Home / Berita Terkini / Tim FH Unpar Wakili Indonesia pada 17th Red Cross International Humanitarian Law Moot 2019

Tim FH Unpar Wakili Indonesia pada 17th Red Cross International Humanitarian Law Moot 2019

Sebuah perjalanan dan refleksi

Tidak terasa sudah sebulan yang lalu tim IHL (International Humanitarian Law) Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar) yang terdiri dari Kevin Setiadi (2016), Moses Mesakh (2016), dan Theo Prawiradirdja (2017) berangkat ke Hong Kong untuk mewakili Indonesia di tingkat internasional setelah berhasil memenangkan putaran nasional pada November 2018 lalu.

Pada putaran internasional ini, kompetisi diikuti oleh 24 negara (dengan diwakili universitas yang memenangkan putaran nasional masing-masing) di wilayah Asia-Pasifik, termasuk Australia dan Selandia Baru. Kompetisi ini diadakan oleh Hong Kong Red Cross berkolaborasi dengan The University of Hong Kong dan The Chinese University of Hong Kong, pada 6-9 Maret 2019.

Pada hari pertama, babak penyisihan diadakan di Fakultas Hukum Universitas Hong Kong. Pada babak penyisihan ini, semua tim bertanding sebanyak dua kali, yakni sebagai jaksa penuntut (prosecutor) dan sebagai terdakwa (defendant). Hasil dari babak penyisihan tersebut, dari 24 tim yang bertanding mengerucut menjadi 8 tim terbaik yang masuk ke babak perempat final. Tim Unpar meraih peringkat ke-9 di babak ini.

Pada hari kedua, seluruh tim berkunjung ke markas besar Palang Merah Hong Kong (Hong Kong Red Cross, HKRC). Acara pertama di HKRC adalah War Zone 90. Pada dasarnya, ini adalah simulasi perang. Sungguh pengalaman yang luar biasa, ketika para peserta berperan sebagai warga negara biasa yang ditawan oleh sejumlah tentara di suatu negara yang sedang perang. Tujuan dari War Zone 90 ini agar mahasiswa hukum khususnya di bidang hukum militer internasional (IHL) dapat memahami lebih dalam dan menyadari realitas dalam peperangan dimana IHL diaplikasikan. Dalam simulasi perang tersebut, tim dipindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain (deportation) dan ditahan di sebuah sel yang sangat sempit. Di situlah tim dapat membayangkan konsekuensi riil dari aturan-aturan hukum yang mengatur peperangan serta pentingnya pembatasan-pembatasan yang diatur dalam hukum, sesuai dengan motto HKRC yaitu “even war have limits”.  

Pada hari ketiga, para peserta mengikuti seminar di HKRC tentang kemanusiaan dan peran Palang Merah Internasional (ICRC). Beberapa pembicara dari ICRC banyak membagikan ilmu tentang pentingnya IHL menjadi suatu bidang konsentrasi dalam sekolah hukum, dan informasi bagaimana mahasiswa fakultas hukum dapat bekerja di Non-Governmental Organization khususnya ICRC.

Babak semi final dan final digelar pada hari terakhir. Suasana sidang berubah total karena kedua babak tersebut dilangsungkan di High Court Hong Kong. Semua delegasi yang bertanding seperti pengacara sesungguhnya yang sedang bersidang di International Criminal Court di Den Haag, Belanda. Setelah persidangan selesai, hakim memutuskan bahwa Peking University sebagai tim yang mewakili terdakwa berhasil memenangkan kompetisi IHL 2019 ini setelah mengalahkan Singapore Management University yang mewakili pihak jaksa penuntut.

Setelah pertandingan selesai, semua delegasi bersantap malam bersama di Charterhouse Hotel Hong Kong. Semua peserta IHL 2019 berkenalan satu dengan lainnya dan dengan para hakim. “Saya juga mendapatkan banyak teman-teman baru yang berasal dari berbagai negara, terutama negara-negara anggota ASEAN,” ujar Kevin Setiadi salah satu tim FH Unpar.

Pembelajaran yang didapat tim FH Unpar dari kompetisi IHL 2019 di Hong Kong ini sangat beragam. Menurut Theo, kualitas pertanyaan yang diajukan oleh hakim jauh dari ekspektasi yang ia bayangkan. “Wah, pertanyaannya beda banget ya sama national-round, semua pertanyaan di international-round bukan pertanyaan yang basic,” ujar Theo.

Kasus hukum di putaran internasional ini pun menjadi tantangan baru bagi tim karena tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. “Proses persiapan yang dilakukan lebih intensif sebab terdapat banyak hal yang perlu dipersiapkan dalam waktu yang singkat, 3 bulan kurang lebih,” tambah Kevin.

Tentunya semua pengalaman yang telah didapatkan dalam kompetisi IHL 2019 di Hong Kong ini dapat berguna untuk tim nantinya sebagai Sarjana Hukum. “Terutama kita sebagai mahasiswa sudah dihadapkan dengan kasus yang tidak mudah dan kita dipaksa untuk memacu otak kita untuk berargumen di depan hakim. Tentu argumen yang kita buat tidak ada gunanya jika kita tidak menyertakan dasar-dasar hukum yang kuat,” ungkap Moses.

Tim IHL FH Unpar sangat berterima kasih kepada tim pelatih yang terdiri dari Dr. Hary Elias (Academic Director Temasek Independent School, Bandung), Bpk. Heru Muzaki (Partner pada firma hukum LHBM Counsel, Jakarta), dan Bpk. Adrianus Ramon, S.H., LL.M. (Adv.) (Dosen Hukum Humaniter Internasional, FH Unpar). Terima kasih juga kami sampaikan kepada Parahyangan International Law Society (PILS) yang telah mendukung tim IHL selama persiapan mengikuti lomba ini.

Oleh: Kevin Setiadi, Moses Mesakh, dan Theo Prawiradirdja

Editor: Tim Publikasi Unpar