Home / Berita Terkini / Tingkatkan Daya Saing Bangsa lewat Perguruan Tinggi

Tingkatkan Daya Saing Bangsa lewat Perguruan Tinggi

Kebutuhan akan pendidikan tinggi menjadi semakin penting di tengah persaingan global. Perguruan tinggi kini berperan sebagai salah satu komponen penting bagi pembangunan bangsa.

Fenomena Disruptive Innovation menjadi perhatian dari berbagai pihak, salah satunya dari institusi pendidikan tinggi serta pemerintah. Perkembangan pesat di dunia teknologi komunikasi dan informasi membawa inovasi baru di bidang pendidikan, seperti massive online open course (MOOC) yang memungkinkan kuliah tanpa kelas dan tidak berbatas (borderless). Perubahan ini dapat menjadi peluang maupun rintangan bagi eksistensi perguruan tinggi, salah satunya Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang pada tahun 2018 genap berusia 63 tahun.

Bahasan mengenai perkembangan pendidikan tinggi Indonesia menghadapi berbagai perubahan zaman ini diutarakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Profesor Mohammad Nasir, pada Orasio Dies Unpar 17 Januari 2018. Orasi bertajuk Pendidikan Tinggi Berkualitas: “Mendorong Kemajuan IPTEK, Inovasi, dan Daya Saing Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0” menggambarkan dengan tepat kondisi kontemporer yang harus kita manfaatkan demi kemajuan bangsa.

Kembangkan riset, kejar ketertinggalan

Mengawali orasi, Nasir menggambarkan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Secara garis besar, kapasitas riset dan perguruan tinggi di Indonesia masih mengalami ketertinggalan bila dibandingkan dengan negara lain.
Ketertinggalan ini terlihat dalam data yang dikemukakan lewat orasi, seperti indeks persaingan global Indonesia yang fluktuatif dan kalah dibandingkan negara-negara besar lain.

Berdasarkan pandangan dunia pendidikan, dua hal menyumbang terjadinya fenomena tersebut. Pertama, masih rendahnya kualitas pendidikan tinggi dan pelatihan bagi keahlian tertentu. Kedua, rendahnya penguasaan dalam bidang sains dan teknologi. Poin-poin ini menjadi sangat penting karena secara langsung berkaitan dengan kebutuhan akan riset yang masih jauh dibandingkan negara lain.

Mengembangkan riset merupakan tugas bersama bagi para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan akademisi. Rancangan pembagian riset (clustering) dalam kerangka Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) menjadi pedoman peningkatan riset berdasarkan urgensi bangsa saat ini. Proses clustering diharapkan menyelesaikan permasalahan-permasalahan seperti redundansi atau pengulangan riset. Kerja sama pemerintah dan perguruan tinggi telah terbukti meningkatkan riset Indonesia di tingkat internasional, serta memperbaiki kualitas institusi pendidikan tinggi nasional.

Sinergi berkelas dunia

Sinergi di bawah organisasi seperti Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) juga secara langsung di bawah Kemenristekdikti menjamin pemerataan kualitas universitas hingga mampu bersaing di ranah global.

Menginjak usia yang tidak muda lagi, Unpar sadar akan berbagai perubahan yang terjadi, baik secara khusus dalam lingkup pendidikan tinggi maupun secara luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini menjadi perhatian tersendiri baik bagi pimpinan universitas maupun Yayasan Unpar.

Unpar berbenah mengikuti perkembangan zaman dengan berbagai langkah penting, seperti penggunaan Interactive Digital Learning Environment (IDE) dan kerja sama dengan berbagai publisher internasional dalam penyediaan e-book dan e-textbook untuk konten proses pembelajaran digital yang mulai digunakan secara luas oleh mahasiswa dan dosen.

Integrasi teknologi digital ke dalam proses perkuliahan dengan kurikulum yang sesuai kebutuhan zaman. Sebagai contoh, Unpar membuka program sarjana Mekatronika sebagai bagian dari Fakultas Teknologi Industri sejak 2015. Di bidang ekonomi, program diploma (D3) Manajemen Perusahaan memperkenalkan kompetensi kewirausahaan kreatif menanggapi perubahan tren dalam perekonomian global. Inovasi serupa terjadi di seluruh fakultas dan program studi Unpar, sejalan dengan perkembangan bangsa dan masyarakat global.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 30 Januari 2018)