Home / Berita Terkini / Sinergi Mahasiswa Unpar Kembangkan UKM dan Komunitas

Sinergi Mahasiswa Unpar Kembangkan UKM dan Komunitas

Proses belajar sebagai mahasiswa identik dengan kegiatan perkuliahan. Padahal kegiatan perkuliahan yang berkutat pada pengembangan hard skill bukan satu-satunya proses pembelajaran dan pengembangan diri mahasiswa. Pengembangan  diri di luar perkuliahan sangat kentara dalam kehidupan akademis mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Berbagai organisasi minat dan bakat pun bermunculan sebagai wadah kreativitas mahasiswa, khususnya dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta Komunitas.

“Kita sebagai mahasiswa nggak bisa terfokus sama satu hal, yaitu hard skill.” Itulah sekelumit pandangan Christophorus Romy Putro Aji, Direktur Jenderal UKM dan Komunitas, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar. Dalam wawancara dengan Tim Publikasi, Christo menegaskan soft skill mahasiswa adalah hal yang harus dikembangkan secara seimbang bersama dengan hard skill.

Apa bedanya?

“UKM dan komunitas berbeda hanya di posisi mereka di PM Unpar,” jelas Christo. UKM, lanjutnya, secara resmi diakui dan tergabung dalam PM Unpar, sedangkan komunitas belum ‘dianggap’ keberadaannya meski telah menjamur dalam masyarakat Unpar. Namun, dalam perkembangannya, komunitas di Unpar dapat pula mengajukan diri sebagai UKM. “Komunitas itu sebenarnya tahapan terakhir untuk sebuah organisasi kemahasiswaan menjadi UKM,” tambahnya.

Saat ini, LKM Unpar menaungi 26 UKM dan 14 komunitas terdaftar. UKM dan komunitas Unpar ini juga berpartisipasi dalam acara Expo UKM dan komunitas yang diadakan pada pertengahan Agustus lalu. Meski berbeda tingkatan, organisasi kemahasiswaan tersebut memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan diri mahasiswa. Seperti yang dikatakan Christo, “UKM dan komunitas ini membantu kita memfasilitasi mahasiswa dalam segi soft skill-nya itu.”

Kontribusi mahasiswa

Lazim disebutkan bahwa UKM dan komunitas penting bagi pengembangan diri mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa pun memiliki peran penting dalam pengembangan UKM serta komunitas. Christo mencontohkan prestasi yang diraih oleh UKM Alligators dalam LIMA Jawa Barat yang tidak lepas dari kerja keras atlet mahasiswa Parahyangan. “UKM Basket Alligator (kini) menjadi salah satu UKM Basket yang terkemuka di Indonesia,” ungkapnya.

Tentu saja kreativitas mahasiswa tidak dapat dibendung dalam beberapa organisasi semata. Ada kalanya mahasiswa ingin berkreasi dalam wadahnya sendiri, misalnya dengan membentuk komunitas sendiri. “Mereka hanya perlu mengumpulkan orang, berkumpul dan melakukan kegiatan bersama; itu bisa dihitung sebagai komunitas,” katanya. Apalagi, kini LKM Unpar terus meningkatkan dukungan bagi UKM dan komunitas kemahasiswaan, khususnya dalam bentuk pengakuan atas eksistensi dari pihak universitas.

Hadapi tantangan

Christo tidak menampik keberadaan tantangan bagi pengembangan UKM dan komunitas. Salah satunya adalah partisipasi aktif mahasiswa. “Masalah seperti itu jadi masalah bagi semua UKM dan komunitas,” ujarnya. Tantangan ini salah satunya dijawab melalui kegiatan yang berkesinambungan sehingga mahasiswa dapat terus berkembang.

Seiring dengan dukungan yang diberikan oleh Unpar seperti yang diungkapkan oleh Rektor Mangadar Situmorang PhD beberapa waktu lalu, Christo berharap agar LKM, UKM, dan komunitas mampu bersinergi dalam pengembangan diri mahasiswa. “Harapannya adalah mereka (UKM dan komunitas) bisa kooperatif dengan LKM,” tuturnya, sehingga organisasi mahasiswa mampu menghadapi tantangan dalam meningkatkan soft skill mahasiswa.