Home / Berita Terkini / Seri Webinar FTIS UNPAR Membahas “Kenapa Kita Ada?”

Seri Webinar FTIS UNPAR Membahas “Kenapa Kita Ada?”

Jurusan Fisika Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS UNPAR) kembali menggelar Seri Webinar berjudul “Kenapa Kita Ada?: Konstanta yang Satu Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Trilun Kali Terlalu Kecil” pada Kamis (6/8/2020). Kegiatan ini mengundang Reinald Primulando yang merupakan Dosen Fisika UNPAR sebagai pembicara. 

Fisika merupakan cabang ilmu yang sangat prediktif. Karenanya fisika merupakan dasar dari pengembangan teknologi. Karena kita tahu bagaimana sifat sebuah sistem fisis, kita dapat memanipulasinya untuk keperluan teknologi. Namun ketika diaplikasikan ke sistem alam semesta keseluruhan, prediksi fisika terlihat sangat aneh.

Konstanta Kosmologi

Terdapat sebuah konstanta, yang dikenal dengan konstanta kosmologi, yang jika angkanya normal maka umur alam semesta sangat pendek, atau alam semesta akan tercabik-cabik sehingga kehidupan tidak pernah akan ada. Alam semesta yang kita punyai memiliki konstanta kosmologi yang sangat kecil dari angka yang “wajar.”

Hal ini membuat para fisikawan terheran-heran dan berhipotesis bahwa ada misteri yang lebih besar yang kita belum ketahui jawabannya untuk menjawab kenapa nilai konstanta ini sangat kecil. Dalam webinar ini dibahas secara populer berbagai aspek dari konstanta kosmologi ini.

Judul yang diangkat memang tampak unik dan aneh. Namun memang dalam dunia Fisika, hal ini merupakan pertanyaan besar. Sebelumnya Reinald Primulando juga pernah membahas Big Question in Physics pada acara DIES FTIS 2018 dengan judul “Alam Semesta di Ujung Tanduk” dan Kuliah Sore Sains FMIPA ITB dengan judul “Why is There Stuff?”.

Fisika yang Istimewa

Dalam bidang bahasa pola dari pembelajarannya dapat diketahui. Contohnya sebagian besar kosa kata yang bersifat tunggal ingin diubah menjadi jamak maka hanya perlu menambahkan ‘-s’ di kosa kata tersebut. Tetapi di beberapa kata lainnya terdapat banyak pengecualian yang beragam dan semakin kompleks. Lain dengan Fisika, rulenya bersifat fundamental, jelas, dan hampir tidak ada pengecualian di dalamnya. Contohnya pensil yang terjatuh dalam segala kondisi pasti  akan mengarah ke tanah dan kondisinya dapat dihitung. 

Fisika sangat berhubungan dengan angka karena prediksinya sangat kuantitatif. Angka ini harus dibuktikan pula dengan pengamatan atau eksperimen. Jika ingin menerbangkan suatu roket ke luar angkasa tentu harus dihitung terlebih dahulu banyak energi, bahan bakar, dimensi, dan faktor lainnya sebagai prediksi agar roket tersebut dapat sampai dengan selamat.

Newton dapat membuat suatu hukum gravitasi yang dapat menjelaskan pergerakan planet, bulan, dan pensil yang jatuh di contoh sebelumnya. Hukum gravitasi dicetuskan pada tahun 1687 dan sangat akurat menjelaskan orbit planet kecuali planet Uranus (1846) dan planet Merkurius (1859). Pengecualian ini membuat prediksi Newton tidak sesuai dengan pengamatan karena perbedaannya dengan planet Uranus hingga 16 detik dan Merkurius 40 detik/abad. Ternyata setelah diselidiki ada faktor yang menyebabkan hal tersebut yakni planet Neptunus menarik planet Uranus. 

Lain halnya dengan planet Merkurius, perihelion Merkurius bergeser terus menerus. Disinilah Einstein mencetuskan Teori Relativitas Umum pada tahun 1915 yang mampu menjelaskan dengan akurat orbit Merkurius.

Theory of Everything

Hingga detik ini para fisikawan belum menemukan jawaban mengenai konstanta kosmologi. Tetapi jika sudah ditemukan suatu hari nanti maka teori tersebut akan dinamakan “Theory of Everything”. Solusi ini mungkin saja akan membawa percepatan dan perubahan besar dalam bidang teknologi. Reinald di situs literatur fisika tingkat tinggi menemukan kata kunci ‘cosmological constant problem’  di 2034 paper yang sudah di publish

Namun dari sekian banyak paper belum ada yang menemukan konstanta tersebut dan para peneliti masih dalam progress penelitian. Tentu hal ini dapat menjadi tantangan bagi para fisikawan dan akademisi lain untuk menemukan konstanta kosmologi yang mungkin akan berguna dan berdampak bagi dunia. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)