Home / Berita Terkini / Unpar Hijau Sebagai Strategi Keberlanjutan pada Lingkungan Untuk Menghindari Penyakit Melalui Hidup Bersih dan Sehat

Unpar Hijau Sebagai Strategi Keberlanjutan pada Lingkungan Untuk Menghindari Penyakit Melalui Hidup Bersih dan Sehat

Biro Umum dan Teknik Universitas Katolik Parahyangan (BUT Unpar) mengadakan Webinar pada Selasa (12/5/2020). Tema yang diangkat yakni “Strategi Keberlanjutan pada Lingkungan Untuk Menghindari Penyakit Melalui Hidup Bersih dan Sehat”. Kegiatan dimulai dengan pengenalan UNPAR Hijau oleh Kepala BUT Roni Sugiarto. Unpar Hijau sudah dilaksanakan selama hampir 3 tahun, dimulai dari akhir tahun 2018 yang bertepatan dengan momentum Dies Natalis Unpar. Kegiatan ini bertujuan untuk meneruskan gaya hidup yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan terutama di lingkungan kampus Unpar. 

Mangadar Situmorang Ph.D. selaku Rektor Universitas Katolik Parahyangan memberikan sambutan di awal kegiatan. Beliau berharap forum tersebut dapat saling menguatkan satu sama lain dan memberi masukan kepada UNPAR tentang menjaga keutuhan alam semesta dalam kaitannya memberi kehidupan yang sehat bagi manusia.

Menjaga Kelestarian Alam

Dr, Aknolt Kristian P., S.IP., M.A. yang kini sedang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UNPAR menjadi moderator pada Webinar ini. Beliau menjelaskan bahwa kehidupan kita sudah berbeda karena permasalahan global pandemi COVID-19. Tidak hanya mengubah kehidupan sosial manusia, muncul juga dampak terhadap lingkungan yang bersifat sementara namun secara tidak langsung mengarah ke perubahan yang baik. Polusi udara berkurang dan bumi semakin hijau. Namun yang akan ditekankan melalui forum ini adalah “What’s next after this pandemic?”. Alangkah baiknya akan ada pemahaman untuk secara bersama menjaga kelestarian alam agar tercipta lingkungan alam yang sehat.

Narasumber pertama ialah Rm. Ferry Sutrisna Widjaja dari Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, Eco Camp, Jawa Barat. Beliau menuturkan bahwa manusia harus mengubah mindset bahwa kita sebaiknya ‘bersahabat dan berdamai’ dengan saudara virus karena secara tidak langsung COVID-19 telah mengembalikan bumi agar semakin bebas polusi dan mengembalikan manusia di tengah keluarga. Saran praktis yang diberikan untuk warga kampus diantaranya mengurangi sampah plastik, berhenti merokok, berhenti membuang makanan, serta memilih makanan organik. 

Minimalisir Sampah

Wilma Chrysanti Wibowo, Co-Founder dari @labtanya dan @kotatanpasampah yang selanjutnya memberikan paparan singkat tentang prinsip dan strategi rumah minim sampah. Sampah dihasilkan secara masif setiap harinya yaitu 0,6-0,825 kg per orang berdasarkan data SNI 19-3983-1995 dan jika dihitung secara nasional 200.000 ton per harinya. Tentu harus ada langkah-langkah konkrit yang dilaksanakan. 

Wilma memberikan prinsip untuk meminimalisir sampah diantaranya belajar dari alam, memikirkan cara di tiap siklus produksi dan konsumsi, lakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mencegah adanya sampah, dan sadar bahwa sampah adalah indikator cara produksi dan konsumsi masyarakat yang masih bermasalah. Dijelaskan pula 3 strategi agar rumah minim sampah yaitu strategi pintu depan, pintu tengah, dan pintu belakang.

Narasumber terakhir datang dari Alumni UNPAR Fakultas Teknologi Industri (FTI) 2011 yang sekarang merupakan CEO dan Co-Founder dari Rekosistem PT. Khazanah Hijau Indonesia (KAHIJI) yaitu Ernest Christian Layman. Temperatur bumi pada tahun 2019 naik 0.98 ⁰C di atas era pra industri dan mencapai angka tertingginya di tahun tersebut. 

Tentunya butuh strategi berkelanjutan untuk mengatasi masalah Global Warming yang semakin parah. Strateginya ialah regulasi, target kuantitatif, dan action plan. Realisasinya di lingkungan kampus dengan cara melakukan kampanye dan aktivasi, menyediakan fasilitas sederhana seperti tempat sampah, ruang terbuka hijau, dan sabun/ hand sanitizer, mengadakan metode pengelolaan dan pengolahan sampah, serta mengadakan modul dan sistem contohnya memberikan mata kuliah Sustainable Development  kepada para mahasiswa agar tanggap dengan kondisi yang terjadi di bumi kita.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Hendaknya kita menyadari lingkungan sekitar dan menjaga pola hidup yang bersih dan sehat agar bumi dapat pulih seperti sedia kala. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)