Home / Berita Terkini / Unpar dan IFC Dukung Penerapan Akuntansi Berkelanjutan di Indonesia

Unpar dan IFC Dukung Penerapan Akuntansi Berkelanjutan di Indonesia

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (FE Unpar) bekerjasama dengan International Finance Corporation (IFC) sebagai bagian dari World Bank Group menggelar kuliah tamu bertajuk “Penerapan Keuangan Berkelanjutan di Indonesia” pada Jumat, (14/2/2020). Kuliah tamu mengundang Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D. (Senior Policy Advisor in Sustainable Finance at International Finance Corporation (IFC)) dan Dr. Paulina Permatasari, S.E., M.Ak, CMA., CSRS., CSRA. (Dosen Unpar) sebagai pembicara. 

Kuliah tamu dibagi ke dalam dua sesi, yang mana pada sesi pertama, Dr. Paulina Permatasari membahas tentang perkembangan akuntansi berkelanjutan dan pada sesi kedua, Poppy Permatasari membahas tentang keuangan berkelanjutan.

Sustainable Accounting

Terdapat empat aspek dalam perkembangan akuntansi berkelanjutan, yakni global situation, risk and opportunities in sustainability era, sustainability accounting, dan sustainability reporting.  Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini bumi mengalami krisis lingkungan dan iklim. 

Keadaan tersebut menyebabkan adanya resiko global, yang mana lima resiko terbesarnya antara lain perubahan suhu ekstrim, mitigasi dan adaptasi iklim yang gagal, banyaknya bencana alam yang muncul, kepunahan biodiversitas alam, dan perubahan kehidupan manusia sehari-hari. Tanpa adanya aksi nyata, resiko global tersebut bisa menekan lebih dari 100 juta orang ke dalam tingkat kemiskinan yang mengkhawatirkan. 

Namun semakin tinggi resiko yang timbul, semakin banyak pula kesempatan bagi masyarakat untuk dapat terlibat dalam menerapkan aspek keberlanjutan. Kesadaran dan kepedulian akan lingkungan menaruh perhatian public pada perusahaan yang dianggap tidak memiliki Corporate Social Responsibility (CSR) yang memadai dengan dampak yang diberikan terhadap lingkungan sekitarnya. 

Hal ini menekan perusahaan-perusahaan untuk mengubah strategi bisnis, hingga pada akhirnya perusahaan menerapkan cara-cara baru yang menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan. Kini mulai banyak perusahaan yang beralih menggunakan material ramah lingkungan dan juga menjunjung transparansi dalam memberikan laporan terkait pengelolaan perusahaan dan CSRnya. 

Fenomena tersebut melatar belakangi perubahan bentuk dalam praktik akuntansi. Akuntansi konvensional memfokuskan pada akuntansi keuangan yang didasari oleh paradigma dengan fokus pada profit dan kinerja ekonomi, dan pihak investor sebagai aktor utama. Para peneliti menganggap bahwa sifat tradisional tersebut sudah tidak sesuai dengan keadaan global saat ini. 

Solusi dan SDGs

Sebagai solusi, akuntansi harus memperluas fokusnya pada multi-stakeholder dari masyarakat, pegawai, dan juga lingkungan sebagai akuntansi yang berkelanjutan dan meliputi aspek sosial dan lingkungan. Kini jenis-jenis akuntansi berkelanjutan baru marak bermunculan, seperti carbon, water, dan waste accounting yang tergolong ke dalam environmental accounting, dan juga human resource, dan social auditing accounting yang tergolong ke dalam social accounting.

Dalam merespon fenomena global tersebut, pemerintah Indonesia membuat regulasi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) yang sesuai dengan Keputusan Presiden tahun 2017 untuk mendukung pencanangan SDGs yang secara bersama diupayakan, dengan harapan dapat dicapai di seluruh dunia pada tahun 2030. 

Semenjak tahun 2017, keuangan berkelanjutan mulai diterapkan di Indonesia dan menjadi suatu hal yang wajib dalam pengaturan keuangan di Indonesia. Berdasarkan estimasi penelitian di masa yang akan datang, tren mengenai keuangan berkelanjutan akan sangat bergema dalam kurun waktu yang lama. 

Perubahan bentuk dalam praktik akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah dan perusahaan menyediakan kesempatan lapangan kerja yang besar dan bidang studi baru bagi penstudi ilmu akuntansi terkait dengan pembuatan laporan kinerja dan pengelolaan perusahaan. 

Belakangan ini, mahasiswa FE Unpar, khususnya mahasiswa Jurusan Akuntansi, kerap membahas aspek keberlanjutan dalam akuntansi. Maka dari itu, FE Unpar bertujuan untuk memperkaya wawasan mahasiswa dengan menggelar kuliah tamu ini.

Ketika membicarakan tentang sustainability, masyarakat harus punya kesadaran dan melakukan tindakan yang nyata. Hal tersebut harus didasari oleh rasa peduli terhadap bumi, lingkungan, dan sumber daya baik alam maupun manusia. Diharapkan materi yang dibawakan oleh kedua pembicara dapat menggerakan dan menggugah kesadaran mahasiswa akan pentingnya prinsip keberlanjutan dalam akuntansi dan pengelolaan keuangan. (MGI/DAN)