Home / Alumni / Sindu: Rupaan Insan Unpar, Harapan bagi Indonesia

Sindu: Rupaan Insan Unpar, Harapan bagi Indonesia

Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro selaku ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) pernah berkata bahwa diharapkan suatu saat nanti akreditasi lembaga pendidikan tinggi tidak hanya dilihat dari sudut pandang positivis dan eksakta yang mengacu pada angka. Hal tersebut beliau sampaikan dalam Diskusi Penyusunan Rencana Pengembangan Jangka Panjang dan Rencana Induk Pengembangan Unpar, pada (9/7) lalu di Operation Room Rektorat Unpar.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) melalui Sindu atau Spiritualitas dan Nilai Dasar Unpar berupaya untuk menanamkan nilai-nilai Sindu ke dalam jiwa mahasiswa, terutama para peserta tahun ajaran baru. Pembelajaran dan penanaman nilai-nilai Sindu selalu dilaksanakan pada hari pertama rangkaian SIAP-orientasi studi dan pengenalan kampus Unpar.

Dibuka dengan upacara bendera dan beberapa ritual simbolis seperti penyerahan jas almamater bagi beberapa mahasiswa, tahun 2018 ini, penyelenggara acara mengadakan satu kegiatan unik yaitu flashmob kebangsaan yang dibuka dengan orasi satir tentang generasi milenial. Dilanjutkan dengan tarian yang diikuti segenap peserta dan jajaran panitia yang diiringi medley lagu perjuangan dan lagu daerah. Hal ini dimaksudkan sebagai pengenalan kembali lagu-lagu patriotik serta khas etnik Indonesia.

Sindu yang juga berakar pada pemikiran dari Mgr. Arntz dan Mgr. Geise selaku pendiri Unpar menekankan pada keseimbangan antar berbagai faktor. Beberapa nilai yang diusung oleh Unpar, yakni Bhinneka Tunggal Ika, Caritas et Veritae (Cinta kasih dalam Kebenaran), dan Humanum Religiosum (Kemanusiaan yang Utuh). Hal-hal tersebut disampaikan oleh para fasilitator selama ospek hari pertama yang menekankan pada analisis diri sendiri dan kemungkinan bentuk untuk dipraktikkan di dalam kampus.

“Kita itu sebenarnya (memiliki) jauh lebih banyak mahasiswa yang (asalnya) dari luar Pulau Jawa. Singkatnya, Unpar itu sudah seperti Indonesia versi mini,” ujar Andreas Doweng Bolo, salah satu fasilitator dan anggota Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) Unpar yang mengkaji dan mengembangkan Sindu.

Beragam kegiatan interaktif dan komunikatif serta dinamis menjadi metode untuk memperkenalkan konsep-konsep keberagaman dan nasionalisme kepada para mahasiswa baru. Pembelajaran pun tidak menyuapi mahasiswa baru dengan konsep-konsep yang kaku. Salah satu fasilitator, Sylvia Yazid menggiring mahasiswa baru untuk bersikap kritis dan mengkontekstualisasikan hal-hal yang mereka pelajari. Contohnya, adalah ketika membahas sikap kebhinekaan dan nasionalisme, salah satu mahasiswi mengatakan bahwa kita harus selalu menempatkan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri.

Sylvia merespons pernyataan tersebut dengan sebuah pertanyaan. “Bagaimana kalau urusan pribadi saya lebih urgent (mendesak) daripada kepentingan bersama yang bisa ditunda? Apakah saya harus mengalah pada kepentingan bersama pada kondisi apapun?,” ujarnya pada mahasiswi tersebut yang kembali memikirkan hal tersebut lebih dalam.

“Nasionalisme dan kebersamaan memang penting, tetapi berpikir kritis dan memahami konteks tersebut juga penting untuk menentukan prioritas,” jelas Sylvia. Selain itu, yang unik adalah untuk menyimbolkan kepekaan akan keberagaman budaya di Indonesia, setiap fasilitator yang memperkenalkan Sindu kepada mahasiswa baru mengenakan atribut tradisional pada pakaian mereka.

Dengan pendidikan tersebut, diharapkan Sindu dapat terus dihayati oleh para mahasiswa selama mereka menempuh pendidikan di Unpar. Pemikiran Sindu yang seimbang antara etnis, religius serta nasionalis diharapkan pula membentuk mereka dan membimbing mahasiswa ketika lulus sebagai bagian dari masyarakat yang hidup sesuai prinsip-prinsip Sindu serta diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.