Home / Berita Terkini / Tingkat Kerelawanan Tinggi, Solidaritas Akan Jadi Kenormalan Baru Usai Pandemi Covid-19

Tingkat Kerelawanan Tinggi, Solidaritas Akan Jadi Kenormalan Baru Usai Pandemi Covid-19

PIKIRAN RAKYAT – Pandemi Covid-19 yang melahirkan krisis di banyak bidang kehidupan memberikan peluang bagi masyarakat sipil dan pemerintah untuk memperkokoh solidaritas sebagai kenormalan baru.

Tingkat kerelawanan tinggi yang dimiliki penduduk Indonesia merupakan bekal strategis untuk  mewujudkan kenormalan baru tersebut.

Berdasarkan Indeks Kesejahteraan Legatum (Legatum Prosperity Index) 2019, Indonesia merupakan negara dengan tingkat kesukarelawanan tertinggi di dunia.

Dalam satu dekade terakhir, semakin besar proporsi penduduk yang melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial dan sipil.

“Kerelawanan kaum muda kita sangat tinggi. Intuisi kemanusiaannya masih berjalan bagus. Ini isyarat yang memberi harapan,” kata Bambang Sugiharto, guru besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung dalam webinar “Hikmah Covid-19: Inspirasi Slavoj Zizek dan Yuval Harari”, Jumat 15 Mei 2020.

Menurut Bambang, modal sosial berupa kerelawanan tinggi ini bisa menjadi titik awal yang baik. Namun harus ada kerja lebih kuat lagi untuk menaikkan tingkatannya, dari kerelawanan karitatif yang didasari rasa iba atau kasihan menjadi solidaritas universal atas kemanusiaan.

“Bersedekah karena tidak tahan melihat orang lain menderita boleh saja sebagai tindakan awal yang bagus. Tapi setelah itu kita harus melakukannya secara sistematis untuk mengentaskan dan memberdayakan betul mereka yang paling lemah, yang paling menderita,” tutur penulis buku “Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat” (1996) tersebut.

Bambang menyebut pandemi Covid-19 sebagai krisis yang menguji tingkat keadaban masyarakat dan bangsa yang selama ini masih ada di taraf bertahan hidup yang paling rendah. Kebiasaan mengutamakan kepentingan sendiri atau golongan dan kegemaran menyalahkan pihak lain harus ditinggalkan. Memperkokoh solidaritas berarti melihat orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki substansi sama, terlepas dari apapun suku, agama, ras, dan golongan.

Solidaritas Lokal

Tentang solidaritas di masa pandemi, tidak sedikit praktik baik yang bermunculan di tengah masyarakat, baik secara invidual maupun komunal, di Jawa Barat. “Pikiran Rakyat” merekam berbagai praktik solidaritas lokal itu lewat reportase jurnalistik.

Dari rumah kontrakannya di Cigadung, Kota Bandung, Arum Trenaningtyas membuat ratusan masker dengan memanfaatkan kain sisa tugas kuliahnya sejak awal April 2020. Masker-masker itu ia bagikan ke para pekerja informal yang ketika itu harus bertahan hidup dengan tetap bekerja di lapangan. Seminan pantomim Wanggi Hoed juga menggalang bantuan dengan memanfaatkan sosial medianya.

Di kampung Lio Genteng, Kota Bandung, anak-anak muda berinisiatif mendirikan dapur umum untuk mencukupi kebutuhan makan warga yang paling miskin sejak akhir Maret 2020. Di kompleks perumahan Cipageran Asri, Kota Cimahi, warga bersama-sama menyokong pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari tetangga mereka yang dinyatakan positif Covid-19 lewat uji cepat pada awal April 2020. 

Solidaritas juga datang dari para pegiat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung. Dimulai dari survei dampak pandemi terhadap perekonomian dan akses pangan warga, mereka mendirikan posko penyaluran bantuan bagi warga yang paling rentan di masa pandemi, mulai dari para pekerja informal yang kehilangan pekerjaan sampai mereka yang terdampak banjir.

Harari dan Zizek

Dalam paparannya di webinar yang menjadi bagian Extension Course Filsafat (ECF) itu, Bambang Sugiharto membedah pemikiran dua filsuf besar yang paling populer dan banyak dirujuk orang saat ini, yakni Yuval Noah Harari dan Slavoj Zizek. Penguatan solidaritas global merupakan satu dari beberapa benang merah gagasan keduanya.

Harari, penulis buku laris “Sapiens”, menyarankan agar solidaritas global dipilih umat manusia dibandingkan isolasi nasional. Beberapa cirinya adalah pertukaran informasi yang penting terkait pandemi, kerja sama produksi dan distribusi alat kesehatan, humanisasi jalur produksi krusial, serta perumusan bersama perjalanan antarnegara secara global.

Sementara Zizek, yang baru saja meluncurkan buku “Pandemic!”, menyebut beberapa prinsip solidaritas global, di antaranya pemberian bantuan tanpa syarat bagi mereka yang terlemah, penguatan nalar di forum publik, serta amplifikasi kesadaran umum bahwa perang itu tidak bermakna.

“Bersama Harari dan Zizek, mari berharap pandemi ini membuat kita semua ‘terinfeksi’ kebutuhan untuk naik tingkatan ke kesadaran yang lebih luas dan lebih universal,” tutur Bambang.*** Sumber: pikiran-rakyat.com