Home / Berita Terkini / UNPAR Tanamkan Toleransi Melalui Program Pengabdian Masyarakat

UNPAR Tanamkan Toleransi Melalui Program Pengabdian Masyarakat

Bandung: Rasa saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama sangat penting. Tanpa adanya rasa saling menghormati, gesekan konflik antar umat beragama rentan terjadi.

Jika dibiarkan, bukan tak mungkin gesekan konflik tersebut akan mengancam keutuhan bangsa. Mengingat pentingnya sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berupaya menanamkannya dalam diri mahasiswa dan masyarakat.

Caranya, melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pendampingan Pendidikan Nilai-Nilai Keberagaman Kepada Guru, Orang Tua, dan Siswa Sekolah Dasar di Ciumbuleuit Bandung: Upaya Pencapaian SDGs #16.

Program pengabdian ini merupakan inisiasi tim dosen pada program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kegiatan didanai oleh LPPM Unpar dan Alumni FISIP Angkatan 1992 yang dalam pelaksanaannya melibatkan 150 orang.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara tim dosen program studi Hubungan Internasional dengan Komunitas Bhinneka, mahasiswa/i yang tergabung dalam organisasi Kakak Asuh, guru, orang tua, siswa-siswi SDN 108 Ciumbuleuit, dan SDN 188 Bandung Baru.

Pada kegiatan ini, para guru, orang tua, mahasiswa, dan siswa-siswi diberi pembekalan terkait nilai-nilai keagamaan dan keberagaman. Diharapkan hasilnya dapat meningkatkan rasa saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama.

“Kita perlu mengakui bahwa di antara semua aspek keberagaman yang ada di negeri ini, salah satu aspek yang sering sulit untuk dibahas bersama adalah mengenai agama. Padahal, agama merupakan bukti kepercayaan seseorang yang nyata terlihat secara sosial,” ujar Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNPAR Anggia Valerisha.

“Orang beribadah kepada Tuhan-nya dengan berbagai cara dan berbagai simbol yang melekat, tentu adalah sesuatu yang dapat kita lihat. Ketika suatu hal yang nyata tersebut tidak dipahami oleh orang lain yang berbeda agama, maka yang terjadi adalah munculnya kecurigaan, stigma, bahkan secara ekstrem melahirkan sikap-sikap intoleransi yang mengarah pada diskriminasi, radikalisme, serta kekerasan,” ujar Anggia menambahkan.

Selain pembekalan terhadap guru, orang tua, mahasiswa, dan siswa-siswi terkait nilai-nilai keberagaman, kegiatan utama dari program ini adalah mendampingi siswa-siswi sekolah dasar kelas 4 dan 5 untuk berkunjung ke rumah ibadah dari berbagai agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia.

Rumah ibadah yang dikunjungi, yaitu Pura Wira Chandra Dharna Secapa AD (Hindu), Masjid Sabiilul Iman Secapa AD (Islam), Gereja Katedral (Katolik), Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut (Protestan), Vihara Dharma Ramsi (Buddha Tri Dharma), dan Klenteng Kong Miao (Kong Hu Chu).

Pada setiap kali kunjungan ke rumah ibadah, siswa-siswi memperoleh informasi yang disampaikan langsung oleh pemuka agama. Misalnya, mengenai pengetahuan umum tentang agama, sejarah, arsitektur tempat ibadah, pengucapan salam, perlengkapan ibadah, alat musik, dan simbol-simbol yang melekat pada agama atau kepercayaan tersebut.

“Merespons pengetahuan yang didapat, siswa-siswi menunjukkan sikap aktif, kritis, dan terbuka,” ujarnya.

Dari pengalaman kegiatan pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa sikap dan karakter yang toleran dapat terbentuk jika terdapat pendidikan pengenalan nilai-nilai keberagaman. Ini adalah sesuatu yang mendasar untuk menyampaikan pentingnya nilai keberagaman kepada siswa-siswi sejak usia dini.

“Proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual (turun ke lapangan) dirasa lebih efektif karena siswa-siswi tidak saja memeroleh pengetahuan secara kognitif, namun juga secara afektif dan psikomotorik,” kata Anggia, yang juga merupakan anggota Tim Pengabdian Masyarakat.

Melalui program tersebut diharapkan pentingnya sikap menghormati nilai-nilai keberagaman untuk terus disuarakan kepada setiap anak, setiap orang, bahkan setiap bangsa.

“Demi terwujudnya dunia yang lebih damai dan lebih harmonis,” kata Anggia.

(ROS)

Gervin Nathaniel Purba – 13 Mei 2019 11:29 WIB

Sumber: https://m.medcom.id/jawa-barat/peristiwa-jabar/yNLvae2k-unpar-tanamkan-toleransi-melalui-program-pengabdian-masyarakat