Home / Berita Terkini / Unpar-Kodim 0608 Cianjur: Diskusi Masalah Keamanan Manusia

Unpar-Kodim 0608 Cianjur: Diskusi Masalah Keamanan Manusia

Isu keamanan selama ini dikaitkan dengan kondisi perang, konflik dengan warga negara asing, atau melindungi perbatasan dari invasi negara lain. Pada masa damai, keamanan manusia masih menjadi masalah global, tidak saja di negara-negara miskin dan berkembang, juga negara-negara industri, maju, dan modern. Di Indonesia, kebanyakan penduduk masih mengalami rasa tidak aman, yang dijabarkan sebagai “bebas dari rasa takut (freedom from fear), bebas dari keinginan (freedom from want), dan kebebasan untuk hidup terhormat (freedom to live in dignity). Ada 7 jenis masalah keamanan yang masih perlu ditangani, ditanggulangi, dan dijabarkan melalui berbagai kebijakan pemerintah, yaitu rasa aman secara ekonomi, makanan, kesehatan, lingkungan, individu, masyarakat, dan politik.  

Poin-poin tersebut dijabarkan oleh Dr. Sukawarsini Djelantik dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di hadapan anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), yang tergabung dalam Komando Distrik Militer (Kodim) 0608 Cianjur pada (2/4) lalu. Lebih lanjut beliau menjelaskan berbagai persoalan yang masih dihadapi oleh masyarakat di Jawa Barat secara umum, khususnya di Kabupaten Cianjur.

Terkait ketidakamanan ekonomi, ditunjukkan dengan masih tingginya angka pengangguran yang menyebabkan banyaknya warga asal Cianjur yang terpaksa menjadi pekerja migran di negara-negara seperti Malaysia dan Arab Saudi. Cianjur yang dialiri oleh Sungai Citarum, juga masih mengalami masalah keamanan lingkungan, akibat polusi berat dari “sungai yang paling tercemar” di dunia ini. Cianjur yang dikaruniai tanah yang subur, tetapi sebagian penduduknya masih mengalami ketidakamanan pangan bukan karena minimnya pasokan bahan makan, tetapi distribusi yang tidak merata.

Aspek lainnya, fasilitas kesehatan masih menjadi kendala akibat akses jalan dan transportasi yang belum memadai di beberapa wilayah. Sejumlah wilayah seperti Sindangbarang, Cidaun, dan Argabinta masih mengalami keterpencilan akibat minimnya akses transportasi. Keamanan individu terkait masih maraknya pelanggaran terhadap hak asasi manusia, hak-hak terhadap perempuan dan anak-anak. Keamanan masyarakat terkait kebebasan menjalankan ibadah agama bagi pemeluk agama minoritas, atau kebebasan mengekspresikan kesenian dan kebudayaan oleh etnis minoritas.

Pemaparan tersebut mendapatkan tanggapan yang sangat positif, yang ditunjukkan dengan beragamnya  pertanyaan dan komentar selama diskusi. Komandan Distrik militer 0608 Cianjur, Let. Kol. Hida Yati, ST, MT, menyambut baik kerja sama yang berlangsung antara TNI dengan institusi pendidikan, dalam hal ini Unpar. Beliau mengharapkan agar kerja sama sejenis dapat dikembangkan di masa mendatang untuk memelihara dialog antara sipil-militer yang semakin baik.