Home / Alumni / Unpar Dampingi Perajin Kedelai
Unpar Dampingi Perajin Kedelai

Unpar Dampingi Perajin Kedelai

Bandung, (PR).- Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan konsisten mendampingi perajin pengolahan kedelai. Para perajin perlu melepas ketergantungan dari teknik tradisional.

Guru Besar Teknik Kimia Unpar Ign. Suharto mengemukakan, para perajin pengolahan kedelai terkadang tidak dapat mempertahankan kualitas karena masih memakai teknik tradisional. Padahal, untuk menjaga kelangsungan usahanya, kualitas menjadi andalan.

“Kami berupaya memberikan pendampingan bagi para pengusaha kecil pengolahan kedelai agar dapat mengembangkan usahanya,” katanya seusai kegiatan Bedah Buku Ajar Karya Suharto di FTI Unpar Jalan Ciumbuleuit, Selasa (19/4/2016).

Menurut Harto, pendampingan yang dilakukannya berkaitan dengan segi proses, teknologi, manajemen, dan penanganan limbah. Selain itu, usaha kecil pengolahan kedelai sangat rentan dengan isu bahan pengawet.

Salah satu pendampingan yang pernah dilakukannya adalah terhadap perajin tahu di wilayah Babakan Ciparay Bandung. Saat itu, seorang pengusaha bernama Enjang hampir bangkrut karena isu formalin. Untuk mengembalikan usahanya, Harto mendampinginya dengan cara mengubah teknologi yang digunakan.

“Ada alat yang diubah untuk mengolah kedelai menjadi tahu. Alat ini akan menstabilkan kualitas tahu yang dihasilkan,” ucapnya.

Contoh lainnya adalah di pabrik tempe di wilayah Padalarang. Harto membantu pembuatan ragi untuk tempe dengan menggunakan alat tertentu. Alat itu akan menjaga kualitas ragi tetap sama, sehingga kualitas tempe yang dihasilkan tidak berubah.

Menurut harto, pengembangan kedelai dapat dilakukan untuk segala aspek. Ia mengatakan banyak komoditas berbahan baku kedelai. Bahkan saat ini, masakan tempe telah dikalengkan dan dikirim ke luar negeri. “Dengan penciptaan inovasi aplikasi yang mudah dalam pengolahan kedelai akan menyentuh kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi akademik, teknologi untuk pengolahan pangan, kata Harto, harus terus berinovasi. Menurut dia, pengajar harus menghasilkan buku ajar berdasarkan penelitian. Harto terbilang salah satu yang cukup aktif menghasilkan buku ajar. Sekitar 12 buku telah ia terbitkan sebagai bahan ajar.

Rektor Mangadar Situmorang mengakui, dibutuhkan lebih banyak pengajar seperti Suharto. Selain mengajar, ia mampu melahirkan banyak buku ajar yang terbilang jarang ada. Bahkan telah banyak bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan dijual di luar negeri seperti Jepang dan Jerman.

Menurut mangadar, pengajar harus mampu menjadi peneliti dan mengabdi pada masyarakat. Ia melihat yang dilakukan Harto malah telah memadukan kalangan akademisi, pengusaha, dan masyarakat. “Saya berharap, lebih banyak lagi pengajar yang mau menyentuh masyarakat dengan informasinya,” ucapnya. (Dewi-yatini)***

Sumber: Pikiran Rakyat (Jumat, 22 April 2016)