market value atau nilai wajar asset (Chalfin, 2006 & Damodaran, 2010). Fair market value didefinisikan sebagai harga di mana aset akan berpindah kepemilikan antara pembeli yang bersedia dan penjual yang bersedia (tanpa ada paksaan) dan kedua pihak memiliki informasi yang memadai atas semua hal relevan yang mempengaruhi bisnis. Kondisi ‘tanpa ada paksaan’ menjadi penting karena keadaan dan tentu saja nilai suatu bisnis dapat berubah jika kondisinya berubah. Misalnya karyawan kunci yang tidak senang dengan akusisi dan akan keluar setelah akuisisi tentu akan mengubah nilai perusahaan tersebut. Demikian juga kondisi dimana pembeli yang merasa terdorong untuk membeli bisnis tertentu karena alasan memenangkan persaingan dalam waktu yang sangat singkat.  Kondisi lain yang penting adalah persyaratan bahwa kedua belah pihak memiliki pengetahuan yang wajar tentang semua fakta yang sebenarnya, sehingga tidak ada satu pihak yang memiliki pengetahuan yang superior.

Disamping penentuan fair market value, faktor-faktor yang memengaruhi proses valuasi bisnis: (1) sifat bisnis perusahaan (apakah bisnis tersebut dipandang sebagai pemimpin pasar atau bukan, inovator atau pengikut, dan tingkat kepuasan pelanggan atas bisnis tersebut); (2) kondisi keuangan perusahaan (kinerja perusahaan yang pada umumnya meliputi pengukuran laba, nilai buku dan pendapatan perusahaan); (3) kondisi dan prospek perusahaan di industrinya; (4) risiko yang dihadapi perusahaan; (5) kapasitas penghasilan perusahaan (pada start-up bisnis yang umumnya belum membukukan keuntungan di awal pendiriannya, dapat digantikan dengan proyeksi atas penghasilan perusahaan) ; (6) kapasitas pembayaran dividen (tren pembayaran dividen, juga apakah bisnis tersebut dapat membagikan keuntungan kepada para pemiliknya); dan (7) harga pasar saham perusahaan yang bergerak dalam bidang yang serupa.

Valuasi tradisional melakukan analisis atas kinerja perusahaan yang pada umumnya meliputi pengukuran laba, nilai buku dan pendapatan perusahaan. Namun, untuk start-up business, hal ini dapat menimbulkan masalah karena minimnya data untuk melakukan analisis tren. Di samping itu, keterbatasan laporan keuangan yang dihasilkan oleh start-up business juga menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan valuasi bisnis. Seringkali akhirnya, valuasi bisnis hanya dilakukan pada “top line” (pendapatan) dan “bottom line” (laba, pada umumnya laba modal) saja (Damodaran, 2010).

Namun karena keterbatasan dan keunikannya, proses valuasi bisnis digital tidak lagi sederhana dan mudah diperoleh menerapkan valuasi bisnis konvensional. Salah satu inovasi valuasi bisnis digital adalah dengan menghubungkan penilaian suatu perusahaan berdasarkan struktur tautannya di Web (Yun & Gloor, 2015). Valuasi bisnis seringkali gagal mendapatkan nilai yang akurat karena kurangnya transparansi dari pemerintah, bank, dan perusahaan. Penelitian Yun & Gloor memperkenalkan cara baru dalam validasi yang akan menekankan pada transparansi berdasarkan struktur tautannya di Web. Penilaian ini serupa dengan Google PageRank untuk peringkat kualitas dokumen di internet. Untuk bisnis di era sekarang ini, penilaian perusahaan dapat dipengaruhi dengan informasi di internet yaitu: melalui pengaruh sosial, melalui peningkatan visibilitas dan availability, dan melalui keterlibatan pelanggan. Saat ini banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang tinggi mulai memperhatikan integrasi bisnisnya dengan jaringan sosial online, misalnya Apple Corp., yang mengoperasikan jejaring sosialnya sendiri, ‘Snaf.me’. Microsoft juga berinvestasi besar dalam jejaring sosial online dengan meluncurkan layanan blog bernama Windows Live Spaces.  

Alternatif proses valuasi bisnis digital adalah dengan menentukan value para penggunanya dan hubungan dengan penggunanya (Gneiser, Heidemann, Klier, Landherr, & Probst, 2012). Valuasi perusahaan yang diusulkan adalah dengan menciptakan model ekonomi menggunakan beberapa parameter, yaitu: (1) estimasi jumlah anggota, dengan memperhatikan bahwa setiap anggota dalam suatu bisnis digital merupakan sumber kas masuk atau potensi sumber kas masuk; (2) estimasi tingkat retensi individu, yang diukur melalui seberapa persen anggota yang masih tetap dapat bertahan menjadi anggota setiap tahun; (3) estimasi arus kas, yang mengukur estimasi arus kas masuk dari setiap anggota; dan (4) estimasi tingkat potongan, yang dihitung untuk menentukan potongan-potongan dari pendapatan yang ada, seperti misalnya potongan pajak.

Perhitungan seperti contoh ini harus dilakukan untuk jangka panjang (lebih dari satu tahun) seperti contoh akuisisi Groupon. Groupon didirikan pada tahun 2008 oleh Andrew Mason yang mengumpulkan US$ 1 juta dari beberapa temannya. Dua tahun kemudian ia menolak tawaran US$ 6 M dari Google (Kare-Silver, 2011). Tentu saja, penawaran ini muncul bukan karena apa yang dimiliki oleh Groupon, namun penilaian jangka panjang akan potensi kesuksesan dan pendapatan yang diperoleh dari kesuksesan tersebut yang membuat tingginya penilaian atas suatu start-up business yang sarat muatan digitalnya.

Meskipun tidak terdapat data laporan keuangan bisnis digital yang tidak menjual sahamnya kepada publik, valuasi bisnis digital dapat diestimasi dengan pendekatan Gneiser dkk berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet. Start-up business yang akan digunakan sebagai contoh kasus adalah Go-JEK. Go-JEK adalah start-up business yang didirikan di tahun 2010 yang awalnya bergerak transportasi roda dua melalui panggilan telepon, dan sekarang menjadi on-demand mobile platform yang bergerak di bidang transportasi, logistik, pembayaran, layan-antar makanan, dan berbagai layanan on-demand lainnnya (GOJEK, 2018). Presiden GO-JEK Indonesia menyatakan bahwa per akhir Mei 2018, pengguna aktif GO-JEK adalah 2,2 juta orang (Fitriani, 2018), dengan jumlah pengemudi mencapai 1 juta orang. Dengan estimasi rata-rata setoran pengemudi per bulan Rp. 1.010.000, maka dari transportasi online saja, pendapatan GO-JEK mencapai Rp. 1 triliun perbulan. Jika diperkirakan bisnis ini akan tetap pada posisi seperti ini dalam 3 tahun mendatang, maka present value dari bisnis ini adalah Rp. 23 triliun. Sedangkan dari kerjasama dengan mitra UMKM, jika diestimasi rata-rata pendapatan dari mitra UMKM adalah Rp. 870.000 per bulan (Wisana, et al., 2018) dan jumlah mitra UMKM adalah 120.000, maka present value bisnis ini adalah Rp. 714 miliar. Selain kedua bisnis tersebut, masih ada saldo pengguna yang tersimpan di GO-JEK. Jika 50% pengguna aktif memiliki saldo di GO-JEK (Andreas, 2017) dan rata-rata saldo mengendap adalah Rp. 100.000, dengan bunga 6% per tahun, maka present value dari bisnis ini adalah Rp. 18 triliun. Dari ketiga bisnis tersebut, dengan asumsi diharapkan penerimaan hanya 3 tahun saja, estimasi valuasi GO-JEK dengan pendekatan Gneiser dkk. adalah sekitar Rp 52 triliun. Angka ini sesuai dengan taksiran dari BBC, yaitu Rp. 53 triliun (Amindoni, 2018).

Berbagai alternatif valuasi bisnis, baik yang sama sekali baru seperti model yang ditawarkan Yun & Gloor dengan menghubungkan nilai perusahaan dengan struktur tautannya di Web, atau dengan memodifikasi cara yang konvensional seperti model Chalfin, atau di antara kedua titik ekstrim itu seperti model Gneiser dkk. bertujuan untuk mengukur nilai yang paling menggambarkan nilai perusahaan dalam jangka panjang. Investor dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi data yang dimiliki dan tingkat kepercayaan terhadap data tersebut. (Kontributor: Dr. Amelia Setiawan, Dosen Program Studi Akuntansi, Universitas Katolik Parahyangan)

 

Sumber: Pikiran Rakyat (Kamis, 13 Desember 2018)