Home / Berita Terkini / Unpar Taburkan Semangat #2019UnparHijau

Unpar Taburkan Semangat #2019UnparHijau

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berkolaborasi dengan Dinas Kebersihan Kota Bandung untuk menggalakkan program Peduli Lingkungan sejak 2017. Tahun 2018, Unpar mulai melakukan pengembangan terkait program tersebut yang diawali dengan kegiatan pemilahan sampah. Pada saat itu, Unpar mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Bandung.

Di tahun 2019, bertepatan dengan Perayaan Dies Natalis Unpar ke-64 (17/1/2019), pihak universitas melalui Biro Umum dan Teknik (BUT) bekerjasama dengan Fakultas Teknologi Industri (FTI), yang kemudian menghasilkan mesin pencacah plastik. Program tersebut lalu dikembangkan agar lebih berdampak, yakni instalasi biodigester. Sebelumnya, Unpar telah menghibahkan biodigester kepada warga RW 1 dan RW 11 Ciumbuleuit, pada Januari lalu.

Pengembangan tersebut berlanjut dengan sosialisasi kampanye #2019UnparHijau dan peresmian biodigester Unpar di dua lokasi, yakni FTI dan Fakultas Ekonomi, pada 22 April lalu bertepatan dengan Hari Bumi. Kolaborasi tersebut melibatkan mahasiswa juga alumni Unpar (Kahiji, Greenate) dalam pelaksanaannya.

Membentuk karakter peduli lingkungan

Dalam wawancara bersama Tim Publikasi (13/5/2019), Roni Sugiarto, S.T., M.T. Kepala Biro Umum dan Teknik (BUT) Unpar mengatakan bahwa Unpar kini tengah berupaya mengadakan program peduli lingkungan yang berkelanjutan guna membentuk karakter peduli lingkungan di setiap lini, baik dari dosen, karyawan hingga mahasiswa.

“Yang pasti setiap tanggal 22 (rencananya) akan ada momen-momen terkait dengan lingkungan,” kata Roni mengungkapkan tentang rencana program kerja rutin untuk senantiasa memaknai Hari Bumi.

Sejumlah kegiatan seperti kegiatan pengumpulan botol bekas (Tumblr Day), peresmian instalasi biodigester, hingga program kebersihan rutin BUT (Jumat Bersih), tengah digalakkan Unpar.

Pihak universitas juga didukung oleh kontribusi mahasiswa yang aktif menciptakan komunitas berorientasi ramah lingkungan. Salah satunya, adalah Greenate, komunitas yang menyuarakan aksi untuk mereduksi sampah di sekitar kampus. Selain itu, juga ada start-up alumni Unpar, yakni Kahiji (Khazanah Hijau Indonesia) yang bergerak di bidang lingkungan.

“Keluarannya adalah kebijakan di lini kemahasiswaan. Harapannya, sebetulnya dari setiap kegiatan kemahasiswaan mereka punya aspek satu, yakni tidak mencemari lingkungan Unpar,” terang Roni.

“Setiap dekorasi (dalam event kemahasiswaan) mereka punya aturan jelas,” ujar Roni memberikan contoh, “Misalnya, bahan dekorasi (kegiatan mahasiswa) yang ramah lingkungan.”

Pengelolaan dan pengolahan sampah Unpar

Roni menjelaskan, terkait dengan pemilahan sampahnya sendiri, Unpar saat ini memiliki mesin pencacah plastik dan juga customized machine. “Jadi, dengan penelitian dosen dan mahasiswa di Fakultas Teknologi Industri (FTI), kami dapat mock-up product dari sampah-sampah plastik.”

Sedangkan untuk sampah organik, Unpar tengah berupaya untuk memaksimalkan keberadaan biodigester untuk memproses sampah organik yang ada di Unpar menjadi biogas. Hal tersebut, diharapkan dapat mereduksi volume sampah (hanya residu) yang diambil oleh Dinas Kebersihan setiap minggunya. Tentunya, hal ini juga dapat mengurangi biaya pengelolaan sampah di lingkungan Unpar.

Roni menyadari bahwa kerja sama untuk mewujudkan #UnparHijau harus melibatkan kolaborasi dari setiap lini, baik itu pendidik, terdidik, hingga tenaga kependidikan. Pihak universitas juga menampung sejumlah saran dari mahasiswa terkait program “environmental awareness” di lingkungan Unpar. Salah satunya, yakni ketersediaan fasilitas untuk tempat sampah khusus kertas. Tidak dipungkiri, pembelajaran di Unpar sebagian besar masih menggunakan kertas.

“Di situ mengoptimalisasi media belajar sistem online dan memanfaatkan alat paper recycle sebagai pendistribusian kertas daur ulang ke depannya. Sampai ke ranah terkait dengan tugas-tugas yang masih wajib dikumpulkan melalui fisik, perlahan-perlahan dapat diubah menjadi digital online,” ujarnya menyebutkan beberapa saran dari mahasiswa Unpar.

Selain itu, Roni berharap, program Unpar peduli lingkungan ini ke depannya dapat menghasilkan sejumlah pemanfaatan lainnya dari sampah organik, seperti energi listrik. “Ke depan mau dikembangkan. Sampah-sampah organik itu engga hanya menjadi biogas, lalu terus itu menjadi (sumber) listrik,” ungkapnya.

Lain halnya dengan pihak Pemerintah Kota Bandung, kerja sama ini diharapkan dapat berlanjut untuk mengurangi biaya pengelolaan sampah. Saat ini, Unpar tengah menjalankan program “Uji Petik” sampah dengan pemerintah.

“Kita punya empat kubik sampah yang diambil oleh Dinas Kebersihan. Yang selalu setiap minggu itu diambil Dinas Kebersihan,” ujarnya.

Komitmen #2019UnparHijau adalah komitmen bersama. Artinya, seluruh masyarakat Unpar memiliki andil yang penting dalam menciptakan lingkungan Unpar dan sekitarnya sebagai green campus yang diharapkan dapat berujung pada efisiensi energi dan kelestarian lingkungan.