Home / Berita Terkini / TOSAYA 2018, Bangun Masyarakat Mandiri
tosaya

TOSAYA 2018, Bangun Masyarakat Mandiri

Tidak selamanya mahasiswa menghabiskan waktu dalam menimba ilmu lewat kegiatan perkuliahan. Mahasiswa juga didorong untuk menerapkan ilmu yang telah didapat untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, ilmu yang diaplikasikan diharapkan mampu membawa perubahan yang positif bagi masyarakat. Hal ini ditanamkan dalam diri mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan, salah satunya adalah Tosaya.

Tosaya, singkatan dari Ngabantos Sadaya atau Membantu Sesama, merupakan program kerja rutin Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar. Setiap tahunnya, mahasiswa diajak untuk berkontribusi terhadap daerah di sekitar Bandung melalui penerapan ilmu yang mereka miliki. Tahun ini, Tosaya kembali diselenggarakan dari 20 Januari hingga 3 Maret 2018, berpusat di Kampung Batu Loceng, Desa Suntenjaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Desa Suntenjaya sendiri adalah salah satu desa terpencil di kawasan KBB, dan juga menjadi lokasi bagi penyelenggaraan Tosaya 2017.

Ditemui Tim Publikasi pada Kamis (8/3), Zakinisma, Ketua Pelaksana Tosaya 2018, menjelaskan bahwa fokus Tosaya tahun ini adalah untuk mendorong masyarakat memaksimalkan potensi daerah yang ada. Hal ini terlihat dari sumber daya dan sarana-prasarana di kawasan Batu Loceng sangat memadai, namun belum membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. “Mereka sudah punya sebenarnya, tapi mereka tidak bisa menggunakannya,” terangnya.

Pemberdayaan masyarakat

Bukan tanpa sebab Batu Loceng dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Tosaya tahun ini. Kawasan ini mengandung potensi sumber daya alam berupa kopi dan susu. Sayangnya, potensi ini masih belum digunakan secara optimal, karena dijual sebagai produk mentah. Hal ini yang menjadi fokus panitia Tosaya. Salah satunya, kata Zaki, adalah lewat pemberdayaan masyarakat terkait langkah pemasaran produk, seperti kopi bubuk. “Kalau untuk susu sendiri kita mengajarkan mereka untuk pembuatan dodol,” katanya. Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat dapat menghasilkan keuntungan lebih dari hasil kerja mereka.

Berbeda dengan kaum dewasa yang sudah memiliki pekerjaan, panitia juga turut mengajar anak-anak. Berbagai materi, seperti pentingnya kebersihan lingkungan dan menggapai cita-cita menjadi bahan ajar yang dibawakan oleh panitia Tosaya. Terkait pengajaran mengenai pentingnya cita-cita, Zaki menjelaskan, “Kita ingin menyadarkan mereka, kalian bisa melakukan lebih dari itu.” Diharapkan anak-anak sebagai generasi penerus akan terinspirasi dan mampu melangkah lebih jauh untuk mengembangkan desa mereka.

Program pemberdayaan ini sangat menarik tidak hanya bagi masyarakat. Zaki sendiri menceritakan salah satu pengalaman bertemu dengan relawan asing dari GREAT, sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang kebetulan juga berkegiatan di Suntenjaya. Mereka sangat antusias melihat kontribusi mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat desa, khususnya dalam hal mengoptimalkan sumber daya dan sarana prasarana yang ada saat ini.

Bermanfaat bagi mahasiswa

Tosaya dirancang untuk memberikan manfaat bukan hanya bagi masyarakat desa, namun juga bagi mahasiswa, khususnya yang menjadi bagian dari panitia. Selama dua hari di akhir minggu, mahasiswa menghidupi keseharian masyarakat desa. “Live-in itu minggu yang paling bermakna bagi mahasiswa,” kata Zaki. Alasannya, live-in membawa pengalaman baru bagi mahasiswa, yang sehari-hari hidup serba berkecukupan dan lebih nyaman bila dibandingkan dengan warga Desa Suntenjaya.

Dalam kegiatan Tosaya, panitia juga melibatkan berbagai elemen masyarakat Unpar, diantaranya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan himpunan mahasiswa. Salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH) yang mengajarkan tentang bahaya penggunaan narkoba kepada masyarakat desa. Tidak hanya Unpar, bahkan kaum muda dari luar Unpar juga terlibat dalam Tosaya. Seperti Mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad). “Mereka ikut membantu mengajarkan tentang kebersihan dan kesehatan,” tutur Zaki.

Secara garis besar, masyarakat menyambut baik kehadiran Tosaya selama tujuh minggu di Batu Loceng. “Tapi, kita belum bisa melihat feedback jangka panjangnya,” kata Zaki. Bagi panitia, penting bagi program pemberdayaan ini untuk memiliki keberkelanjutan, bukan program yang hit-and-run semata. Panitia sendiri sangat senang mampu membantu masyarakat secara nyata. “Bukan hanya membantu masyarakat, namun mereka mendapat berbagai ilmu juga,” sambungnya. Ia berharap agar Tosaya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pemberdayaan yang telah dilaksanakan. Seperti yang ia sampaikan, “Kita ingin membuat mereka menjadi mandiri.”