Home / Berita Terkini / Tiga Tahun Berturut, Listra Unpar Pertahankan Prestasi di Denscup 2019

Tiga Tahun Berturut, Listra Unpar Pertahankan Prestasi di Denscup 2019

Tim Lingkup Seni Tari Tradisional Universitas Katolik Parahyangan (Listra Unpar) kembali meraih juara pertama dalam Lomba Tari Tradisional Dentistry Cup (Denscup) XX: Extraction pada 21 Oktober 2019, yang merupakan acara perlombaan tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti. Prestasi ini menandai tiga tahun berturut Listra Unpar meraih juara pertama dalam perlombaan ini.

Adapun tim Listra yang mengikuti lomba Denscup XX terdiri dari beberapa mahasiswi Unpar yaitu Bashira Raina Adine, Debby Valentzia, Ghautami Kelama Alara, Ghautami Rama Putra Udnaka, Jenifer Victoria Bellinda, Stella Nagita Gunawan, dan Diva Geovany. Mereka didukung oleh Alfonsus Vincent Turnawan dan Gabriella Apriliana sebagai penanggungjawab lomba, serta Katarina Sabrina Cataprata selaku official.

Meskipun hanya dengan 2 minggu latihan intensif, namun Listra Unpar tetap menghasilkan prestasi yang membanggakan nama baik Unpar. “Sesuai (dengan ekspektasi) karena kita latihan setiap hari, hari sabtu juga latihan, dan waktu UTS tetap latihan,” tutur Debby. Adapun tari tradisional yang dibawakan oleh Tim Listra Unpar adalah Tarian Citra Resmi Sekarning Belapati. Sebuah tarian yang diangkat dari kisah tragis dari putri Kerajaan Sunda yaitu Dewi Citraresmi atau yang kerap dikenal sebagai Dyah Pitaloka, demi mempertahankan martabat diri dan tanah airnya.

Listra Unpar merupakan UKM Unpar yang terus berusaha untuk memperkenalkan budaya tradisional Indonesia. Bagi Stella Gunawan, salah satu anggota Tim Listra Unpar, ketertarikannya terhadap seni tari tradisional muncul karena dirinya berada di lingkungan kelompok yang berkecimpung di dalam seni tari tradisional. “Dari dulu hobi nari dan di sekolah ada tari tradisional. Tapi tinggal di lingkungan yang masuk ke seni tradisional, jadi lama kelamaan mengenal dan lama-lama ada rasa cinta dengan budaya Indonesia dan merasa budaya Indonesia pantas untuk diperkenalkan ke internasional karena unik,” jelas Stella.

Sama halnya dengan Stella, Bashira Adine, salah satu anggota Tim Listra Unpar, juga merasa kecintaannya terhadap seni tradisional Indonesia muncul karena keunikan dari seni Indonesia yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Begitu juga bagi Debby, dirinya tertarik dengan seni tradisional karena keunikan dari budaya Indonesia. “Dari kecil pernah nari tradisional, lalu SMP tari modern, tapi (lama kelamaan) lebih tertarik ke tari tradisional karena ga semua orang bisa, ada teknik khusus. Waktu tahun lalu ikut misi budaya ke Yunani dan melihat kebudayaan-kebudayaan tiap negara lain dan merasa Indonesia budayanya spesial, juga apresiasi dari orang-orang sangat besar,” tutur Debby.

Mengakhiri wawancara, Tim Listra mengajak mahasiswa Unpar untuk terus mencintai ragam budaya tradisional Nusantara, termasuk dengan mempelajari seni pentas seperti tari dan musik. “Ga usah malu untuk mencoba. Banyak yang mikir budaya Indonesia itu kuno, tapi cobain dulu karena belum tau kalau belum coba, dan nantinya akan jadi bangga,” pesan mereka. (YJR/DAN)