Home / Berita Terkini / TOSAYA 2019: Bersama Berdedikasi Mengabdi dalam Satu Aksi

TOSAYA 2019: Bersama Berdedikasi Mengabdi dalam Satu Aksi

Pemukulan gong oleh Rio Chandra selaku ketua pelaksana dan pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Kampung Merak Dampit dan Dr. Paulus Sukapto selaku Wakil Rektor 3 menandakan dimulainya kegiatan Ngabantos Sadaya atau Membantu Sesama (Tosaya) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengabdian Masyarakat Kementerian Luar Negeri Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Tosaya merupakan program kerja yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat dalam bentuk pemberdayaan kampung. Dengan diadakan rutin setiap tahunnya oleh LKM, Tosaya ditujukan sebagai wadah bagi mahasiswa Unpar untuk menjalin relasi sosial maupun budaya dengan warga desa.

Pada kesempatan ini, Tosaya 2019  diadakan di Kampung Merak Dampit, Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ada beberapa alasan mengapa desa ini dipilih, antara lain karena ada potensi sayuran seperti kentang. Namun di Kampung Merak Dampit ada beberapa kekurangan antara lain seperti tidak adanya air saat musim kemarau sehingga pada waktu-waktu tersebut masyarakat desa tidak bisa bekerja.

“Mahasiswa punya kewajiban, ada yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Apalagi di Unpar terkenal dengan Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti. Jadi dibuat acara ini untuk mengaplikasikan pengabdian masyarakat tersebut,” tutur Rio saat ditanyakan mengapa program ini rutin diadakan setiap tahunnya. Rio juga menjelaskan arti dari tema Tosaya 2019 yakni “Bersama Berdedikasi Mengabdi dalam Satu Aksi”. “Dedikasi diambil dari mengorbankan waktu pikiran dan tenaga. Jadi temanya berdedikasi dan bersamanya bukan hanya dari mahasiswa tapi dari warganya juga berdedikasi untuk acara ini, dan semua itu dirangkum dalam satu aksi,“ tambahnya.

Berlangsung dari 19 Januari hingga 23 Februari, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh peserta Tosaya, antara lain adalah kegiatan penyuluhan, lokakarya, dan live-in. Setelah acara pemukulan gong dan pemotongan tumpeng, acara selanjutnya yang dilakukan adalah pemberdayaan lingkungan melalui penyuluhan sampah oleh Peduli Ciptaan Indonesia. Pada minggu pemberdayaan pertama, kegiatan yang dilakukan antara lain adalah mengenai pengolahan kentang berupa keripik oleh Binisti Foodx1000 kebun dan lomba pembuatan keripik kentang diikuti oleh warga setempat.

Dalam minggu pemberdayaan dua, rangkaian acara Tosaya 2019 dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai pemasaran kentang oleh Binisti Foodx1000 kebun yang diikuti oleh warga. Kemudian, pembangunan tempat pembakaran sampah untuk Kampung Merak Dampit yang dimulai dari beberapa minggu sebelumnya sudah memasuki tahap akhir. Minggu Pemberdayaan 3 dibuka dengan penyuluhan mengenai kopi kepada warga setempat oleh Kopi Florist. Kemudian acara dilanjutkan dengan pertandingan voli antara warga setempat dengan UKM Voli Unpar, yang dimeriahkan juga dengan keseruan dari mahasiswa dan anak-anak Kampung Merak Dampit. Menurut Rio, ada beberapa hal yang membuat Tosaya 2019 ini berbeda dengan Tosaya pada tahun-tahun berikutnya, yaitu pada Tosaya tahun ini pembangunan berjalan dengan lancar yang akhirnya diresmikan pada saat closing Tosaya 2019.

Di minggu ke-5 Tosaya 2019, acara dilanjutkan dengan pemberdayaan lokakarya kopi oleh Kopi Florist dengan mata acara cupping, yang mana warga setempat diberikan cara penyajian kopi. Pemberdayaan lainya yang dilakukan ditujukan untuk anak-anak mengenai pengolahan sampah menjadi ecobrick. Kemudian acara dilanjutkan dengan live-in selama satu malam, yang mana mahasiswa ikut tinggal dan beraktivitas dengan warga setempat untuk menjalin relasi antara mahasiswa dengan warga. “Wah pengalaman yang paling seru pas live-in sih. Jadi disana kita mengikuti kegiatan sehari-hari warga. Dari makan, bangun, dan tidur, kita ngikutin dan ngerasain bagaimana (hidup) di desa ini” jelas Rio.

Ada beberapa kendala yang dialami oleh para mahasiswa pengabdi, yaitu seperti kondisi desa yang susah untuk diakses.  Namun disamping kendala yang ada, ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari oleh mahasiswa. “Dari pembangunannya sendiri kerasa banget, dimana kita sudah ngejadwalin pembangunan dalam waktu dua minggu, tapi karena gotong royong dan orang-orang disana tulus, jadi pembangunan cepat. (Kita juga) melihat kehidupan yang baru yang ga dilihat disini, jadi lebih membuka mata” jelas Rosdina, selaku koordinator sub-divisi pembangunan.

Setelah mengikuti program pengabdian selama satu bulan ini, banyak dari mahasiswa yang mendapatkan pengalaman baru. “Sekalian liburan juga, sekalian mengabdi juga. Tanggapan masyarakat desa juga antusias, tiap minggu banyak yang datang dan banyak yang (memberikan) terima kasih dari anak kecil sampai orang tua.

“Harapannya semoga apapun ilmu yang dibaktikan semoga bermanfaat dan untuk peserta bisa terinspirasi supaya lebih banyak yang bergerak ke masyarakat.”, harap Rio. “Harapan sama, (semoga) apa yang sudah dikasih dan dibuat bisa berdampak baik, bisa bikin perubahan, dan yang sudah dikasih tidak sia-sia. (Untuk peserta semoga) bisa ketagihan untuk ikutan (pengabdian masyarakat) karena impact-nya bukan ke kita doang tapi ke orang yang dikasih.” tambah Rosdina.