Home / Alumni / Start-Up Fest Hadirkan Inovasi dalam Kewirausahaan

Start-Up Fest Hadirkan Inovasi dalam Kewirausahaan

Sebagai bagian dari kurikulum pembelajarannya, Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (IAB Unpar) menyelenggarakan mata kuliah Simulasi Bisnis (Simbis). Simbis merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mempelajari pengembangan model bisnis serupa wirausahawan, dimulai dari merancang model bisnis dan target, hingga pemasaran kepada masyarakat luas.

Tahun ini, para mahasiswa berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pasar dalam kegiatan Start-Up Fest 2018. Kegiatan ini berlangsung di Cihampelas Walk (Ciwalk) selama dua hari, pada Sabtu dan Minggu, 21 hingga 22 April 2018. Selain pameran produk kewirausahaan, diselenggarakan pula kompetisi rencana bisnis (business plan), gelar wicara, lomba peragaan busana, serta penampilan dari mahasiswa.

Ditemui Tim Publikasi pada Sabtu (21/4), ketua panitia sekaligus dosen IAB, Angela Caroline, menjelaskan bahwa Start-Up Fest menjadi wadah eksplorasi rancangan bisnis mahasiswa, apakah sesuai dengan pasar yang ada. Kegiatan ini lanjutnya, “Juga mempersiapkan mereka untuk bersaing di industri sesungguhnya.”

Sebanyak 54 tenant dari lima kelas dan dua stan berisi purwarupa bisnis yang dibuat oleh siswa-siswi dari lima SMA di Kota Bandung memenuhi ruang terbuka di tengah-tengah pusat perbelanjaan tersebut. Usaha mahasiswa, kata Angela, “terbagi dalam lima sektor: sektor jasa, fashion, kreatif, kuliner, dan social entrepreneur.”

Munculnya wirausahawan sosial

Salah satu yang menarik perhatian adalah sederetan stan yang memamerkan produk yang khas dibandingkan usaha lain. Para wirausahawan muda Unpar ini merupakan wirausahawan sosial (social entrepreneur). Berbagai produk yang mereka tawarkan memiliki arti dan nilainya tersendiri.

Misalnya, produk wadah minuman (tumbler) yang dihiasi gambar yang dibuat oleh anak-anak sebagai bentuk dukungan terhadap pentingnya Hak Anak. Tumbler ini dihasilkan oleh siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kota Bandung.  Ada pula mahasiswa yang ingin membangun kesadaran akan pentingnya menghargai dan mencintai diri apa adanya, salah satunya dengan cemilan sehat yang mereka jual.

Angela menjelaskan bahwa tren wirausaha sosial ini khas karena dalam menghasilkan suatu produk, mereka menambah nilai dari produk tersebut dengan cara bekerja sama, biasanya dengan yayasan sosial maupun pihak eksternal yang memiliki isu atau permasalahan tertentu. “Selain daripada mereka menjual barang, mereka pun mendonasikan sebagian pendapatan mereka untuk yayasan itu,” jelasnya.

Mengembangkan bisnis

Tidak semua mahasiswa yang mengikuti Simbis belum pernah memiliki pengalaman dalam berwirausaha. Bagi sebagian peserta, tutur Daniel Hermawan selaku dosen IAB, simbis menjadi wadah pembelajaran bagi pengembangan usaha yang telah mereka rintis sebelumnya. Namun di sisi lain, mata kuliah simbis juga memberikan pembelajaran penting bagi mereka yang memulai bisnisnya dari nol. “Mata kuliah simbis ini menjadi metode bagi mahasiswa untuk berani memulai usaha,” kata Daniel.

Panitia berharap Simulasi Bisnis mampu mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan diri dan bisnis yang mereka rinitis saat ini. “Diharapkan dengan acara ini mereka lebih bisa lagi untuk mengeksplorasi kemampuan bisnis mereka,” kata Angela. Di sisi lain, Daniel berharap agar bisnis yang telah dimulai mampu dikembangkan, bahkan setelah para mahasiswa lulus dari Unpar. “Nantinya bukan berhenti di sini bisnisnya namun juga berkelanjutan,” pungkasnya.