Unpar di UI Greenmetric: Mencapai “Sustainability” Komunitas Unpar

Perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam masyarakat global. Di tengah isu perubahan iklim, kampus memberikan contoh dalam menciptakan komunitas berkelanjutan melalui kebijakan yang dapat mengurangi jejak karbon, mengkonservasi energi, dan meningkatkan kualitas lingkungan. 

Untuk menilai sejauh mana perguruan tinggi berkomitmen mewujudkan kampus hijau, Universitas Indonesia (UI) menginisiasi pemeringkatan global UI GreenMetric, yang menilai institusi secara global berdasarkan cakupan lokasi dan lingkungan hijau, tata kelola sumber daya dan energi, serta kebijakan kampus terkait. 

Pada 2020, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berpartisipasi dalam UI Greenmetric untuk pertama kalinya. Hasilnya, Unpar berhasil menempati peringkat 496 secara global. Di Indonesia sendiri, Unpar berada pada peringkat ke-41. Peringkat tersebut merupakan capaian yang baik, apalagi dengan mempertimbangkan situasi Unpar sebagai kampus urban (perkotaan).

Perkembangan Unpar

Diwawancarai secara daring oleh Tim Publikasi Unpar, Kepala Biro Umum dan Teknik (BUT) Unpar Roni Sugiarto, S.T., M.T. menjelaskan lebih lanjut keikutsertaan Unpar dalam pemeringkatan perguruan tinggi global ini. “Sebetulnya banyak variabel yang dinilai.” “Masing-masing variabel ada sisi positif dan sisi yang harus ditingkatkan” 

Aktivitas Unpar Hijau yang telah berjalan sejak 2018 menjadi nilai plus dalam pemeringkatan ini. Roni menjelaskan bahwa Unpar Hijau menjawab berbagai variabel yang ada, “Seperti (pengelolaan) sampah, energi, air.” Di sisi lain, masih ada ruang bagi Unpar untuk berbenah, khususnya dengan mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan ke dalam kurikulum program studi, aktivitas riset, serta kegiatan kemahasiswaan. 

Lalu, apa hal yang perlu ditingkatkan dengan memperhatikan hasil pemeringkatan ini? “Fisik dan non-fisik,” tegas Roni. Dari segi fisik, pengembangan Infrastruktur menjadi tantangan tersendiri. “Bagaimana kita, dengan karakteristik infrastruktur yang urban ini, dapat memaksimalkan (sustainablity),” lanjutnya. Misalnya dengan meningkatkan pengelolaan sampah menuju zero waste, menjamin ketersediaan air, hingga energi. Kebijakan dan pemetaan kurikulum serta riset perlu dilakukan guna mendukung edukasi sustainability

Tantangan Karakter

Sustainability tidak hanya soal fisik semata, melainkan juga karakter individu dan kelompok. Oleh karenanya, Roni menyoroti pentingnya pembentukkan karakter untuk meningkatkan kesadaran pentingnya kampus ramah lingkungan, seperti kebiasaan memilah sampah sebelum dibuang. Seperti yang dijabarkannya, penting bagi Unpar untuk, “Mengembangkan pola pikir, pola perilaku setiap stakeholder untuk mengembangkan (karakter) ramah lingkungan.”

Pembentukan karakter perlu didukung dengan edukasi yang baik, termasuk dalam perkuliahan. “Mengelola kurikulum yang ramah lingkungan, itu PR lho,” ujar Roni. Membuat kurikulum yang dapat memberi kesadaran lingkungan bagi mahasiswa adalah bagian yang tak terpisahkan dengan kebijakan edukasi kampus.

Roni menambahkan bahwa kebijakan-kebijakan edukasi ini perlu diwadahi dengan baik oleh universitas. “Harapannya, dibuatkan pusat studi sustainability,” jelasnya. Dengan pengelolaan yang baik, maka masing-masing aspek indikator dapat dikaji serta diturunkan dalam kebijakan Unpar.

Mahasiswa dapat pula berkontribusi dalam upaya ini. Misalnya, dengan inisiatif mahasiswa seperti yang dilakukan oleh Komunitas Greenate Unpar, maupun lewat program universitas seperti pemilihan duta lingkungan dari kalangan mahasiswa dan program kemahasiswaan lainnya. Namun pada akhirnya seluruh anggota Komunitas Unpar harus dapat bersinergi menciptakan kampus ramah lingkungan. (DAN – Divisi Publikasi. Sumber: Wawancara dengan Kepala BUT Roni Sugiarto, S.T., M.T. serta Tim Biro Umum dan Teknik)