Home / Berita Terkini / Unpar Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Partner ACICIS

Unpar Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Partner ACICIS

Meningkatnya kerja sama pendidikan antara Indonesia dengan negara rekanan ditandai dengan semakin besarnya jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di masing-masing negara, baik secara penuh (full-time) maupun dalam sebagian masa studinya (part-time). Tak terkecuali bagi mahasiswa asal Australia, salah satu kesempatan yang bisa mereka ambil adalah Program The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies atau ACICIS.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menjadi salah satu dari sepuluh host university di Indonesia bagi mahasiswa yang mengikuti program ACICIS. Unpar diminati oleh mahasiswa asal negeri kanguru yang ingin mendalami kehidupan masyarakat khususnya di wilayah Jawa Barat. Di kampus Parahyangan, mahasiswa ACICIS dapat berinteraksi dengan mahasiswa lain melalui perkuliahan reguler, juga mendapatkan pengetahuan dasar tentang Bahasa Indonesia dan budaya lokal khas Jawa Barat.

Mengundang mahasiswa dari luar negeri, seperti Australia, tentu mengundang tantangan tersendiri bagi para universitas tuan rumah. Oleh karenanya, ACICIS secara berkala mengadakan ACICIS Partner Universities Meeting. Tahun ini, Unpar menjadi tuan rumah pertemuan yang berlangsung pada Kamis dan Jumat, 3 hingga 4 Mei 2018. Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Operation Room Rektorat Unpar ini diisi oleh kegiatan berbagi pengalaman (sharing) dan diskusi kelompok. Topik yang dibahas beragam, mulai dari pelayanan bagi mahasiswa ACICIS hingga menyiapkan rencana saat menghadapi krisis seperti bencana alam.

Menyambut kehadiran mitra ACICIS pada acara makan malam di Harris Hotel and Convention Bandung, Rektor Unpar Mangadar Situmorang menyatakan rasa terima kasih atas kepercayaan pihak ACICIS untuk memilih Unpar selaku tuan rumah bagi pertemuan kali ini. Melalui program ACICIS, lanjutnya, mahasiswa Australia yang belajar di Unpar bisa mendapatkan berbagai pengalaman baru. “Tentu bukan hanya proses pembelajaran di kelas, tetapi terutama di dalam pengenalan budaya dan masyarakat,” ujarnya. Rektor juga mengapresiasi kerja sama antaruniversitas yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas program ACICIS ke depannya.

Wadah berbagi pengalaman

Para peserta dari berbagai universitas memberikan tanggapan positif terhadap pertemuan antar mitra ini. Dr. Bernadine Ria Lestari selaku perwakilan Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, misalnya, menyambut dengan baik hasil dan penyelenggaraan kegiatan ini. “Kami tahu persis apa yang mereka kerjakan, apa yang kita kerjakan, kami kurang apa, mereka memiliki kelebihan apa,” jelasnya, sehingga kualitas penyelenggaraan program bisa ditingkatkan. USD, yang telah bergabung dengan konsorsium ACICIS sejak tahun 1990-an, kini menjadi salah satu universitas tujuan mahasiswa Australia yang ingin mendalami budaya dan Bahasa Indonesia.

Di sisi lain, Direktur Center for International Programs (CIP) Universitas Udayana Bali, Ni Putu Sri Harta Mimba, merasa terkesan dengan kegiatan pertemuan dan diskusi, khususnya dalam mempersiapkan diri dalam menjalankan program ACICIS. Sebagai mitra baru dalam program ACICIS, tim dari Universitas Udayana berharap dapat meningkatkan jejaring internasional, khususnya dengan universitas yang ada di Australia. “Ini merupakan kesempatan yang bagus sekali,” tuturnya.

Resident Director ACICIS Indonesia Adrian Budiman menjelaskan bahwa kegiatan rutin ini menjadi wadah untuk menyatukan persepsi para universitas anggota. Selain itu, para peserta juga mencari solusi terbaik bagi permasalahan yang terjadi dalam penyelenggaraan program ACICIS. “Kita belajar dengan knowledge sharing dari universitas lain supaya kita tahu penanganan yang baik itu seperti apa.” Melalui ACICIS Partner Meeting, diharapkan universitas mitra dapat meningkatkan kualitas program yang dikelola, sehingga menarik makin banyak mahasiswa Australia yang ingin mendapatkan pengalaman belajar di Indonesia.