Home / Opini / “Tidak Perlu Takut Kuliah di Sini. Ada Banyak Beasiswa yang Tersedia”

“Tidak Perlu Takut Kuliah di Sini. Ada Banyak Beasiswa yang Tersedia”

Sebuah ucapan terima kasih

Saya teringat bahwa pada tahun 2013, sekolah saya pernah mengadakan kunjungan ke Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dan salah seorang staf dari universitas ini kira-kira berkata seperti ini: “Tidak perlu takut kuliah di sini. Ada banyak beasiswa yang tersedia.” Berangkat dari kata-kata orang itu, saya selalu memiliki harapan untuk dapat membantu meringankan orang tua saya dengan mendapatkan beasiswa yang membiayai studi saya di Unpar. Rasa-rasanya terlalu panjang untuk menceritakan bagaimana saya akhirnya bisa menjadi salah satu penerima beasiswa Dana Lestari Ultima Yayasan Unpar. Bolehkah saya langsung melantunkan terima kasih kepada Tuhan, dan Unpar, serta seluruh pihak yang pekerjaannya bersentuhan dengan urusan pemberian beasiswa?

Saya rasa tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa saya sangat terbantu dengan keberadaan fasilitas beasiswa, khususnya beasiswa Dana Lestari. Barangkali pula ada banyak mahasiswa lainnya yang merasa sangat tertolong oleh bantuan yang ditujukan untuk menunjang studi mereka di tengah segala kekurangan yang ada. Saya merupakan satu dari orang-orang yang patut bersyukur: sama-sama berada di kondisi ekonomi yang tidak stabil–ironisnya dengan semangat belajar tinggi, namun dapat melanjutkan studi di Unpar tanpa perlu tersandung oleh masalah yang kami alami.

Sebuah kilas balik: Mari bercerita jujur

Jika berbicara soal permasalahan finansial, barangkali bukan hal yang mudah bagi saya untuk dapat menempuh pendidikan tinggi di Unpar. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga yang secara finansial dapat dikatakan tidak terlalu stabil, kuliah di sebuah universitas swasta merupakan ‘mimpi berlebihan’, setidaknya merujuk pada apa yang dikatakan oleh sebagian besar orang. Keputusan saya untuk memilih melanjutkan studi saya di universitas ini, secara spesifik mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional (HI), menuai beberapa pendapat pahit, memposisikan saya seolah-olah menjadi anak yang “tidak tahu diri” akan kondisi orang tua saya. “Mengapa tidak di negeri saja?” adalah kata-kata yang dilontarkan oleh sebagian besar orang, mengingat bahwa saya memang berasal dari salah satu SMA negeri unggulan di kawasan Jakarta Barat, atau “mengapa tidak di Jakarta saja?”. Bahkan kata-kata semacam itupun masih terdengar saat saya telah memulai studi saya.

Pun ada masa di mana saya sendiri merenungi kembali keputusan saya. Apakah memang saya salah? Apakah jika saya berkuliah di universitas negeri, dengan biaya yang jauh lebih murah, situasi yang ada akan jauh lebih baik? Tetapi saya menyadari bahwa pilihan saya untuk melanjutkan studi di sini bukan tanpa alasan. Dan nyatanya, tidak pernah ada rasa sesal sedikitpun untuk bisa bergabung dalam keluarga HI Unpar, sekaligus universitas ini secara keseluruhan. Saya memiliki pola pikir yang tidak lagi sama, dibentuk untuk menjadi sosok manusia yang menghargai manusia berdasarkan integritas, bukan karena latar belakang etnis, agama, asal, ataupun golongan. Saya belum tentu merasakan pengalaman pluralisme yang saya alami di Unpar di tempat lain.

Sebuah perenungan: kemiskinan struktural

Keluarga saya memang dapat dikatakan masih berkecukupan, meski untuk membiayai studi (pada saat itu 3 anak, kakak saya, saya, dan adik saya), ayah dan ibu saya berjuang dengan keras. Sayapun berbohong apabila tidak mengakui bahwa saya merasa sedih melihat orang-orang di sekitar saya dapat melanjutkan studi mereka tanpa halangan: uang kuliah tidak pernah telat begitupun dengan uang bulanan yang lebih dari cukup. Tetapi saya segera menyadari bahwa tidak pantas bagi saya untuk memiliki rasa iri hati terhadap kehidupan orang lain. Hanya saja, saya berpikir mengenai keluarga saya: apakah ayah saya tidak cukup keras bekerja? Apakah ibu saya adalah orang pemalas? Adalah suatu hal yang bodoh bagi saya untuk menjawab pertanyaan retoris semacam itu.

Mungkin memang terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa keluarga saya terperangkap dalam jebakan kemiskinan struktural, melihat masih banyak penduduk Indonesia yang tidak seberuntung saya. Akan tetapi, penggambaran kondisi saya nampaknya tepat untuk memotret fenomena kemiskinan struktural yang terjadi di masyarakat Indonesia. Berapa banyak manusia yang memiliki motivasi yang baik, dengan semangat kerja yang tinggi, namun tetap berada dalam perangkap kemiskinan? Kemiskinan struktural pun seringkali menjadi masalah yang telah masuk ke dalam ranah pendidikan, di mana yang memiliki uang berlebih adalah mereka yang bertahan, terlepas dari seberapa besar etos belajar yang mereka miliki. Meski demikian, dengan fasilitas pemberian beasiswa yang ada, saya melihat bahwa Unpar bukan merupakan institusi pendidikan yang ditujukan khusus kaum borjuis saja yang mampu membayar segalanya; melainkan salah satu yang mengabdi pada tujuan mulia mendidik manusia untuk pada akhirnya membentuk mereka menjadi sosok yang mau membaktikan ilmunya kepada masyarakat.

Saya berharap agar Unpar dapat terus menjadi institusi pendidikan yang selalu peka terhadap kondisi mahasiswa di tengah dunia yang penuh ketimpangan sosial ini. Saya banyak melihat bahwa orang-orang di sekitar saya membutuhkan bantuan, namun rasanya belum sepenuhnya sadar akan kehadiran Unpar yang dapat membantu soal biaya studi. Saya beruntung menjadi orang yang “diselamatkan”, dan saya rindu melihat ada banyak mahasiswa lain untuk mendapatkan apa yang sepatutnya mereka dapatkan.

Penulis: Bobby Hizkia (Mahasiswa HI Unpar-2014)

Sumber: Media sosial penulis