Home / Berita Terkini / Tantangan Perguruan Tinggi: Untuk Apa Bayar Mahal Jika Hanya Daring?

Tantangan Perguruan Tinggi: Untuk Apa Bayar Mahal Jika Hanya Daring?

Oleh: Mangadar Situmorang, Ph.D. – Rektor Universitas Katolik Parahyangan

Pertanyaan ini pantas untuk ditanggapi. Pertanyaan semacam itu tidak hanya dikemukakan mahasiswa yang sedang kuliah, tetapi juga para calon mahasiswa, orangtua, dan masyarakat umum.

Pertanyaan itu ditujukan tidak pula hanya pada pendidikan tinggi (PT), tetapi juga setiap tingkat pendidikan yang ada. Maka, tidak pelak lagi, PT di Indonesia harus mampu menjawabnya.

Ada dua argumentasi yang mendasari munculnya pertanyaan itu. Pertama, argumentasi ekonomis, di mana pendidikan tinggi cenderung dipandang dan dikelola layaknya bisnis sektor jasa. Pandemi Covid-19 telah memaksa perubahan “proses produksi” dalam penyelenggaraan pembelajaran dari yang sebelumnya konvensional (tatap muka) menjadi dalam jaring (daring atau tahap maya). Produk atau output berupa mutu pembelajaran pun diduga menurun. Dengan dua aspek saja dalam perspektif industri jasa seperti itu, PT menjadi sensitif terhadap logika pasar dan terimbas dinamika ekonomi makro.

Dalam pembelajaran konvensional, mahasiswa datang ke kampus dan menerima pembelajaran dari dosen. Untuk pembelajaran yang menuntut visualisasi, peragaan, atau praktikum, mahasiswa dapat mengikuti dan terlibat secara riil atau fisik. Tak hanya itu, mahasiswa mendapatkan dan menikmati pembelajaran di luar materi kuliah yang disampaikan di ruang kelas. Pembelajaran itu berasal dari interaksi sosial dengan dosen dan sesama mahasiswa di berbagai forum akademik dan non-akademik.

Suasana akademik dan diskursus intelektual berlangsung dalam format yang spesifik, khas dan tak selalu terstruktur. Selain itu, mahasiswa mungkin juga bisa menikmati fasilitas rang kuliah berpendingin, akses internet, atau halaman asri, atau mungkin kantin yang menyajikan makanan dan minuman yang murah meriah. Ruang dan kesempatan bercengkerama dengan sesama mahasiswa atau yang lain juga sangat terbuka. Fasilitas pendukung untuk olahraga dan olah seni budaya juga jadi bagian layanan dari pembelajaran konvensional PT.

Sejak berubah menjadi pembelajaran daring, kecuali proses transfer materi kuliah, semua “keistimewaan” dalam pembelajaran konvensional tersebut hilang. Perkuliahan daring oleh dosen pun barangkali tidak terlalu sebagus konvensional. Penguasaan pedagogik oleh dosen yang atraktif dan inspiratif secara tatap muka tidak dapat dengan mudah dialihkan ke dalam media digital tatap maya. Efektivitas pembelajaran visual dan praktikum tereduksi secara signifikan. Yang pasti, semua bentuk fasilitas fisik seperti ruang kuliah, laboratorium, ruang pertemuan, atau kantin secara praktis tidak digunakan. Dalam konteks ini, aspirasi untuk tidak menaikkan uang kuliah tampaknya memperoleh justifikasinya.

Argumentasi ekonomis itu diperkuat oleh menurunnya pendapatan masyarakat. Ini bermula dari penghentian atau pengurangan aktivitas ekonomi dan industri sebagai konsekuensi kebijakan social dan physical distancing atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditempuh pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid-19. Daya beli masyarakat akan pendidikan tinggi pun ikut terdampak.

Kedua, argumentasi pedagogis. Lebih dari sekadar jajaran gedung atau bangunan, susunan kelas, ruang-ruang tertutup dan terbuka serta kerumunan banyak orang, yang namanya kampus memiliki makna akademik dan sosial yang jauh lebih kuat. Setiap unit fisik memiliki fungsi akademik tertentu yang terhubung satu sama lain, seperti ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan.

Dan lebih dari itu, setiap insan yang berada di kampus memiliki identitas serta membangun interaksi dan relasi intelektual, sekaligus sosial. Satu sama lain dipersatukan kepentingan yang sama: menggali, mengembangkan, serta mendiseminasikan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Kampus menjadi sebuah komunitas akademik (communio/communion/community) di mana mahasiswa dan dosen bertemu, bersatu, dan berdialog dalam semangat kebenaran (caritas in veritate). Lewat pertemuan kelas, mahasiswa mendapatkan ilmu pengetahuan yang telah diuji secara kritis.

Melalui praktikum di laboratorium dan studio, keterampilan dan kemahiran diasah. Dalam seluruh proses dan interaksi dengan dosen dan sesama mahasiswa itu, mahasiswa membangun tak saja kematangan intelektual, tetapi juga kedewasaan diri, serta mengembangkan kebajikan (virtue), seperti sikap toleran terhadap perbedaan pendapat dan perbedaan lain. Maka, ketika pengalaman belajar dalam komunitas seperti itu (experential learning) tak lagi dapat berlangsung secara tatap muka tetapi jadi tatap maya, masih pantaskan mahasiswa dan orangtua membayar mahal.

Jawaban sekaligus tantangan

Adalah sebuah kejanggalan bilamana masih ada orang yang ingin memiliki ijazah atau begitu bergairah untuk dapat gelar akademik tanpa mengalami dan menjadi bagian dari academic community. Sebab, sejatinya PT hanya akan memberikan ijazah kepada seseorang yang telah mengalami formasi (proses pembentukan) dan telah mencapai tahapan transformasi jadi pribadi yang tak saja berpengetahuan tinggi, tetapi juga kepribadian unggul dan terpuji dalam hal berpikir dan bertindak (baca: sarjana).

Kesejatian pendidikan dan perguruan tinggi itu mengacu pada sejumlah prinsip yang menunjukkan esensi dan tujuan pendidikan. Taksonomi Bloom masih kerap dirujuk sebagai tiag aspek penting yang dikembangkan melalui pendidikan, yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi), dan keterampilan kerja (psikomotorik). UNESCO menetapkan empat pilar pendidikan di mana tujuan pembelajaran dimaksudkan untuk memampukan peserta didik mengetahui (to know), melakukan (to do), berinteraksi dengan orang lain (to live together), dan berkembang (to be). Referensi nasional tak kalah bagusnya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengolah dan meningkatkan kemampuan karsa (pikir), rasa (sikap), dan karya (keterampilan). Acuan kontemporer menunjukkan pentingnya hard skills (pengetahuan dan keterampilan) serta soft skills (sikap) yang harus dikembangkan di PT.

Tak ketinggalan dengan rujukan dari World Economic Forum (WEF) yang menyatakan PT hendaknya (1) mengadopsi dan mengadaptasi kemajuan teknologi, (2) memahami perubahan bisnis dalam masyarakat, (3) mengembangkan spirit belajar sepanjang hayat, serta (4) memperkuat model pembelajaran berbasis aksi. Lebih lanjut, WEF menegaskan kemampuan yang dimiliki calon-calon pemimpin sekarang dan di masa depan, yaitu (secara berurutan): kemampuan menyelesaikan persoalan yang kompleks, kecerdasan sosial, penguasaan proses , dan pemahaman sistem. Menyusul di belakangnya, kemampuan kognitif dan keterampilan teknis.

Semua itu sejalan dengan UU Dikti No. 12/2012 yang menegaskan fungsi pendidikan sebagai pengemabangan pengetahuan dan watak inovatif, berdaya saing, dan humanis. Secara spesifik dikatakan tujuan pendidikan tinggi adalah mengembangkan potensi mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta mampu menerapkannya untuk kemajuan bangsa, peningkatan peradaban dan kesejahteraan manusia.

Memindahkan semua proses pendidikan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan di atas menjadi proses daring bukanlah proses mudah, melainkan tetap terbuka untuk dilakukan. Itu diawali dengan melakukan imitasi dan replikasi proses tatap muka jadi tatap maya. Dosen perlu membuat pembelajaran daring tak saja atraktif, tetapi juga dengan kualitas isi yang tinggi. Pemanfaatan berbagai sumber dan media pembelajaraan perlu terus diperkaya dan diperbarui secara reguler. Karakteristik mata kuliah dengan pilihan media pembelajaran perlu disesuaikan.

Yang tak kalah penting adalah memahami karakteristik belajar mahasiswa yang juga berubah-anytime dan anywhere. Dosen juga harus membekali diri dengan filsafat pendidikan atau pedagogi virtual yang “menyapa”, “mendampingi”, “membesarkan hati”, dan “peduli” dengan mahasiswa. Pendidikan yang berpusat pada mahasiswa (student centred learning) dalam pendidikan konvensional tampaknya perlu tetap dipertahankan dengan modifikasi dalam hal cara. Namun, perhatian dan penguatan (encouragement) tetap harus nyata.

Seluruh kegiatan informatif (transfer ilmu), formatif (pembentukan), dan sumatif juga tetap berlangsung secara virtual. Kombinasi pembelajaran yang high tach dan high touch dapat terus berjalan.

Banyak PT yang tergagap-gagap dalam melakukan transformasi pendidikan, khususnya pembelajaran daring. Infrastruktur (server, jaringan internet, dan platform) pembelajaran daring tak memadai. Hal ini diperparah keberadaan dosen yang gaptek (yang secara bercanda disebut kelompok dosen “besi-tua” untuk membedakan dari dosen platinum yang canggih dengan teknologi informasi dan komunikasi). Ketergagapan itu juga dialami PT di kota-kota besar.

Tidaklah mengherankan jika dalam empat bulan terakhir, dan akan terus berlanjut bulan yang akan datang, PT menempuh kebijakan re-focusing dan realokasi anggaran sebagaimana yang terjadi di berbagai sektor usaha dan lembaga pemerintahan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran daring.

Reputasi dan keberlanjutan PT

Selain untuk membiayai transformasi ke arah pembelajaran daring, investasi orangtua dan masyarakat bagi pendidikan tinggi putra-putrinya sering kali tidak terbatas hanya untuk aspek-aspek akademik, sarana-prasarana fisik, serta interaksi dan komunitas akademik sebagaimana telah disebutkan di atas. Reputasi dan rekognisi PT tampaknya menjadi pertimbangan pula dan setiap PT berjuang keras untuk itu dan sering kali dalam waktu yang cukup panjang. PT yang memiliki reputasi sangat baik – antara lain ditunjukkan akreditasi yang ditetapkan BAN-PT dan peringkat yang dikeluarkan Kemendikbud – sering kali menjadi pertimbangan penting bagi (calon) mahasiswa memilih PT yang dituju. Sebagian besar reputasi dan rekognisi itu merupakan kontribusi para dosen PT yang sering tampil di panggung akademik ataupun impak sosial-politik yang diberitakan oleh media.

Para (calon) mahasiswa dan orangtua juga memperhitungkan sepak terjang alumni di dunia usaha dan industri, pemerintahan, panggung politik, asosiasi profesi, dan kemasyarakatan. Dalam konteks itu berlaku anggapan bahwa sebuah PT dikenal lewat karya dan karier alumninya. Jejaring alumni PT dalam beberapa kasus atau sektor tampil sebagai sebuah sindikasi yang bersifat eksklusif yang sulit diinfiltrasi orang yang tak berasal dari almamater yang sama. Tak langka pula menyaksikan peristiwa-peristiwa tertentu di mana mereka tampil ibarat sebuah gerakan atau kelompok penekan (pressure groups) dan kekuatan politik (political forces).

Reputasi PT dan jejaring alumni PT barangkali belum akan terdampak oleh perubahan pembelajaran daring dan itu masih bisa jadi jawaban atas pertanyaan di atas. Namun, itu hanya bisa bertahan dan selanjutnya bermakna (meaningful) dan berdampak (impactful) bilamana PT melakukan penyesuaian yang tak saja mengadopsi dan mengadaptasi teknologi digital, tetapi juga mampu mengonversi esensi academic community ke media virtual. Reduksi dan modifikasi tampaknya tak terelakkan. Namun, penyesuaian dengan generasi milenial serta kebutuhan dunia usaha dan industri jadi hal yang sangat penting sebagai syarat keberlanjutan PT. Dengan begitu, bahwa pendidikan tinggi adalah sebuah investasi tetap memiliki pembenarannya.

Sumber: Kompas – Kamis, 23 Juli 2020