Home / Berita Utama / Delegasi Unpar Ikuti ASEAN Camp of Friendship 2017
ASEAN Camp

Delegasi Unpar Ikuti ASEAN Camp of Friendship 2017

Kantor Internasional atau International Office (IO) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) terus mendorong mahasiswa untuk berinteraksi dan berintegrasi dengan komunitas global. Be Unpar Delegation (BUD) menjadi program unggulan bagi mahasiswa Unpar yang ingin terlibat aktif dalam kegiatan bertaraf internasional yang diadakan di berbagai perguruan tinggi mitra Unpar di seluruh dunia, baik melalui kegiatan interkultural, short course, maupun program pertukaran mahasiswa.ASEAN Camp

Beberapa waktu lalu, lima orang delegasi Unpar yang tergabung dalam BUD, yaitu Pingkan Audrine, Irene Hadi Wijaya, Reizka Dwidianto, Henry Mulyana, dan Christy Angelia, mengikuti kegiatan ASEAN Camp of Friendship 2017, yang diselenggarakan oleh Prince of Songkla University (PSU), Pattani, Thailand. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 20-23 Juli 2017, dan melibatkan 28 mahasiswa, yang berasal dari Thailand, Malaysia, Vietnam, serta Indonesia. Selama empat hari, mahasiswa dari berbagai negara ASEAN mempelajari kebudayaan Thailand, menjelajah Pattani, serta melatih kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Dalam wawancara dengan Tim Publikasi Unpar pada Selasa (15/8), anggota delegasi menceritakan pengalaman dan berbagai hal menarik selama kunjungan mereka. Meski awalnya dihinggapi rasa cemas, namun ternyata masyarakat dan mahasiswa PSU sangat menerima kehadiran mereka. “Menurut kami, orang-orang di sana welcome banget, mereka tidak tertutup, tidak self-centered, dan mau belajar dari kami,” tutur Irene. Pattani adalah daerah yang penuh akan keberagaman

“Keterbatasan kita ada di bahasa,” kata Henry, ketika ditanya mengenai tantangan yang mereka hadapi selama kegiatan berlangsung. Lebih lanjut, mereka menceritakan bahwa banyak peserta yang belum menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Menarik untuk disimak, selain bahasa Thailand, ternyata mahasiswa PSU mampu berbahasa Melayu, sehingga dapat berkomunikasi dengan mahasiswa Malaysia dan Indonesia dengan cukup lancar. Selain itu, lokasi kampus yang berada di daerah pesisir, jauh dari kesan metropolitan, justru memberikan suasana yang berbeda dan menarik bagi para delegasi Unpar.

Bagi anggota BUD, Kompetensi Interkultural (Intercultural Competence) sangat penting dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dalam masyarakat global. Keberadaan IO Unpar menjadi sangat penting dalam meningkatkan kompetensi tersebut. “Dengan adanya International Office, membantu kita untuk bisa explore lagi kesempatan di luar kampus, bahkan hingga ke luar negeri,” kata Pingkan. Lewat program internasional, seperti BUD, lanjutnya, “Mahasiswa di Unpar memiliki wawasan yang lebih luas lagi.”

Mengakhiri wawancara, anggota BUD menyatakan keinginan yang dalam untuk bisa mengikuti kegiatan seperti ini lagi. Dengan profesionalitas IO dalam mempersiapkan delegasi Unpar, juga keramahan tuan rumah, seperti PSU, menjadikan program ASEAN Camp of Friendship 2017 menjadi pengalaman yang luar biasa bagi para anggota BUD. “Tidak bisa dilupakan,” kata Reizka. “Acara seperti ini harus terus diadakan, baik oleh pihak Unpar, maupun oleh pihak dari luar,” tambahnya.

Di sisi lain, anggota BUD mendorong setiap mahasiswa Unpar untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan internasional, melalui keikutsertaan dalam Program BUD. Selain menambah wawasan budaya dan historis, mahasiswa peserta juga mendapatkan berbagai wawasan mengenai fenomena-fenomena internasional, juga mampu beradaptasi dengan masyarakat global. Yang terpenting adalah berani untuk keluar dari zona nyaman. “Ikuti saja, jangan sungkan, jangan merasa tidak percaya diri,” tutup Christy.