Home / Berita Terkini / Taksonomi Kompetensi dalam Optimalisasi Rancangan Asesmen
Taksonomi

Taksonomi Kompetensi dalam Optimalisasi Rancangan Asesmen

Salah satu hal yang penting bagi tenaga pengajar untuk merancang asesmen yang baik adalah dengan memahami tingkatan kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswanya. Hal ini merupakan salah satu alasan penggunaan Taksonomi Bloom dalam proses pembelajaran, seperti yang dikemukakan sebagai salah satu bahasan dalam “Workshop Asesmen dalam Pembelajaran”, yang diadakan oleh Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar), Kamis (6/7) lalu.

Dalam paparannya, Dr. B. Widharyanta, M.Pd dan Veronica Tri Prihatmini, MA. Ph.D dari Universitas Sanata Dharma menjelaskan keberadaan Taksonomi Bloom dalam proses pembelajaran, dan kaitannya dengan proses asesmen. Taksonomi ini telah direvisi oleh Anderson dan digunakan di Indonesia sejak 2013, sehingga semua tenaga pengajar disarankan untuk menggunakan taksonomi baru.

Terdapat tiga domain dalam sistem Taksonomi Bloom yang menyangkut aspek pengetahuan (kognisi), sikap (afeksi), serta keterampilan (psikomotorik). Ketiganya memiliki tingkatan masing-masing, yang akan disesuaikan dengan level pendidikan yang dijalani peserta didik. Hal ini sekaligus menjadi penuntun bagi kompetensi yang dibutuhkan oleh mahasiswa.

Kemampuan kognitif, atau aspek pengetahuan, memiliki enam tingkatan, berdasarkan pada kerumitan cara berpikir yang diharapkan dari peserta didik. Yang paling rendah adalah proses mengingat, yang tidak memerlukan proses kognitif yang rumit. Berikutnya adalah proses memahami dan kemudian menerapkan. Penerapan dalam dunia nyata didasarkan pada rumus, kaidah, maupun aturan yang dimiliki oleh bidang ilmu tertentu, yang tentu saja memiliki perbedaan. Di atas penerapan, terdapat tiga tingkatan yang lebih kompleks, yaitu analisis, evaluasi, serta kreasi. Setiap peserta didik yang telah mencapai titik tertinggi kemampuan kognitif akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, misalnya konsep yang baru.

Tentu saja, kemampuan kognitif tidak menjadi satu-satunya kompetensi yang diharapkan dari peserta didik. Setiap mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kemampuan bersikap dengan baik. Hal ini menjadi tanggung jawab besar bagi dosen, untuk memberikan contoh keteladanan bagi mahasiswa, dengan menanamkan sikap lewat berbagai aktivitas dalam perkuliahan. Seperti halnya kognisi, terdapat berbagai tingkatan dalam kemampuan afektif, mulai dari penerimaan, tanggapan, hingga membentuk karakter tertentu. Setelah mencapai tingkat tertinggi, lulusan diharapkan mampu memanfaatkan karakter tersebut dengan baik.

Terakhir, terdapat kemampuan keterampilan atau psikomotorik. Sesuai dengan Model Dyer, terdapat perbedaan kompetensi yang diharapkan dari peserta didik yang berasal dari bidang ilmu yang berbeda. Misalnya, bidang ilmu yang menuntut banyak gerak motorik akan membutuhkan kompetensi keterampilan yang konkret, mulai dari tingkatan meniru, membiasakan, hingga membentuk gerakan orisinal. Lain halnya dengan keterampilan yang perseptual atau abstrak, yang lebih membutuhkan keterampilan menyusun, merencanakan, hingga melaporkan suatu hal.

Mengapa ketiga domain ini penting? Pengetahuan, sikap, serta keterampilan harus dimiliki sehingga setiap lulusan yang dihasilkan memiliki potensi untuk mencapai prestasi dan terbebas dari berbagai masalah dalam masyarakat. Meskipun tingkatan-tingkatan kompetensi ini telah disesuaikan dengan proses dan hasil yang ingin dicapai dari proses pendidikan jenjang tertentu, namun kompetensi dapat ditingkatkan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh institusi, peserta didik, dan dosen sebagai tenaga pengajar.

Dengan tercapainya kompetensi-kompetensi seperti yang dirancang dalam Taksonomi Bloom, diharapkan sarjana Indonesia memiliki kemampuan, tidak hanya sebagai seorang yang paham dan dapat menggunakan teknologi, namun dapat menganalisis, mengevaluasi, bahkan mengkreasikan hal-hal baru. Hal ini juga mendorong dosen untuk mampu “mengaktifkan” mahasiswa lewat aktivitas pengajaran yang menarik dan bermanfaat, sehingga potensi mahasiswa, seperti kemampuan bicara, kepercayaan diri, serta ragam pengetahuannya, akan semakin berkembang.