Home / Berita Terkini / Sisi Teknis Bitcoin, dalam Bahasa Sederhana

Sisi Teknis Bitcoin, dalam Bahasa Sederhana

Bitcoin, beserta mata uang kriptografis (cryptocurrency) lainnya banyak menjadi bahan perbincangan selama beberapa tahun terakhir. Mata uang yang pada awalnya hanya digunakan oleh kalangan computer geeks sekarang juga banyak digunakan oleh publik sebagai sarana investasi maupun spekulasi. Artikel ini akan mencoba mengupas teknis cara kerja bitcoin, dalam bahasa yang (semoga) mudah dipahami.

Bitcoin bekerja secara terdesentralisasi. Artinya, tidak ada satu pihak yang punya kuasa mutlak mengatur transaksi bitcoin, melainkan merupakan kesepakatan dari seluruh penggunanya. Hal ini berbeda dengan alat transaksi elektronik lainnya, seperti kartu kredit. Jika penjual gagal memberikan barang/jasa yang Anda butuhkan setelah Anda menggesek kartu kredit berlogo Visa, Anda dapat meminta Visa untuk menarik kembali dana Anda (atau membantu menyelesaikan perselisihan antara Anda dan penjual). Untuk jaminan inilah, Visa mengutip biaya jasa. Pada sistem bitcoin, tidak ada peran pengatur sekuat Visa, sehingga biaya jasa transaksi dapat ditekan walaupun tidak hilang sama sekali.

Jika tidak ada penengah, bagaimana kita dapat bertransaksi dengan aman menggunakan bitcoin? Pertama-tama, kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan bitcoin adalah sebuah buku besar (ledger) yang mencatat setiap transaksi yang terjadi antar seluruh partisipan bitcoin. Buku besar ini direplikasi ke setiap entitas yang berpartisipasi dalam transaksi bitcoin. Sebagai contoh, jika Anda berpartisipasi menggunakan bitcoin, maka akan ada pencatatan seperti “Transaksi dari Alice ke Bob sebesar 1 BTC (satuan bitcoin) pada tanggal 16 April 2018” di dalam replika buku besar yang Anda miliki, walaupun Anda tidak mengenal Alice maupun Bob. Untuk alasan privasi, tentu saja nama Alice dan Bob tidak dicatat apa adanya, melainkan dengan kode tertentu yang mewakili kedua pihak tersebut. Jika seandainya terjadi perselisihan antara pihak pengirim dan penerima dana, maka buku besar yang tereplikasi inilah yang dilihat.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mempercayai buku besar tersebut? Karena saya memiliki replika buku besar tersebut, bisa saja saya mengubah isinya menjadi “Transaksi Alice ke Bob sebesar 2 BTC”. Dalam dunia kriptografi, terdapat proses yang dinamakan “tanda tangan dijital”. Fungsinya seperti tanda tangan di dunia nyata, hanya saja secara elektronik. Secara matematis, jika Alice menandatangani sesuatu secara dijital, bisa dibuktikan bahwa Alice sendiri yang melakukannya dan bukan oleh pihak lain. Pada transaksi dari Alice ke Bob di atas, Alice membubuhkan tanda tangan dijitalnya. Artinya, hanya Alice yang bisa menginisiasi transaksi dari Alice tersebut, bukan oleh orang lain.

Tanda tangan dijital Alice mencegah pihak lain menghabiskan dana Alice tanpa persetujuan yang bersangkutan. Masih ada masalah lain, yaitu double spending. Alice yang hanya memiliki 1 BTC bisa saja mentransfer 1 BTC ke Bob, dan 1 BTC lagi ke Charlie pada waktu yang berdekatan, dan keduanya baru menyadari belakangan bahwa Alice sebenarnya tidak punya cukup bitcoin kepada mereka berdua. Di sinilah peran seorang penambang bitcoin (miner) muncul.

Seorang miner sebenarnya sama derajatnya dengan entitas pengguna bitcoin lainnya, tetapi mereka melakukan beberapa pekerjaan khusus. Salah satu pekerjaannya adalah memastikan tidak terjadi double spending. Dengan kata lain, miner memastikan keterurutan transaksi (Apakah Alice mentransfer Bob atau Charlie terlebih dahulu?) dan tentu saja validitas nya (Alice tidak bisa mentransfer Charlie, setelah menghabiskan bitcoinnya pada Bob). Yang pasti, miner akan mendapatkan insentif berupa bitcoin dari pekerjaan ini.

Insentif pertama datang tentu saja dari Alice dan Bob, karena miner telah membantu memverifikasi transaksi kedua belah pihak. Insentif kedua datang dari bitcoin baru yang dibangkitkan (generated), atau dengan istilah lain ditambang (mined). Dari sinilah istilah miner muncul.

Untuk mendapatkan kedua insentif tersebut, seorang miner hanya harus membuktikan bahwa dirinya telah “bekerja keras” (diistilahkan sebagai proof of work). Lagi-lagi kita perlu mengenali sebuah teknik dalam dunia kriptografi. Cryptographic hashing adalah proses meringkas sebuah pesan dijital menjadi sekumpulan data dengan panjang yang konstan (disebut sebagai hash). Misalnya, pesan seukuran 100 kilobyte diringkas menjadi 512 byte saja. Pesan lain berukuran 200 kilobyte juga akan diringkas menjadi 512 byte. Syarat sebuah cryptographic hash adalah, dari sebuah pesan panjang tersebut, relatif mudah untuk menghitung hash nya. Tetapi jika yang diketahui hash nya, akan sulit untuk mencari pesan panjang yang cocok. Proof of work yang dimaksud di atas, adalah mencari sebuah hash dengan n bit (bit adalah satuan terkecil pada pesan dijital) pertamanya berupa angka “0”. Nilai n disesuaikan dengan jumlah bitcoin yang ada di dunia., dan berpengaruh terhadap tingkat kesulitan membuat proof of work. Miner yang sudah membuktikan dirinya telah “bekerja keras” sesuai aturan di atas, dipercaya sebagai pihak yang mampu memverifikasi transaksi Alice dan Bob tadi.

Masih banyak hal detail lain dari sistem bitcoin, tetapi jika semuanya dijelaskan di sini akan menjadi artikel yang cukup rumit. Walau begitu, dari penjelasan di atas diharapkan sudah terlihat beberapa konsekuensi dari penggunaan bitcoin. Hal yang menurut penulis paling penting adalah bahwa bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik. Nilai hash dengan n bit pertamanya bernilai “0” tidak ada artinya sama sekali, jika sistem bitcoin sudah ditinggalkan penggunanya. Hal ini berbeda dengan emas, misalnya, di mana jika emas tidak lagi diperdagangkan, masih dapat diolah untuk berbagai kebutuhan seperti pembuatan perangkat elektronik atau kesehatan. Akibatnya, nilai dari bitcoin sangat bergantung dari spekulasi pasar, dan (saat artikel ini ditulis) penggunaannya dilarang oleh Bank Indonesia (https://www.bi.go.id/id/peraturan/sistem-pembayaran/Pages/pbi_184016.aspx).

Penulis:

Pascal Alfadian Nugroho, S.Kom, M.Comp

Dosen Informatika Unpar